Senin, 20 Desember 2010

Pondok Ban Tan & Dr. Surin Pitsuwan

Sumber : http://ferizalramli.wordpress.com/excellent/
Oleh : Anies R. Baswedan

From: “anies baswedan” Date: 5 October 2010 6:06:26 PM AWST

Ya Nabi salam alaika
Ya Rasul salam alaika
Ya habibie salam alaika
Shalawatullah alaika

Sekitar 1,000 anak-anak menghampar di lapang rumput depan pondok. Lautan kerudung dan peci putih, melafalkan shalawat, khusuk dan menggema.

Suasana pondok Pesantren Ban Tan malam ini terasa unik. Pondok kecil ini dibangun di pedalaman Thailand Selatan. Utk mencapai-nya harus terbang dari Bangkok, jaraknya sekitar 750 km ke kota kecil Nakhon Si Thammarat lalu dari airport yang mungil itu, naik mobil kira2 satu jam. Masuk di tengah2 desa-desa dan perkampungan umat Budha, disitu berdiri Pondok Ban Tan. Dibangun awal 1900, dengan beberapa orang murid. Niatnya sederhana, menjaga aqidah umat Islam yg tersebar di kampung2 yang mayoritas penduduknya beragama Budha.

Malam itu, melihat wajah anak-anak pondok, seperti kita sedang menatap masa depan. Anak-anak yang dititipkan orang tua-nya untuk sekolah ke Pondok, untuk menjaga KeIslaman, untuk menjaga sejarah kehadiran Islam di kerajaan Budha ini. Di propinsi ini kehadirannya penuh nuansa damai. Sebuah tradisi yang harus dijaga terus.

Malam ini, setelah berliku perjalanannya, seakan jadi salah satu event puncak utk keluarga pengasuh pondok ini. Di awal tahun 1967 terjadi perdebatan panjang diantara para guru di Pondok ini. Anak tertua Haji Ismail, pemimpin pondok ini, jadi bahan perdebatan. Anak usia 17 tahun itu memenangkan bea-siswa AFS untuk sekolah SMA setahun di Amerika Serikat. Pondok Ban Tan seakan goyah. Tak terbayangkan bagi mereka, dari perkampungan Muslim yang kecil, jauh dari keramaian, dan di pedalaman Thailand di tahun 1960an, cucu tertua pendiri Pondok akan dikirimkan ke Amerika. Umumnya santri-santri cerdas dikirim melanjutkan sekolah ke Jawa atau Kedah atau Kelantan; jika ada dana mereka akan dikirim ke Makkah atau Mesir. Tapi Amerika ?!?; tidak pernah terlintas di benak mereka akan mengirim santri belajar ke Amerika. Saat itu para guru di pondok terpecah pandangannya: separoh takut anak ini akan berubah bila dikirim ke negeri kufar (istilah yang digunakan dalam perdebatan itu), mereka ti dak ingin kehilangan anak cerdas itu.

Setelah perdebatan panjang, Si Kakek, pendiri Pondok itu, mengatakan, “saya sudah didik cucu saya ini, saya percaya dia istiqomah dan saya ikhlas jika dia berangkat”. Ruang musyawarah di pondok yang tanpa listrik itu jadi senyap. Tidak ada yang berani melawan fatwa Sang Guru. Haji Ismail, sang ayah, mengangguk setuju. Tidak lama kemudian berangkatlah anak muda tadi ke Amerika.

Tahun demi tahun lewat. Dan dugaan guru-guru Pondok itu terjadi benar: anak itu tidak pernah kembali jadi guru atau jadi pengelola Pondok. Dia tidak meneruskan mengelola warisan kakek dan ayahnya itu. Dia pergi jauh. Anak muda itu terlempar ke orbit lain.

Malam ini anak yang dulu diperdebatkan itu pulang. Dia pulang bukan sebagai orang asing, dia pulang membawa kebanggaan untuk seluruh keluarga, seluruh pondok dan seluruh rakyat di propinsi kecil ini.

Dia pulang sebagai Sekretaris Jendral ASEAN. Pondok Ban Tan jadi terkenal, kampung halaman jadi perhatian dunia. Sebelumnya dia adalah Menteri Luar Negeri Thailand, muslim pertama yang jadi Menlu di Negara berpenduduk mayoritas Budha.

Namanya dikenal oleh dunia sebagai Surin Pitsuwan; dikampungnya dia dikenal sebagai Abdul Halim bin Ismail.

Malam ini Surin pulang kampung membawa teman dan koleganya. Sekarang seluruh bangunan Pondok ini nampak megah. Setiap bangunan adalah dukungan dari berbagai negara. Anak ini pulang dengan membawa dukungan dunia utk Pondok mungil di pedalaman ini. 10 orang adiknya (dari satu ayah-ibu) menjadi guru, meneruskan tradisi dakwah di kampung halamannya.

Saya menyaksikan bahwa sesungguhnya, Surin selalu “hadir” disini, dia membawa dunia. Dia menjadi jembatan lintas peradaban, dia jadi duta Muslim Thailand di dunia.

Dia tidak pernah hilang seperti diduga guru-gurunya. Dia masih persis seperti kata Kakeknya. Sejak pertama kali saya ngobrol dengan Surin Pitsuwan, 3 tahun lalu di Hanoi, tutur kata dan pikirannya seakan mengatakan: isyhadu bi ana muslimin.

