Tampilkan postingan dengan label Jelajah Sungai Nil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jelajah Sungai Nil. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 September 2010

Mencegat Lailatul Qadar di Tepi Laut Mediterania

SHARM El Sheikh adalah kota terakhir di Gurun Sinai yang kami kunjungi. Dari kota di tepi Laut Merah itu, kami melanjutkan perjalanan menyusuri pantai Teluk Suez yang mengarah ke terowongan penyeberangan kembali. Jaraknya sekitar 500 km. Memasuki benua Afrika, kami mengarah ke delta Sungai Nil, dan menyusurinya sampai ke muara di Kota Alexandria.

Sebenarnya, di bagian delta, Sungai Nil terpecah menjadi beberapa cabang yang menuju ke muara. Salah satunya mengarah ke Alexandria. Sedangkan muara utamanya berada di Kota Dumyat dan Kota Rashid. Semua berakhir di Laut Mediterania.

Karena keterbatasan waktu yang ada, kami hanya memilih salah satu cabang, yakni ke kota yang paling besar dan paling banyak menyimpan sejarah: Alexandria. Inilah kota yang pernah menjadi ibu kota Mesir selama 1.000 tahun di zaman Yunani-Romawi.

Alasan lain mengapa kami memilih Alexandria sebagai terminal terakhir, karena kota ini memiliki kadar spiritual yang cukup tinggi bagi para pencari ''Kebenaran Tunggal''. Di antaranya, di sana terdapat masjid seorang guru sufi yang sangat terkenal, yaitu Abul Abbas al Mursyi. Masjid, yang kemudian menjadi makamnya itu, adalah kompleks makam 12 wali yang juga murid-muridnya. Kompleks itu menjadi salah satu tujuan utama para wisatawan yang datang ke Alexandria.

Di Alexandria juga terdapat makam ''orang biasa'' yang namanya disebut-sebut di dalam Alquran. Dialah Luqman el Hakim. Orang bijak yang tidak disebut sebagai nabi itu nasihat-nasihatnya menyentuh sanubari dan sangat mendalam secara spiritual. Bahkan, namanya lantas diabadikan sebagai nama surat ke-31 dalam Alquran: Surat Luqman. Sayang, ketika kami menziarahinya, kompleks makamnya sedang direnovasi dan ditutup untuk sementara.

Kami ingin menghabiskan sisa hari ekspedisi spiritual Jawa Pos Jelajah Sungai Nil ini di Alexandrea. Berada di sebuah tempat bersejarah yang mengandung nilai-nilai spiritual bagi para pencari Tuhan. Tidak berada di samping makam para pelaku sufisme itu, melainkan bertafakur di muara Sungai Nil yang menjadi saksi bisu atas berjalannya sejarah masa lalu dengan segala hikmahnya.

Ketika berada di Masjid Abbas al Mursyi, saya sempat menyaksikan para pelaku tarekat melakukan ritual ibadah khasnya. Puluhan orang berkerumun dalam tarian sufi. Sambil menari dan bertepuk, mereka melantunkan puji-pujian: ya hu... ya hu... ya hu... (wahai Dia ... wahai Dia... wahai Dia), sambil menggelorakan Asmaaul Husna. Tak kurang dari lima kelompok aliran tarekat yang siang itu berkumpul membentuk halaqah masing-masing di masjid tepi pantai itu.

Malamnya, di masjid berbeda, saya menyaksikan ribuan orang melakukan salat tahajud. Jamaahnya membeludak, menimbulkan kemacetan lalu lintas di depan Masjid Al Qaid Ibrahim, sampai menjelang waktu sahur. Mereka meningkatkan ibadah di sepuluh malam terakhir untuk menyambut datangnya puncak Ramadan: Lailatul Qadar.

Di beberapa masjid lain, saya juga melihat para pelaku iktikaf yang terus-menerus membaca kitab suci Alquran sepanjang hari hingga malam. Saya memilih cara saya tersendiri untuk bertafakur menjelang berakhirnya Ramadan. Bulan suci yang penuh hikmah, bagi siapa yang berniat mencarinya.

Saya merenung di teras kamar lantai empat penginapan kami yang persis menghadap ke Laut Mediterania. Beratap langit bertabur bintang. Menghadap ke kegelapan laut yang mahaluas dengan debur ombak yang terdengar sayup-sayup. Sesekali terdengar teriakan orang di jalan dan suara klakson mobil yang terjebak kemacetan di bawah sana. Sementara itu, di masjid-masjid mengalun suara pujian dan ayat-ayat Alquran yang dilantunkan dalam salat-salat yang panjang.

Saya ingin merenungi Ramadan kali ini dalam realitas kehidupan tanpa harus mengasingkan diri dan menyepi dari hiruk-pikuk duniawi. Sebab, saya merasakan Tuhan tidak hanya hadir di tempat-tempat sepi yang terasing. Tetapi, Dia juga merasuk ke seluruh dinamika kehidupan makhluk-makhluk-Nya, dalam sepi maupun keramaian tiada henti.

Dia berada bersama dengan orang-orang yang sedang salat sendiri maupun berjamaah. Dia juga sedang meliputi mereka yang berbuat maksiat, sendirian maupun bersama-sama. Dia kini mendampingi orang-orang yang bersabar dalam menghadapi segala ujian hidup, sekaligus meliputi orang-orang yang ingkar dalam menghadapi kebenaran.

Ya, Allah adalah Zat yang sedang bersama seluruh makhluk-Nya, di mana pun mereka berada. Langit luas yang bertabur miliaran bintang berada di dalam Kebesaran-Nya yang tiada tara. Lautan lepas yang berselimut kegelapan dan kecipak ombak sedang larut dalam Keperkasaan-Nya. Bahkan, seluruh peristiwa di langit dan di bumi, tak ada yang terjadi tanpa kehadiran-Nya. Sungguh, alam semesta hanyalah sebutir debu yang ''tenggelam'' dalam Samudera Keagungan yang tak berhingga.

''Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi. Dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu'' (QS 4: 126). ''Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang yang kamu lihat (gaya gravitasi). Kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari serta bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang telah ditentukan. Allah mengatur segala urusan, menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan dengan Tuhanmu (QS 13: 2).

Malam-malam akhir Ramadan bagaikan hari-hari di mana Nabi Musa diperintah Allah menyempurnakan puasa sebelum berbicara dengan-Nya. Dengan kemurnian puasanya itu beliau menerima wahyu di Gunung Sinai. Hari-hari ini juga bagaikan saat-saat akhir tahanuts Rasulullah SAW di Gua Hira', yang sesudah itu beliau menerima wahyu Alquran nul Karim, cahaya penerang bagi manusia akhir zaman.

Turunnya hikmah ilmu kehidupan selalu seiring dengan proses penyucian diri yang sempurna. Ketika jiwa dan raga telah larut dalam proses penyerahan diri kepada Zat Yang Mahasuci, itulah saat Lailatul Qadar turun kepada orang-orang yang berpuasa sempurna pada Ramadan. Hikmah itu dibawa oleh Malaikat Jibril yang memang bertugas menyampaikan ilmu-ilmu Allah kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Berjuta malaikat mengiringi sang Jibril di akhir-akhir proses penyucian diri yang istiqamah.

Lailatul Qadar tak akan turun kepada orang-orang yang secara ''dadakan'' mencegat datangnya malam seperti mencegat datangnya keberuntungan dalam sebuah undian. Sebab, sesungguhnya, bukan ''malam'' itu yang menjadi substansinya, melainkan pengetahuan mendalam yang disebut Alquran sebagai Al Hikmah. Betapa naifnya orang-orang yang ''mencegat'' datangnya ''sebuah malam'' di akhir Ramadan secara dadakan, karena malam hari di Indonesia sebenarnya sore hari di Timur Tengah, dan siang hari di Amerika.

''Sesungguhnya Kami telah menurunkan Alquran pada saat Lailatul Qadar... Turun para malaikat dan Jibril di malam itu dengan izin Tuhannya, untuk mengatur segala urusan (yang penuh hikmah)...'' (QS 97: 1&4). (bersambung/ari)


JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 8 SEPTEMBER 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=154277

Menyusuri Laut Merah ke Tempat Nabi Khidr

TURUN dari Jabbal Musa yang kami naiki waktu sahur, kami sampai di penginapan pukul 10 pagi. Untuk menghilangkan lelah setelah mendaki Gunung Sinai semalaman, saya langsung beristirahat. Apalagi, setelah duhur kami harus checkout untuk melanjutkan perjalanan ke Sharm el Sheikh, sebuah kota di tepi Laut Merah yang masih berjarak sekitar 270 km ke arah selatan.

Menuju Sharm el Sheikh, kami tidak melewati rute yang kami lewati saat datang, melainkan mengambil rute selanjutnya. Kalau awalnya datang dari arah Teluk Suez di sebelah timur, kami melanjutkan perjalanan ke arah barat sehingga bertemu pantai Teluk Aqabah yang berseberangan dengan Jazirah Arab. Setelah itu, berbelok ke kanan melewati Kota Dahab, menuju ke ujung paling selatan dataran Sinai.

Kurang lebih empat jam kami menyusuri pegunungan batu dan padang pasir. Separo perjalanan terakhir menyusuri pantai Teluk Aqabah yang berseberangan dengan negara Arab Saudi. Pemandangan di kawasan ini tak kalah indah dengan pantai timur di Teluk Suez. Kami menyusuri pantai itu sejauh lebih dari 100 km. Di sebelah kanan, bukit dan padang pasir. Sedangkan di sebelah kiri, laut yang indah membiru.