Ramadhan kemarin, saat kita makan malam -Ifthar bersama- di Bangkok, Surin cerita tentang conference di Walailak University dan ingin undang ke Pondoknya awal Oktober. Saya jawab tidak bisa karena ada rencana acara di Bandung. Sesudah itu, dia kirim beberapa sms meyakinkan bahwa ke “Ban-Tan” lebih utama daripada ke “Ban-Dung”.

Malam ini, duduk di Masjid Al-Khalid, bersama ratusan santri, bersyukur rasanya. Merubah jadwal, dari ke Bandung jadi berangkat ke Ban Tan. Saya duduk sholat berjamaah disamping Surin, selesai sholat ratusan tangan mengulur, semua berebut salaman dengannya. Wajah takjub santri-santri itu tidak bisa disembunyikan, mereka semua seakan ingin bisa seperti Surin. Dia seakan jadi visualisasi nyata, dari mimpi-mimpi para santri di kampung kecil di pedalaman Thailand.

Malam itu, di pelataran Pondok Ban Tan dibuatkan panggung utk menyambut. Santri-santri bergantian naik panggung. Mereka ragakan kemahiran bercakap melayu, inggris dan arab. Sebagai puncak acara mereka tampilkan Leke Hulu (Dzikir Hulu). Tradisi tarikat yang sudah dijadikan seni panggung. Seluruh santri ikut berdzikir, gemuruhnya menggetarkan dada.

Besok paginya Syaikhul Islam Thailand, pemimpin Muslim tertinggi di Thailand khusus datang dari Sangklah, kota di sisi selatan, untuk sarapan pagi bersama di Pondoknya. Kita ngobrol panjang dan saya tanya asal keturunannya, karena garis wajahnya unik; dia jawab kakek saya dari Sumatera, tapi dia keturunan Hadramauth.

Hari itu saya bersyukur dan bersyukur. Saya katakan itu pada Surin bahwa ini perjalanan luar biasa. Tapi dia belum puas, Surin panggil salah satu alumni pondoknya (doktor ilmu management) untuk antarkan saya ke Masjid di kampung-kampung pesisir pantai. Surin ingin kenalkan dengan Ulama terkenal asal Minangkabau.

Setelah melewati kampung-kampung dan pasar yang sangat-sangat simpel, saya sampai di rumahnya yang sangat sederhana, di belakang Madrasah yg dipimpinnya. Kita berdiskusi tentang suasana disini, tentang Minang, dan tentang kemajuan. Lalu dia ambil bingkai-bingkai dari lemari, dia tunjukkan beberapa foto-foto orang tuanya, ayahnya dipaksa hijrah dari Maninjau di Ranah Minang karena perlawanan pada Belanda. Kira-kira 90 tahun yang lalu, dia sampai di Thailand Selatan dan jadi guru agama. Mengagumkan, anak-anak muda pemberani memang selalu jadi pilar kokohnya Dinul Islam. Mereka hadir dan hidup berdampingan penuh kedamaian.

Lengkap sudah perjalanan kali ini. Dalam satu rotasi ditemukan dengan komunitas yang kontras. Di Kuala Lumpur, berdialog dengan kalangan bisnis dan politik se ASEAN dengan suasana megah, di Thailand Selatan berdialog dengan kaum Muslim minoritas dengan suasana sederhana, sangat bersahaja.

Sekali lagi kita ditunjukan betapa hebatnya efek pendidikan. Beri fondasi aqidah, bekali dengan modal akhlaqul karimah lalu biarkan anak muda terbang mencari ilmu, membangun network, merajut masa depan. Anak muda tidak takut menyongsong masa depan. Kelak ia akan pulang, menjawab doa ibunya, menjawab doa ayahnya dengan membawa ilmu, membawa manfaat bagi kampung halamannya, bagi negerinya dan bagi umatnya.

Di airport kita berpisah. Saya pulang kampung ke Jakarta dan Surin berangkat ke Brussel, memimpin delegasi para kepala pemerintahan asean dalam Asean-European Summit.

Hari ini anak yang dulu ditakutkan hilang itu akan memimpin delegasi pemimpin se-Asia Tenggara. Dan, pada hari ini juga Ibunya masih tetap tinggal di pondok Ban Tan, berusia 90 tahun lebih, tetap mendoakan anaknya seperti saat melepasnya berangkat sekolah SMA ke Amerika dulu.

Barakallahu lakum . . . .

Just landed in Jakarta; Oct 4, 2010; 00.30 am.(Sekadar catatan pendek, sebuah perjalanan singkat. Ditulis di pesawat dalam perjalanan pulang ke Jakarta)



Selasa, 19 Oktober 2010

Soal Tilang

Mungkin di antara kalian ada yang masih ingat tayangan iklan di TV beberapa waktu silam yang menggambarkan ada seorang cewek sedang naik mobil dan akan putar balik. Dia sudah melihat ada rambu dilarang putar balik. Tapi setelah celingak celinguk kiri kanan depan belakang untuk memastikan tidak ada Polisi, barulah dia berani melanggar rambu itu. Eh, nggak tahunya secara tiba-tiba muncul seorang Polisi Lalu Lintas dari semak-semak dengan pakaian yang mirip dengan pohon. Sepintas polisi tersebut mirip semak belukar berjalan. Pritttt…

Polisi memintanya menepi, lalu pak polisi yang berkumis tebel dan bertambang serem itu tanya “gak lihat rambu ya mbak?”

“Lihat sih… tapi pak polisi yang gak terlihat” sambil cengar cengir.
Nah lo… Taat hanya kalo ada yang jaga. Tanya Kenapa….

Di kehidupan nyata, tak jarang kita menemui para Polisi khususnya dari Satuan Lalu Lintas yang suka sembunyi di semak2 dan muncul secara tiba-tiba untuk menghentikan kita saat kita terlihat melakukan pelanggaran. Baik pelanggaran jenis rambu lalu lintas ataupun markah jalan. Untuk lebih singkatnya, pelanggaran di atas kami sebut dengan garkum rambu dan garkum markah ( istilahnya para Polisi Lalu Lintas ). Garkum singkatan dari Pelanggaran Hukum.

Lho, kok ada hukumnya ? Yup, karena semua rambu2 dan markah jalan di jalan raya di buat dengan hukum sebagai payung yang melindungi tata cara pelaksanaanya di lapangan. Tepatnya UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya. Pembuatan markah dan rambu lalin selalu berpedoman teguh pada hal ini. So, para Polisi juga nggak bisa seenaknya melakukan kewenangannya di jalan raya. Mereka bisa dikenakan pasal lahgun wewenang oleh Polisinya Polisi ( Bid Propam ataupun Unit P3D, orang awam menyebutnya provost). Yup, semua memang ada tata caranya. Ada aturan main yang mengatur bagaimana seharusnya semua ini berjalan.

So, apa yang kalian lakukan seandainya itu menimpa kalian ?

Melarikan diri?
Pura2 gak tahu dan gak merasa bersalah?
atau memelas dan ngasih uang damai ?

Wohoho, yang terakhir jangan deh. Too risky, bisa di tangkap karena berusaha menyuap petugas. So, pilihan satu-satunya ( kalau menurut prosedur sih ) adalah Tilang.

Apa sih tilang itu ?
Tilang adalah singkatan dari Bukti Pelanggaran. Berbentuk seperti kertas berwarna merah ( umumnya yang kita dapat dari Polisi saat kita melakukan pelanggaran ) yang berisi isian berupa nama kita, no sim kita, jenis pelanggaran yang kita lakukan, tempat terjadinya tindak pelanggaran, tanggal dan waktu terjadinya pelanggaran, serta nama + pangkat Polisi yang memberikan selembar kertas berwarna merah / pink itu pada kita.

Semua Polisi Lalu Lintas berhak untuk menghentikan suatu kendaraan yang dianggap melakukan suatu tindak pelanggaran baik rambu2 lalin, markah jalan, maupun terlibat dalam suatu aksi kriminalitas untuk dilakukan pemeriksaan atas kendaraan+pengendara yang bersangkutan. Dan melakukan tindakan berupa pemberian sanksi berupa Tilang maupun penangkapan dan penahanan kepada pengendara beserta kendaraan yang di kemudikannya demi kelancaran proses penegakan hukum.

Form Tilang terdiri dari beberapa lembar yang berbeda warna.
Yang biasa kita terima adalah kertas berwarna merah / pink untuk kemudian di proses melalui pengadilan setempat dan membayar sejumlah denda kepada Negara sebagai sanksi atas kelalaian kita melakukan pelanggaran Lalu Lintas. Waduh, capek dan nggak ada waktu ke Pengadilan nih… Nggak salah sebagian besar dari kita selalu memilih opsi memberikan Uang Damai kepada petugas yang bersangkutan karena alasan klasik tsb.
Nah, tahukah kalian kalau selain form tilang warna merah, kita bisa juga mendapatkan form warna biru ? Lho… perasaan dari dulu kena tilang nggak pernah dikasih form warna biru deh.

BEDA FORM TILANG WARNA MERAH DAN BIRU
Form tilang yang di serahkan pada kita sebagai bukti bahwa kita telah melakukan pelanggaran berlalu lintas ( juga berfungsi sebagai undangan untuk datang ke Pengadilan buat ngebayar denda + ngambil SIM atau STNK kita yang di tahan pak Polisi sekaligus sebagai Tanda Terima bahwa SIM atau STNK kita telah di sita oleh Pak Polisi ) sebenarnya ada dua warna. Satu berwarna merah dan lainnya berwarna biru.

Form Tilang berwarna merah diberikan kepada kita saat kita melakukan pelanggaran dalam berlalu lintas tapi kita bersikeras tidak mau mengakui kesalahan kita.
Sedangkan Form Tilang warna biru diberikan kepada kita saat kita melakukan pelanggaran dalam berlalu lintas tapi kita tahu, sadar dan bersedia mengakui kesalahan kita.
Karena berbeda warna, berbeda pula proses hukumnya.