Keindahan itu berujung di Sharm el Sheikh, kota paling selatan dari dataran Sinai. Ia terletak di tepi pantai Laut Merah yang luar biasa. Di sinilah Selat Aqabah bertemu dengan Selat Suez. Di sebelah kanan kami adalah laut yang menjorok ke Teluk Suez, sedangkan di sebelah kiri kami adalah laut yang menjorok ke Teluk Aqabah. Kami persis berada di persimpangan dua teluk itu.

Memasuki pintu gerbang kota, sudah terlihat pantai yang ramai dengan kapal-kapal pesiar. Di sepanjang pantainya berdiri gedung-gedung megah, hotel, apartemen maupun vila bergaya Eropa. Kota yang memanjang searah pantai itu terbagi dalam tiga wilayah. Yakni, wilayah permukiman lama yang disebut Old Town. Kedua, kawasan tepi pantai yang disebut Sharm el Moya. Di kawasan ini terdapat hotel-hotel mewah, tempat-tempat hiburan malam, spa, pusat perbelanjaan, dan segala macam permainan yang disesaki turis-turis Barat.

Kawasan ketiga adalah El Hadaba, kawasan yang dipenuhi permukiman warga asing untuk berlibur, seperti vila, kondominium, dan apartemen. Berada di kawasan ini seperti berada di kawasan Eropa. Apalagi, banyak bule yang berlalu lalang di jalan-jalan.

Kota Sharm el Sheikh sudah jauh berubah bila dibandingkan pada 1980-an. Dulu daerah ini merupakan desa nelayan yang kecil. Kawasan ini sempat menjadi rebutan antara Mesir dan Israel. Bahkan, pernah diduduki Israel pada 1956 dan 1967. Tetapi, kemudian dikembalikan ke Mesir pada 1982 atas tekanan PBB dan dunia internasional. Sekarang kawasan yang sangat strategis itu menjadi pantai wisata nomor wahid di Mesir, bahkan di Timur Tengah.

Presiden Hosni Mubarak sangat suka dengan tempat ini, sehingga sering menerima tamu-tamu negara atau menyelenggarakan pertemuan internasional di sini. Bahkan, hampir setiap tahun, selama libur Idul Fitri, Mubarak dan keluarga memilih berada di Sharm el Sheik untuk berlibur. Sampai-sampai ada yang menyebut kota ini sebagai kota Mubarak. Meskipun pernah dibom oleh kalangan radikal Mesir pada 2005, kota ini mendapat julukan City of Peace.

Memasuki kota, kami berusaha mencari lokasi yang disebut dalam Alquran sebagai tempat bertemunya dua laut itu. Dari peta kami tahu bahwa itu adalah kawasan yang kini bernama Ras Muhammad. Kawasan itu benar-benar berada di paling ujung dataran Sinai. Bentuknya tanjung yang menjorok ke laut.

Kawasan sepi itu kini menjadi cagar alam kehidupan biota laut yang sangat digandrungi wisatawan dunia. Mereka senang menyelam di lepas pantai karena di dasar lautnya ada ribuan jenis ikan dan terumbu karang yang langka. Bahkan, ada kawasan yang memiliki gugusan karang berusia dua juta tahun, yang memberikan banyak informasi tentang kondisi alam masa silam. Tak kurang dari 50 ribu penyelam setiap tahun datang ke Ras Muhammad. Daratannya memang sepi, karena kebanyakan turis langsung membawa kapal dari dermaga menuju ke lepas pantai agar bisa langsung menyelam.

***

Kemarin sore (6/9) menjelang matahari tenggelam, saya berada di pantai tempat bertemunya dua laut itu. Lokasinya seperti yang digambarkan dalam Alquran. Benar-benar surprise dan terasa seperti dalam mimpi. Di sinilah, ribuan tahun silam, dua hamba Allah bertemu untuk mempelajari salah satu rahasia ilmu Allah yang luar biasa tinggi, yaitu tentang kesabaran. Mereka adalah Nabi Musa, sang Kalimullah, dan Khidr, seorang misterius ''penunggu pantai'' yang tidak dikenal.

Allah menceritakan kisah itu dalam Alquran al Karim, ketika memerintahkan Musa untuk bertemu guru spiritual yang tak disebutkan namanya itu. ''Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun'' (QS 18: 60).

''Lalu mereka bertemu dengan seseorang di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami'' (QS 18: 65).

Mengapa Musa yang hebat itu -memiliki sembilan mukjizat dan bisa berbicara langsung dengan Allah di puncak Sinai- masih diperintah Allah untuk berguru kepada Khidr? Ternyata, Musa dianggap Allah belum memiliki kualitas kesabaran yang seharusnya. Apalagi, menghadapi umatnya -Bani Israil- yang terkenal sangat cerewet dalam beragama.

Musa berkata kepada Khidr, ''Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?'' (QS 18: 66). Dia menjawab, ''Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?'' (QS 18: 67-68).