Form Tilang warna merah mengharuskan kita datang ke Pengadilan setempat untuk membayar sejumlah denda sesuai dengan jenis pelanggaran yang kita buat. Setelah membayar sejumlah denda, barulah kita mendapatkan SIM ataupun STNK kita kembali yang tadinya di Sita ama Pak Polisi karena kita melakukan pelanggaran. Nah, karena kita nggak merasa bersalah, kita berhak untuk melakukan bantahan2 di pengadilan sebagai upaya pembelaan diri kita. So, apabila tidak terbukti bersalah gimana ? SIM ataupun STNK kita yang di sita ama Pak Polisi akan di kembalikan kepada kita dan kita dibebaskan dari denda sepeserpun. Tapi kalau terbukti bersalah gimana ? Ya udah, bayar aja tuh denda dan SIM atau STNK kita yang disita ama Pak Polisi akan langsung di kembalikan lagi ke kita begitu kita selesai melunasi dendanya. Namun pada penerapannya seringkali kita hanya melakukan pembayaran saja tanpa ada upaya pembelaan.

Form Tilang warna biru tetap mengharuskan kita membayar denda tapi tidak ke pengadilan, melainkan ke Bank BNI atau BRI terdekat. Ntar setelah membayar sejumlah denda pada Bank tsb, kita akan menerima resi sebagai bukti pelunasan pembayaran denda yang akan kita tukarkan dengan SIM ataupun STNK kita yang di sita oleh Pak Polisi tadi. Namun biasanya Pak Polisinya kan keburu pergi ( tiap polisi lalu lintas punya jadwal rotasi pos tiap beberapa jam ), maka kita bisa ambil tuh SIM atau STNK kita pada Polsek yang ada di wilayah kita kena Tilang. Biasanya sih di Form Birunya di tulis nama dan alamat Polseknya. Atau jika kita bayarnya cepat, bisa langsung di ambil di tempat dimana kita kena tilang tadi ( pada Polisi yang sama tentunya ).
Contoh : kalian kena tilang di Layang Mayangkara depan Royal Plaza, Surabaya ( para Polisi menyebutnya Pos Layang Selatan ) karena melanggar markah jalan. Maka jika diberi form warna biru kita harus ngambil ke Polsek Wonokromo karena wilayah dimana kita kena tilang masuk dalam wilayah hukum Polsek Wonokromo.
Trus, kalau nggak di kasih form warna biru gimana dunk ?

MINTA AJA !!!

Itu memang hak kita jika KITA TAHU AKAN KESALAHAN KITA DAN MENGAKUI JENIS PELANGGARAN YANG KITA LAKUKAN.
Kalau tidak, jangan coba2 deh…
Karena hampir sebagian besar polisi lalu lintas bakal marah kalau kalian meminta form biru tapi di awal2 kalian tidak tahu dan tidak mau mengakui kesalahan yang kalian lakukan.

Form biru tidak berlaku jika…
saat itu sedang diadakan giat 21 ( istilah polisi untuk Razia atau Operasi kelengkapan Surat2 kendaraan Bermotor / handak / maupun multisasaran ).
Jadi ada benarnya juga jika tuh Polisi bilang bahwa Form Biru tidak berlaku saat diadakan Razia / Operasi. Namun jangan2 tuh Polisi juga ngawur ( untuk nutupin kesalahannya ), karena dalam penyelenggaraan suatu Razia atau Operasi,harus ada seorang polisi yang bertugas sebagai Padal ( Perwira Pengendali ) dengan pangkat minimal aiptu. Sang Padal ini bertanggung jawab langsung kepada Puskodalops ( Pusat Komando Pengendalian & Operasional ) ataupun kepada Kasatlantas wilayah tempat dia berdinas. Selain itu dalam sebuah razia atau operasi harus ada Surat Keterangan Pelaksanaan Kegiatan dari komandan yang bersangkutan ( dalam hal ini Bapak Kasatlantas ataupun Wakasatlantas ) yang berisi : Tempat, hari, tanggal, jam, durasi pelaksanaan, target pelaksanaan operasi, penanggungjawab operasi ( nama sang Padal ), daftar nama anggota yang melaksanakan operasi pada hari itu, dan yang memberi ijin pelaksanaan operasi tersebut.

Kalau di Lalu Lintas sih namanya Operasi Zebra ( nggak pakai Cross lho… ).
Kisah diatas merupakan cerita dari teman SD penulis yang sekarang bertugas di Kepolisian. Identitas kami rahasiakan karena atas permintaan yang bersangkutan. Semoga Allah membalas kebaikannya.

Dari Milis sebelah.

Senin, 18 Oktober 2010

Bayi Ini Dibekukan Sampai Mati Agar Selamat

Pembuluh darah yang mengalir ke jantungnya terhubung dengan cara yang salah.
VIVANEWS.COM, SENIN, 18 OKTOBER 2010, 06:27 WIB

VIVAnews - Bayi bernama Samaa Zohir baru berusia sebulan saat dokter memutuskan ia harus dioperasi, jika tidak akibatnya bisa fatal: maut.

Sudah sejak lahir, kondisi Samaa abnormal. Pembuluh darah yang mengalir ke jantungnya terhubung dengan cara yang salah. Harusnya, pembuluh darah itu membawa darah beroksigen dari paru-paru ke sisi kiri jantung. Yang terjadi, justru sebaliknya.

Namun, mengoperasi jantung bayi seukuran lebih kecil dari bola golf jelas tantangan besar untuk para dokter dari Great Ormond Street Hospital, London. Akhirnya sebuah terobosan revolusioner diputuskan: bayi ini dibekukan sampai mati.

Samaa dibuat mati suri. Caranya, dokter meletakkan kantung berisi es di sekeliling kepala bayi itu--darahnya didinginkan dari suhu normal, 37 derajat Celcius, menjadi 18 derajat menggunakan mesin bypass jantung dan paru-paru.