Mendalam sekali dialog dua hamba Allah itu. Musa yang sedemikian hebat diprediksi Khidr tidak akan bisa bersabar mengikutinya karena ilmunya ''belum cukup''. Kesabaran ternyata hanya bisa dilakukan jika seseorang memiliki ilmunya. Jika tidak, ia hanya bisa ''menyabar-nyabarkan'' diri belaka. Terpaksa sabar. Belum benar-benar bersabar. Dan terbukti, selama mengikuti Khidr, Musa sering protes kepadanya ketika Khidr melakukan sesuatu yang dianggapnya tidak masuk akal.

Sesuatu dikatakan masuk akal atau tidak bergantung pada seberapa tinggi ilmu yang telah dimiliki seseorang. Karena itu, Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu dan mengedepankan akal sehat dalam menjalankannya. Hanya orang-orang yang berilmu dan berakal sajalah yang bisa menjalankan agama ini dengan baik, sehingga tercapai tatanan masyarakat yang rahmatan lil alamin yang sebenar-benarnya. (bersambung/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 7 SEPTEMBER 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=154106

Senin, 06 September 2010

Mendaki Gunung Sinai pada Waktu Sahur

MENJELANG magrib, kami sampai di Kota St Katherine. Itulah sebuah kota kecil di kaki Gunung Sinai, yang penduduknya hanya beberapa ribu keluarga. Kotanya tenang, jauh dari hiruk pikuk kendaraan bermotor. Kawasan lembah tersebut berada di cekungan perbukitan batu yang tandus dan tebing-tebing tinggi. Bila matahari hampir tenggelam, sekitar pukul tujuh malam, pemandangannya seperti bayang-bayang raksasa yang berkerumun.

Kami langsung mencari penginapan agar bisa beristirahat sejenak setelah berkendara enam jam melintasi gurun pasir. Sejumlah hotel strategis yang kami datangi fully booked. Tak ada kamar kosong. Kami lantas mencari tempat singgah yang agak ke ujung jalan. Alhamdulillah, masih ada kamar kosong. Ternyata, sejumlah hotel itu dipesan rombongan turis dari Eropa. Beberapa bus berderet-deret di depan hotel mereka.

Pukul dua dini hari, setelah salat malam dan sahur, kami telah berada di kaki Gunung Sinai. Terminalnya penuh dengan bus dan kendaraan para peziarah. Kebanyakan di antara mereka datang dari Eropa dan beragama Kristen. Sebagian lagi merupakan orang-orang Yahudi. Sedikit di antara mereka yang beragama Islam. Bagi orang Kristen dan Yahudi, berziarah ke Gunung Sinai setara dengan umrah ke tanah suci Makkah bagi umat Islam.

Mereka membawa perbekalan yang cukup untuk mendaki gunung setinggi 2.285 meter dari permukaan laut tersebut. Tetapi, pendakian dari kaki Gunung Sinai sebenarnya tinggal sekitar 1.000 meter. Jalan setapaknya hanya bisa dilewati unta dan manusia. Saya lihat, kebanyakan peziarah membawa ransel kecil berisi makanan dan minuman sambil memegang tongkat.

Yang paling penting adalah minuman atau air mineral. Sebab, berdasar pengalaman para peziarah sebelumnya, pendakian itu memakan waktu empat jam untuk naik dan tiga jam untuk turun. Jadi, total waktu yang diperlukan sekitar tujuh jam. Karena itu, tentu para pendaki harus mengganti tenaga yang hilang dengan makanan dan minuman. Sayang, kami tidak akan bisa melakukan itu karena berpuasa. Tetapi, tekad kami sudah bulat. Kami harus sampai di atas. Terutama saya, agar bisa bercerita kepada pembaca.

Pada waktu sahur itulah kami mulai mendaki dengan berjalan kaki. Suasana gelap malam mengharuskan peziarah membawa senter. Tapi, setelah beberapa saat berjalan dalam kegelapan, kami memilih tidak menggunakan senter lagi. Mata kami sudah beradaptasi dengan kegelapan malam. Apalagi, bulan sepotong di langit sangat membantu menerangi jalan setapak yang kami lewati.

Tak berapa lama berjalan, kami bertemu dengan gereja besar di kaki Gunung Sinai, Gereja St Katherine. Gereja itu cukup legendaris bagi masyarakat kota tersebut. Di depannya ada pos penjagaan polisi. Kami ditanyai, apakah sudah membawa pemandu untuk berziarah. Sebab, yang tidak kenal rute bisa tersesat dan tidak diizinkan meneruskan perjalanan. Kecuali, kami "menyewa" salah seorang polisi itu sebagai guide. Kami berusaha menawar agar bisa mendaki sendiri. Sebab, salah seorang anggota tim ekspedisi, Dadan S. Junaedy, pernah mendakinya.

Mereka bersikukuh melarang kami naik. Kecuali, kami mau menyewa unta dan penggembalanya yang orang Badui. Akhirnya, kami memutuskan menyewa unta saja, empat ekor, sekalian berhemat tenaga karena puasa. Maka, menjelang subuh itu, kami mengendarai unta menuju puncak Sinai.