Tak hanya itu, para dokter nekat itu juga menghentikan detak jantungnya dengan cara menyuntikkan obat dan mematikan mesin bypass. Di titik ini, secara klinis, bayi Samaa telah meninggal dunia. Tubuhnya hampir sepenuhnya kehabisan darah.

Sementara itu, ahli bedah kardiotoraks Tain-Yen Hsia dan timnya harus bekerja melawan waktu. Jendela keselamatan maksimum (maximum window of safety) adalah 50 menit--sebelum jantung orok ini harus di-restart untuk mencegah kerusakan pada otak dan organ dalam.

Untungnya, Samaa tak harus menunggu 50 menit untuk hidup kembali. Dokter berhasil membawanya kembali ke dunia dalam waktu 23 menit.

Setelah mesin dihidupkan, darah hangat langsung terpompa dan mengembalikan suhu tubuhnya ke titik normal, 37 derajat Celcius. Jantung mungil itu pun kembali berdetak.

Mengapa Samaa harus dibekukan? Menurut Dokter Hsia, tim medis harus melakukan operasi mikro. Sebab, mereka berurusan dengan pembuluh darah yang setipis kertas beras (rice paper). Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah membekukan tubuh dan menghentikan sirkulasi darah agar pasien masuk ke fase hipothermia.
"Ini seperti mencemplungkan bayi ke dalam seember air es. Saat menghentikan jantung, kami harus melakukan operasi secepatnya dengan tingkat presisi tinggi," katanya. "Tidak ada ruang melakukan kesalahan sekecil apapun."

***
Lima tahun setelah operasi yang dramatis, Samaa telah sembuh total. Satu-satunya bekas operasi yang dimiliki bayi asal Finchley, London Utara ini, adalah bekas luka di dadanya. Ibunya, Roosina Ahmed (30) dengan haru menceritakan saat-saat terberat dalam hidupnya.

"Saat pertama anakku membuka matanya, tak terkira bahagia yang saya rasakan. Bayangkan, selama 20 menit ia terbaring dengan tubuh dingin, tanpa kehidupan," kata Roosina seperti dimuat Daily Mail, Minggu, 17 Oktober 2010.

Perubahan drastis juga dialami Samaa pasca operasi. Jika sebelumnya ia bayi yang sangat lemah, bahkan untuk menangis sekalipun, kini dia gembul makan dan bermain tak kenal lelah. (sj)

Sumber : http://teknologi.vivanews.com/news/read/183402-bayi-ini-dibekukan-sampai-mati-agar-selamat

Selasa, 05 Oktober 2010

Kisah Kyai Kampung Lawan Santri Liberal

Inilah kisah kiai kampung. Kebetulan kiai kampung ini menjadi imam musholla dan sekaligus pengurus ranting NU di desanya. Suatu ketika didatangi seorang tamu, mengaku santri liberal, karena lulusan pesantren modern dan pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Tamu itu begitu PD (Percaya Diri), karena merasa mendapat legitimasi akademik, plus telah belajar Islam di tempat asalnya. Sedang yang dihadapi hanya kiai kampung, yang lulusan pesantren salaf.

Tentu saja, tujuan utama tamu itu mendatangi kiai untuk mengajak debat dan berdiskusi seputar persoalan keagamaan kiai. Santri liberal ini langsung menyerang sang kiai: “Sudahlah Kiai tinggalkan kitab-kitab kuning (turats) itu, karena itu hanya karangan ulama kok. Kembali saja kepada al-Qur’an dan hadits,” ujar santri itu dengan nada menantang. Belum sempat menjawab, kiai kampung itu dicecar dengan pertanyaan berikutnya. “Mengapa kiai kalau dzikir kok dengan suara keras dan pakai menggoyangkan kepala ke kiri dan ke kanan segala. Kan itu semua tidak pernah terjadi pada jaman nabi dan berarti itu perbuatan bid’ah,” kilahnya dengan nada yakin dan semangat.

Mendapat ceceran pertanyaan, kiai kampung tak langsung reaksioner. Malah sang kiai mendengarkan dengan penuh perhatian dan tak langsung menanggapi. Malah kiai itu menyuruh anaknya mengambil termos dan gelas.

Kiai tersebut kemudian mempersilahkan minum, tamu tersebut kemudian menuangkan air ke dalam gelas. Lalu kiai bertanya: “Kok tidak langsung diminum dari termos saja. Mengapa dituang ke gelas dulu?,” tanya kiai santai. Kemudian tamu itu menjawab: Ya ini agar lebih mudah minumnya kiai,” jawab santri liberal ini. Kiai pun memberi penjelasan: “Itulah jawabannya mengapa kami tidak langsung mengambil dari al-Qur’an dan hadits. Kami menggunakan kitab-kitab kuning yang mu’tabar, karena kami mengetahui bahwa kitab-kitab mu’tabarah adalah diambil dari al-Qur’an dan hadits, sehingga kami yang awam ini lebih gampang mengamalkan wahyu, sebagaimana apa yang engkau lakukan menggunakan gelas agar lebih mudah minumnya, bukankah begitu?”. Tamu tersebut terdiam tak berkutik.