Ternyata, naik unta dalam waktu lama tidak senyaman yang kita duga. Perut dan pinggang serasa dikocok-kocok, sakit semua. Apalagi, kala jalan menanjak dan unta kadang tidak dijaga sepenuhnya oleh para penggembala. Lebih nikmat berjalan kaki.

Setiap dua ekor unta dijaga seorang Badui. Maka, satu jam naik unta, istri saya menyerah. Dia ketakutan karena unta yang ditunggangi lepas kendali. Dia akhirnya minta turun di pos peristirahatan pertama. Dia tidak mau melanjutkan pendakian lagi. Dia ketakutan naik unta di jalan terjal, apalagi badan terasa pegal-pegal.

Saya memutuskan melanjutkan perjalanan berdua dengan Dadan. Sementara itu, anggota tim lain, Yovi, saya minta menemani istri saya di pos. Perjalanan yang tersisa masih sekitar 2,5 jam dengan rute yang semakin menanjak. Saya salat Subuh di atas unta. Sebab, tidak ada musala atau tempat yang layak untuk salat di daratan.

Dua jam kemudian, punggung dan perut saya benar-benar sakit. Hampir-hampir tak tahan rasanya. Untung, di depan saya sudah terlihat tempat pemberhentian terakhir, yaitu pos ketujuh. Sisa rutenya sudah tidak bisa ditempuh dengan naik unta lagi. Kami harus berjalan kaki. Lalu, masya Allah, sisa rute tersebut ternyata berupa tebing terjal menuju puncak Jabbal Musa. Di depan saya membentang anak tangga dari bebatuan dengan kemiringan 45-60 derajat.

Anak tangga itu berjumlah sekitar 800 buah. Ketinggian setiap terapnya sekitar 30 cm. Jadi, tebing yang masih harus didaki sekitar 250 meter lagi. Itulah perjuangan terakhir sebelum para peziarah menikmati matahari terbit di puncak Sinai dan merasakan suasana Nabi Musa saat berada di sana. Dengan memompa semangat, saya mendaki tebing curam tersebut dengan sangat berhati-hati. Hari menjelang pagi.

Ketinggian yang hanya 250 meter itu serasa berkilo-kilometer. Setiap belasan anak tangga, napas saya terengah-engah. Maklum, sudah lebih dari 20 tahun saya tidak mendaki gunung lagi. Tenggorokan juga semakin kering, tapi tidak bisa dialiri air minum karena berpuasa.

Meski medan superberat, semangat saya tak surut sedikit pun. Terbayang betapa Nabi Musa naik ke bukit itu sendirian untuk bermunajat kepada Allah. Sekitar setengah jam kemudian, perjuangan kami finis. Jantung serasa hampir copot. Napas memburu dalam dinginnya hawa pegunungan yang berkadar oksigen rendah.

Namun, sungguh luar biasa pemandangan di puncak Jabbal Musa. Di ufuk timur, matahari beranjak memperlihatkan diri. Warna langit yang kuning kemerahan menjadi latar belakang puncak-puncak gunung di sekitarnya, di antara lembah dan ngarai yang tiada tara. Subhanallah...!

Di puncak itulah para peziarah mengucap syukur kepada Sang Pencipta dalam bahasa agama masing-masing. Saya melihat, ada dua tempat ibadah tak seberapa besar yang bertengger di puncak Sinai, yaitu sebuah musala dan gereja. Sebagian peziarah memanfaatkannya untuk berdoa. Sebagian lagi memilih berdoa di tempat terbuka sambil menikmati matahari terbit.

Saya memilih berdoa dan bersyukur di atas sebuah batu besar, yang dari tempat itu saya bisa melihat lembah sekeliling puncak Jabbal Musa. Saya membayangkan, di situlah dulu utusan Allah tersebut bermunajat kepada-Nya, berdialog langsung dengan-Nya. Ketika beliau meminta kepada Allah untuk bisa melihat Zat-Nya, bukit di sekitar puncak Jabbal Musa bergetar hebat, lantas runtuh sehingga membuat Nabi Musa pingsan.

Kini saya menyaksikan bukit-bukit batu itu. Memang berbeda dengan bukit-bukit yang lebih jauh di sekelilingnya. Banyak batu di sekitar puncak Jabbal Musa yang terbelah berantakan, seperti pernah terkena gempa.

Saya menjadi ingat firman-Nya dalam Alquran: ... Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung, gunung itu pun hancur dan Musa jatuh pingsan. Setelah tersadar, Musa berkata, "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada-Mu dan aku orang yang pertama-tama beriman (QS. 7: 143)." (bersambung/c11/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 6 SEPTEMBER 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=showpage&kat=1&subkat=53

Minggu, 05 September 2010

Tongkat Musa dan Perjuangannya Membimbing Bani Israil

MENYEBRANGI Teluk Suez, kami memasuki Benua Asia. Namun, karena masih berdekatan dengan Benua Afrika, suasananya tak terlalu jauh berbeda. Sepanjang mata memandang, terlihat gurun pasir yang tandus berhias bukit-bukit bebatuan. Inilah kawasan Gurun Sinai yang terkenal itu. Sinai Utara penuh dataran padang pasir, sedangkan Sinai Selatan penuh dengan perbukitan.

Untuk menyeberanginya, kami tidak perlu menggunakan feri, tapi cukup melalui terowongan bawah laut sepanjang 1,5 km. Itulah jarak penyeberangan yang paling dekat antara Benua Afrika dan Asia. Diperkirakan, di sekitar daerah itu Musa dan orang-orang Bani Israil menyeberang saat dikejar Firaun Merneptah. Tempat penyeberangan tersebut kini menjadi tempat lalu lalang kapal-kapal berukuran besar dari kawasan Eropa menuju Asia maupun sebaliknya.

Keluar dari terowongan, kami menyusuri pantai menuju Gunung Sinai atau yang dikenal sebagai Jabbal Musa. Jaraknya sekitar 415 km dari Kairo atau sekitar 300 km dari terowongan Teluk Suez. Pemandangan di kanan kiri kami sangat kontras, namun indahnya luar biasa. Di sebelah kiri, kami hanya menyaksikan perbukitan batu-batu cadas. Sedangkan di sebelah kanan kami adalah laut luas yang membiru. Ya, kami sedang menyusuri pantai Teluk Suez ke arah selatan.

Kawasan Sinai sangat bersejarah karena menjadi saksi berbagai peristiwa eksodusnya Bani Israil dari Mesir. Sebelum memasuki Palestina yang menjadi tujuan akhir mereka, Bani Israil sempat bertahun-tahun berada di kawasan tandus tersebut. Banyak kejadian menarik yang menyertai perjalanan Bani Israil.

Setelah berhasil memimpin Bani Israil keluar dari Mesir, Musa bersama umatnya menuju Gunung Sinai. Musa ingin bermunajat dan bersyukur kepada Allah atas perlindungan yang diberikan-Nya. Dia juga memohon bimbingan untuk membawa umatnya ke tanah harapan, yaitu Palestina.

Musa meninggalkan Bani Israil di kaki Sinai, dalam pimpinan saudaranya, Nabi Harun. Dia berjanji pulang setelah 30 hari bermunajat di puncak Sinai. Maka, Musa pun berpuasa selama 30 hari untuk menyucikan jiwa raganya agar bisa berkomunikasi dengan Allah lebih jernih. Ternyata, Allah memerintahkan untuk menyempurnakan puasanya menjadi 40 hari. Lantas, Musa memperoleh wahyu Taurat untuk umatnya.

Digambarkan, Musa berdialog langsung dengan Allah sehingga dia memperoleh julukan Kalimullah di dalam Alquran, yakni orang yang diajak bicara langsung oleh-Nya. ''Allah berfirman: Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih kamu di antara manusia yang lain, untuk membawa risalah-Ku. Dan untuk berbicara langsung dengan-Ku. Karena itu, berpegang teguhlah pada apa yang Aku berikan kepadamu. Dan, hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur'' (QS 7: 144).

Sayang, sepulang Musa dari puncak Sinai, kaumnya justru terpengaruh ajakan Samiri untuk beribadah mengikuti agama pagan lagi. Mereka menyembah patung sapi buatan Samiri, yang sebenarnya juga salah seorang kaum Musa. Kepada umat Musa, Samiri berkata bahwa Musa sudah hilang di puncak Sinai. Tuhan yang disembah Musa juga hanya bohong-bohongan karena tidak bisa dilihat. Tuhan yang benar, kata Samiri, adalah apa yang telah mereka kenal selama di Mesir. Yaitu, Dewi Hathor yang bertanduk sapi dan Apis, sang Dewa Sapi.

Tentu saja Musa marah dan sedih bukan main melihat kenyataan itu. Samiri pun dihajar. Patung sapinya dilempar. Bahkan, Nabi Harun pun dipegang kepalanya, hendak dihajar juga. Namun, Harun bisa menenangkan kembali Musa dan menjelaskan bahwa keterlambatan Musa pulang membuat Samiri bisa memengaruhi umat Bani Israil yang lemah iman untuk kembali ingkar.

Tidak hanya itu, Bani Israil lantas meminta Musa untuk menunjukkan keberadaan Allah sebagai Tuhan yang bisa terlihat. Tentu saja Musa gemetar karena sesungguhnya dia baru melakukan permintaan yang sama kepada Allah ketika sedang di puncak Sinai. Saat itu, bukit tempat dia berpijak bergetar hebat dan bebatuan di sekitarnya hancur berantakan. Musa pun pingsan.

Kini, permintaan itu juga diucapkan umatnya dan Allah kemudian menunjukkan kekuasaan-Nya lagi dengan menurunkan halilintar. ''Dan (ingatlah), ketika kalian (Bani Israil) berkata: Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas, karena itu kalian disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya'' (QS 2: 55).