Kemudian kiai balik bertanya: “Apakah adik hafal al-Qur’an dan sejauhmana pemahaman adik tentang al-Qur’an? Berapa ribu adik hafal hadits? Kalau dibandingkan dengan ‘Imam Syafi’iy siapa yang lebih alim?” Santri liberal ini menjawab: Ya tentu ‘Imam Syafi’iy kiai sebab beliau sejak kecil telah hafal al-Qur’an, beliau juga banyak mengerti dan hafal ribuan hadits, bahkan umur 17 beliau telah menjadi guru besar dan mufti,” jawab santri liberal. Kiai menimpali: “Itulah sebabnya mengapa saya harus bermadzhab pada ‘Imam Syafi’iy, karena saya percaya pemahaman Imam Syafi’iy tentang al-Qur’an dan hadits jauh lebih mendalam dibanding kita, bukankah begitu?,” tanya kiai. “Ya kiai,” jawab santri liberal.

Kiai kemudian bertanya kepada tamunya tersebut: “Terus selama ini orang-orang awam tatacara ibadahnya mengikuti siapa jika menolak madzhab, sedangkan mereka banyak yang tidak bisa membaca al-Qur’an apalagi memahami?,” tanya kiai. Sang santri liberal menjawab: “Kan ada lembaga majelis yang memberi fatwa yang mengeluarkan hukum-hukum dan masyarakat awam mengikuti keputusan tersebut,” jelas santri liberal.

Kemudian kiai bertanya balik: “Kira-kira menurut adik lebih alim mana anggota majelis fatwa tersebut dengan Imam Syafi’iy ya?.”. Jawab santri: “Ya tentu alim Imam Syafi’iy kiai,” jawabnya singkat. Kiai kembali menjawab: “Itulah sebabnya kami bermadzhab ‘Imam Syafi’iy dan tidak langsung mengambil dari al-Qur’an dan hadits,”.” Oh begitu masuk akal juga ya kiai!!,” jawab santri liberal ini.

Tamu yang lulusan Timur Tengah itu setelah tidak berkutik dengan kiai kampung, akhirnya minta ijin untuk pulang dan kiai itu mengantarkan sampai pintu pagar.

(Mukhlas Syarkun)
Sumber : Majalah Risalah NU no.3,
http://www.facebook.com/group.php?gid=316498805206

Kamis, 16 September 2010

10 Filosofi Hidup Orang Jawa

Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang mempunyai banyak filosofi untuk menjalani kehidupan agar seimbang dan berjalan dengan baik, berikut ini adalah 10 Filosofi Hidup orang Jawa yang bisa kita jadikan pelajaran dan pegangan :
Urip Iku Urup
(Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik)

Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara
(Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).

Sura Dira Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
(segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar)

Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha
(Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan,kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan)

Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
(Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).

Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman
(Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah ngambeg, jangan manja).

Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman
(Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi).

Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka
(Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah;Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka).

Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
(Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat).

Aja Adigang, Adigung, Adiguna
(Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti)

Moga bisa bermanfaat dan bisa jadi pegangan bagi kita semua untuk menjalani hidup dengan lebih baik.

Source : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5299403

Kamis, 09 September 2010

A. Mustofa Bisri: Perenungan di Akhir Ramadan

HARI-hari Ramadan telah kita lalui dengan berbagai kegiatan dan aktivitas yang galibnya lain dari hari-hari lain pada bulan-bulan lain. Mulai dini hari, kaum muslimin biasanya bersama-sama keluarga melakukan ''ritual'' santap sahur dan sore ngabuburit, ''membunuh waktu'' menunggu saat berbuka.

Lalu, ''ritual'' santap buka, kemudian beramai-ramai melaksanakan salat Tarawih dan tadarusan, sampai acara-acara seremonial buka bersama, tarling (Tarawih keliling), dan ceramah-ceramah keagamaan.

Kegiatan-kegiatan lain biasanya juga diupayakan dapat bernuansa ibadah, setidaknya dilabeli dengan label yang mengesankan keislaman. Misalnya, road show safari Ramadan, gelar takjil, konser seni dan dakwah, dan takbir akbar.

Yang mungkin agak tidak populer adalah kegiatan Ramadan model zaman kanjeng Nabi Muhammad SAW: iktikaf. Berdiam diri tafakur di rumah Tuhan. Bahkan, agaknya memang ''berdiam diri'' itu sudah merupakan sesuatu yang mewah pada zaman gaduh dan sibuk sekarang ini. Berdiam diri melakukan kontemplasi mungkin malah dianggap bukan kegiatan sama sekali.

Padahal, bulan suci Ramadan merupakan satu-satunya saat paling kondusif untuk melakukan perenungan. Bulan yang citra, gaya, dan nuansanya sama sekali berbeda dari sebelas bulan yang lain. Kalau bulan-bulan lain lebih terasa duniawi, bulan yang satu ini terasa benar ''ukhrawi''-nya, keakhiratannya. Bahkan, pengusaha-pengusaha pun dalam mencari keuntungan duniawi menemukan celah dalam kegiatan peribadatan bulan ini.

Boleh jadi, karena minimnya perenungan, kita sering terkecoh oleh diri kita sendiri. Kita sering keliru dalam merasa, salah dalam anggapan, hanya karena kegiatan-kegiatan rutin yang tidak sempat kita renungkan. Sikap atau kegiatan yang sudah berlangsung lama, karena tidak pernah sempat kita renungkan, umumnya kita anggap sudah benar dan karena itu kita langsungkan terus.

Padahal, bila kita mau menyempatkan diri merenung, kekeliruannya akan terbukti. Kita ambil contoh kecil: kegemaran kita bermain pengeras suara di masjid-masjid dan musala-musala. Tidak hanya azan yang kita lantunkan, tapi segala macam hal yang kita anggap syiar dan Islami kita kumandangkan ke seantero penjuru.

Agaknya, kita jarang merenungkan: apakah hal seperti itu wajib, sunah, mubah, makruh, atau haram? Karena sudah berlangsung lama dan MUI tidak pernah berfatwa makruh atau haram, kita pun tidak perlu bersusah payah merenungkannya. Kita merasa sudah benar.

Karena sudah berlangsung lama dan tidak ada yang protes, kita pun tidak merasa perlu merenungkan apakah suara-suara itu mengganggu orang lain atau tidak. Apakah mereka yang tidak protes, meski terganggu, itu karena rela atau takut?

Imbauan untuk menghormati Ramadan bahkan sering disertai amar penutupan warung-warung. Misalnya lagi, karena sudah berlangsung setiap Ramadan, kita menganggapnya wajar. Padahal, dengan sedikit perenungan, kita segera tahu kejanggalannya. Contoh-contoh lain masih banyak tentang keliru merasa dan salah anggapan karena tiadanya perenungan ini.

Salah merasa dan beranggapan itu bisa berakibat fatal bila Allah tidak merahmati kita dengan mengilhamkan perlunya perenungan. Kita bisa merasa berbuat ibadah, padahal bukan. Kita merasa beramar makruf nahi mungkar, padahal sedang berbuat anarki. Sebaliknya, kita bisa menganggap sesuatu perbuatan sebagai amal duniawi semata, padahal sangat ukhrawi.

Wakil-wakil rakyat yang ngotot membangun gedung kantornya sedemikian megah dengan biaya dari rakyat sedemikian besar pastilah tidak sempat merenung tentang, misalnya, memadaikah kegunaan gedung dan relevansinya dengan tugas-tugas mereka serta besarnya biaya? Apalagi berpikir tentang betapa tersakitinya hati rakyat yang mereka wakili yang selama ini belum pernah merasakan nasibnya membaik karena mereka perjuangkan.

Kelompok yang dengan angkuh merasa paling benar dan paling mulia di sisi Allah hanya karena berpakaian mirip Rasulullah SAW dan imamnya fasih melafalkan satu-dua ayat, pastilah mereka tidak sempat sedikit merenung. Misalnya, bahwa wajah Rasulullah SAW yang pakaiannya mereka tiru itu senantiasa tersenyum dan sama sekali tidak sangar seperti mereka.

Bahwa pribadi Rasulullah SAW yang agamanya hendak mereka bela adalah pribadi agung yang sangat santun, beradab baik di hadapan Allah maupun di hadapan hamba-hamba-Nya. Pribadi yang tidak pernah melaknat dan menyakiti sesama. Bahkan, beliau bersabda dalam hadis sahih: ''Al-muslimu man salimal muslimuun min lisaanihi wayadihi''. Muslim sejati adalah orang yang selalu menjaga agar lisan dan tangannya tidak melukai sesamanya.

Nah, apabila iktikaf dan tafakur kita kemarin-kemarin terasa kurang, kita masih punya waktu setidaknya untuk merenungkan Ramadan kita dan puasa kita bagi kepentingan memulai kehidupan -terutama kehidupan keberagamaan kita- yang baru, yang lebih islami, yang lebih samawi, yang lebih manusiawi, dan yang lebih beradab.

Akhirnya, saya sampaikan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431. Kullu 'aamin wa Antum bikhair. Mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan dan kekhilafan saya. (*)

JAWA POS, 9 SEPTEMBER 2010
Source : http://jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=154582

Lebaran di Kairo, Didaulat Khotbah Idul Fitri

ALHAMDULILLAHI rabbilalamin. Akhirnya, selesailah ekspedisi spiritual Jawa Pos Jelajah Sungai Nil. Dari tachometer mobil yang kami gunakan selama sebulan, kami tahu bahwa ekspedisi ini telah menyusuri jarak 4.798 km, saat sampai di Alexandria. Jarak itu kami tempuh sejak berangkat dari Kairo ke Abu Simbel, lantas menyusuri Sungai Nil, menuju muara, dan meneruskan perjalanan ke Gurun Sinai. Maka, sesampai di Kairo nanti, perjalanan kami telah menempuh jarak lebih dari 5.000 km.

Kami serasa baru keluar dari mimpi panjang berburu hikmah ke masa silam sambil beriktikaf Ramadan sepanjang bulan. Kini kami bersiap menerapkan segala hikmah itu untuk menghadapi realitas kehidupan. Tepatnya, setelah belajar dari berbagai peristiwa di sekitar, sebagaimana disitir Alquran: Banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka lewati, sayang mereka tidak menghiraukannya (QS 12:105).

Lega rasanya bisa menuntaskan tafakur panjang ini. Berpuluh hikmah kami dapat selama bulan suci yang memang penuh hikmah ini. Ramadan benar-benar bulan membaca dan bertafakur bagi umat Islam. Meskipun, tidak sedikit yang justru menjadikan Ramadan sebagai bulan menurunnya produktivitas. Padahal, mestinya Ramadan jadi ajang untuk berlatih meningkatkan produktivitas.