Setelah bisa menguasai kembali umatnya, Musa mengajak mereka menuju Palestina. Itulah tanah yang dijanjikan bagi Bani Israil untuk bermukim dengan tenang. Tapi, saat itu Palestina sedang dikuasai bangsa lain, yang tidak menghendaki Bani Israil bermukim di Palestina. Padahal, sebenarnya mereka memiliki hak atas tanah Palestina karena nenek moyang mereka dari kawasan ini.

Musa mengajak mereka untuk menuntut hak tersebut, meski untuk itu harus berperang. Sayang, sebagian besar Bani Israil tidak mau melakukannya. Mereka justru ketakutan dan memilih untuk mengembara di sekitar Gurun Sinai yang dikenal sebagai Padang Tiih. Kisah itu diceritakan panjang lebar dalam QS 5: 21-26.

''Allah berfirman: (Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (Padang Tiih) itu. Maka, janganlah kamu bersedih hati (memikirkan) orang-orang yang fasik tersebut'' (QS 5: 26).

Maka, menderitalah Bani Israil selama empat puluh tahun di Gurun Sinai. Mereka hidup berpindah-pindah dari satu kawasan ke kawasan yang lain. Untungnya, Allah masih sangat pemurah kepada mereka. Karena itu, mereka tetap memperoleh makanan di daerah tandus tersebut. Di antaranya yang diterangkan Alquran adalah Manna dan Salwa, yaitu sejenis madu dan burung puyuh. Dengan makanan itu, mereka memperoleh sumber karbohidrat, protein, dan lemak untuk hidup.

Bani Israil juga menyuruh Musa untuk meminta air kepada Allah. Mereka ingin bukti bahwa Tuhan yang disembah Musa benar-benar ada. Dengan sabar, Musa memohon kepada Allah. Dia lalu diperintah Allah untuk memukulkan tongkatnya ke bebatuan. Maka, di luar dugaan, menyemburlah mata air-mata air dari pecahan bebatuan itu. Jumlahnya 12 buah, sebanyak suku Bani Israil yang menjadi umat Nabi Musa. Bekas mata air yang dikenal sebagai Uyun Musa itu masih bisa dilihat di padang pasir Sinai

Tidak hanya itu, mereka kemudian meminta lagi dengan cerewetnya, agar Musa memintakan kepada Tuhannya, segala macam sayuran, buah-buahan, rempah-rempah, dan segala macam yang mereka butuhkan. Permintaan itu membuat Musa marah. Padahal, kata Musa, mereka bisa memperoleh itu di kota-kota terdekat karena tak mungkin mendapatkannya di Gurun Sinai yang tandus.

Musa memutuskan untuk bersabar dalam membimbing umatnya. Dia menunggu Bani Israil sampai melahirkan generasi berikutnya. Pelajaran sabar itulah yang dia peroleh dari Nabi Khidr, ketika Allah memerintahkan untuk berguru kepadanya. Empat puluh tahun kemudian, Musa berhasil mendidik generasi muda Bani Israil untuk berjuang memasuki negeri harapan, yakni Palestina. Sayang, dia keburu meninggal sebelum Bani Israil berhasil masuk ke kota suci itu. (bersambung/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 5 SEPTEMBER 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=153790

Sabtu, 04 September 2010

Merneptah, Firaun yang Tenggelam di Laut Merah

MISTERI besar yang masih belum terjawab tuntas selama ini adalah siapakah Firaun yang bertarung melawan Nabi Musa namun akhirnya mati tenggelam di Laut Merah? Yang jelas bukan Firaun Ramses II yang hidup sezaman dengan Musa dan bahkan merawatnya sejak kecil. Sebab, Ramses II meninggal bukan karena tenggelam di tengah laut, melainkan lantaran sakit komplikasi pada masa tuanya. Ramses II meninggal pada usia 97 tahun.

Kekuasaan Ramses II kemudian digantikan anaknya, Merneptah. Dia merupakan anak laki-laki tertua yang masih hidup, setelah dua belas kakak laki-lakinya meninggal sebelum masa pewarisan. Merneptah diangkat menjadi Firaun (raja) pada usia 50 tahun. Hampir sebaya dengan Musa. Sebelumnya, dia adalah panglima perang tentara Ramses II yang sangat terkenal. Pasukannya beranggota ratusan ribu tentara.

Seperti bapaknya, ketika berkuasa, Merneptah juga memproklamasikan diri sebagai Tuhan. Sikap sewenang-wenangnya tak jauh berbeda dari bapaknya. Jika Ra Mses bermakna keturunan Dewa Matahari (Ra), Merne Ptah bermakna Kesayangan Dewa Pencipta (Ptah). Merneptah mengendalikan kekuasaannya secara diktator militer. Dia akan menghukum siapa saja yang berani menentangnya dan tak segan-segan membunuhnya secara keji.