Ada sebuah pemahaman yang perlu dikaji ulang tentang latar belakang turunnya perintah berpuasa Ramadan. Kebanyakan di antara kita berpendapat bahwa perintah berpuasa Ramadan turun karena dua alasan. Yakni, supaya menjadi sehat dan lebih bertakwa. Saya rasa, itu kurang tepat.

Sesungguhnya, kalau kita lihat redaksinya, dua hal tersebut bukan penyebab turunnya perintah berpuasa, melainkan akibat. Yakni, agar sehat dan bertakwa. Kata "agar" tentu saja menunjukkan dua hal tersebut sebagai akibat puasa. Barang siapa berpuasa dengan baik, akibatnya dia memperoleh kualitas hidup yang lebih sehat dan berperilaku lebih terkendali -bertakwa.

Penyebab turunnya perintah puasa Ramadan ternyata dikaitkan oleh Allah dengan satu peristiwa penting dalam bulan suci itu. Penjelasannya ada dalam QS 2:185. Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia... Karena itu, barang siapa di antara kalian berada di bulan itu, hendaklah dia berpuasa di dalamnya...

Jadi, perintah berpuasa kala Ramadan sebenarnya disebabkan turunnya Alquran sebagai petunjuk kehidupan. Maka, umat Islam diperintahkan berpuasa. Untuk apa? Supaya umat Islam mempelajari banyak hal dalam kitab penuh hikmah itu sambil menyucikan diri, kemudian memperoleh petunjuk. Sebab, kandungan Alquran memang hanya bisa dipahami dengan baik oleh orang-orang yang berproses menyucikan diri. Di antaranya, para pelaku puasa dalam arti yang sesungguhnya.

Maka, sungguh salah besar orang yang berpuasa tanpa mengkaji ayat-ayat Alquran serta hanya bertahan untuk sekadar tidak makan dan minum atau mencegah diri dari hal-hal yang membatalkannya sampai matahari tenggelam. Ramadan adalah bulan produktif yang disediakan oleh Allah untuk belajar dan berkarya. Dengan begitu, diharapkan kita memperoleh hikmah dari ilmu-ilmu Allah yang dihamparkan di sekitar kita.

Hasilnya, keluar dari Ramadan, kita menjadi orang yang lebih bertakwa: terkendali dan bijaksana. Itulah alasan di akhir Ramadan Allah menurunkan Lailatul Qadar. Kaitannya menjadi sangat jelas. Perintah puasa disebabkan turunnya Alquran. Karena itu, orang-orang yang berpuasa dengan baik akan memperoleh hikmah Alquran pada akhir puasa. Tepatnya, pada suatu malam yang mulia dan penuh hikmah.

Allah menganugerahkan al hikmah (kepahaman yang mendalam) kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa yang dianugerahi al hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Hanya orang-orang berakal yang dapat mengambil pelajaran (QS 2:269).

Kami bersyukur, dalam Ramadan ini kami bisa belajar banyak dari berbagai peristiwa yang terekam di sepanjang Sungai Nil. Sebuah drama panjang selama ribuan tahun yang Allah abadikan dalam berbagai artefak sejarah yang sangat berharga. Juga, dalam kitab-kitab suci. Semua itu dihamparkan untuk menjadi pelajaran dan bahan kajian agar generasi kemudian menjadi lebih baik.

Sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah dan jauhilah yang selain Dia." Maka, di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya yang telah pasti kesesatan baginya. Maka, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang tidak mempercayai (QS 16:36).

Itu di antara berita-berita penting tentang yang gaib, yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka, bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik ada bagi orang-orang yang bertakwa (QS 11:49).

Akhirnya, saya mengucapkan rasa syukur yang mendalam kepada Allah, Sang Maha Berilmu, atas segala karunia dan rahmat-Nya. Mudah-mudahan Ramadan kali ini adalah Ramadan yang bertabur hikmah, yang bisa meningkatkan amal ibadah kita dalam mendekatkan diri kepada-Nya.

Saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Jawa Pos yang telah memberikan ruang untuk kajian Ramadan bagi umat yang haus hikmah. Juga, anggota tim Ekspedisi Sungai Nil. Terima kasih atas kerja keras dan ketulusannya menggali hikmah bersama. Saya tidak tahu, apakah Ramadan tahun depan kita bisa bertemu lagi untuk belajar hikmah seperti ini. Allahu a'lam...

Besok saya merayakan Idul Fitri bersama masyarakat Indonesia di Kairo. Ribuan orang Indonesia dijadwalkan beramah tamah di Masjid As Salam, Hay el Ashir, atas undangan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo. Sebelum itu, masyarakat Indonesia dan duta besar RI beserta seluruh staf menghelat salat Id. Saya didaulat menjadi khatib.

Mudah-mudahan Allah tetap memberikan ilmu-ilmu yang bermanfaat kepada kita semua. Keluar dari Ramadan, semoga kita menjadi orang yang lebih bertakwa.

Selamat Idul Fitri 1431 H. Kami mohon maaf lahir dan batin. (habis/c11/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 9 SEPTEMBER 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=showpage&kat=1&subkat=53