Alquran menggambarkan, Nabi Musa sempat ciut nyali ketika diperintah Allah untuk menemui penguasa negeri Mesir itu. ''Pergilah kepada Firaun; sesungguhnya ia telah melampaui batas. Berkata Musa: Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku,'' (QS 20: 24-25).

Maka, Musa meminta izin kepada Allah agar memperbolehkan Harun, saudara sepupunya, untuk menemani dirinya dalam berdakwah. Apalagi untuk menghadapi Firaun dengan balatentaranya yang terkenal bengis itu.

''Sungguh, aku akan memotong tangan dan kakimu bersilangan secara timbal balik, kemudian sungguh aku akan menyalib kamu semuanya.'' Demikian ancam Firaun kepada siapa saja yang berani menentangnya. Termasuk kepada para tukang sihir yang kalah saat melawan Musa dan lantas memberikan pengakuan bahwa Musa benar-benar utusan Tuhan.

Apa yang dibawa Musa bukanlah sihir, melainkan mukjizat. Karena itu, bertambah murkalah sang Firaun terhadap Musa. Dia lalu mengobarkan permusuhan kepada Bani Israil (Musa, termasuk keturunan Bani Israil) secara lebih keras.

Tidak hanya memerintahkan untuk membunuh setiap anak laki-laki Bani Israil yang lahir, Firaun juga menyiksa dan menumpas Bani Israil. Pertarungan antara Musa melawan Firaun berlangsung sekitar 10 tahun, saat masa pemerintahan Merneptah (1213-1203 SM).

Pada zaman Merneptah itulah bangsa Israil kemudian terusir dari Mesir. Hal itu terlihat dari artefak di Museum Mesir, Kairo. Bukti sejarah tersebut ditulis dalam huruf Hiroglif di sebidang batu granit yang kemudian dinamakan Prasasti Merneptah atau Israel Stela. Itulah satu-satunya prasasti yang menyinggung tentang Bani Israil dalam artefak para Firaun yang berkuasa sepanjang ribuan tahun (dalam 30 dinasti).

Tak tahan menghadapi kebrutalan Firaun dan balatentaranya, Musa lalu mengajak seluruh Bani Israil untuk eksodus besar-besaran menuju Palestina, dengan menyeberangi laut di Teluk Suez. Ada tiga pendapat utama tentang lokasi penyeberangan itu. Yang pertama terletak di Danau Ballah, yang posisinya lebih dekat dengan Laut Mediterania dibanding Laut Merah. Jaraknya lebih dari 150 km dari Memphis.

Yang kedua, terletak di Danau Timsah yang berjarak sekitar 120 km. Sementara itu, versi ketiga, berada di ujung Teluk Suez yang berjarak tidak sampai 100 km. Saya lebih condong alternatif yang ketiga tersebut, yaitu di ujung Teluk Suez yang masih terhubung langsung dengan Laut Merah.

Ada alasan kuat yang mendasarinya. Yaitu, rombongan Musa sedang dikejar-kejar tentara Firaun. Tentu saja mereka berusaha sesegera mungkin untuk mencapai pantai. Sebab, menurut QS 20: 77, Musa dan rombongannya memang diperintah untuk berangkat saat malam menuju pantai dan baru tersusul Firaun serta pasukannya pada pagi. Karena itu, arah yang terdekat untuk menyeberang adalah Teluk Suez. Ayat itu menyebut laut sebagai tempat penyeberangan, bukan danau.

Selain itu, perjalanan ratusan ribu orang tersebut dilakukan dengan berjalan kaki. Tentu, mereka memilih jarak yang terdekat untuk sampai tujuan. Jika kecepatan berjalan mereka sekitar 15 km/jam, rombongan perlu waktu 6-7 jam untuk sampai di pantai. Berarti, sudah memasuki waktu pagi.

''Maka, setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul. Musa menjawab: Sekali-kali tidak akan tersusul; sungguh Tuhanku besertaku, Dia akan memberikan petunjuk kepadaku'' (QS 26: 61-62).

Benarlah apa yang menjadi keyakinan Musa. Allah memberikan pertolongan di luar dugaan. Sebab, Musa sendiri sebetulnya tidak tahu harus melakukan apa setelah rombongan Bani Israil sampai di tepi pantai, sementara tentara yang dipimpin Firaun semakin dekat.

Allah lalu memerintah Musa untuk memukul laut dengan tongkat yang dibawanya. Seketika itu juga bumi bergetar, diperkirakan terjadi gempa tektonik yang mengakibatkan tsunami. Air laut pun surut beberapa saat, sehingga memberikan kesempatan kepada rombongan Musa untuk menyeberang.

Tapi, tidak demikian halnya dengan pasukan Firaun yang berusaha mengejar rombongan Musa yang sudah sampai di seberang. Begitu Firaun dan pasukannya sampai di tengah laut, ombak besar menggulung mereka.

''Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu (Musa), lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan'' (QS 2: 50).

***

Musa, sang utusan Allah, akhirnya bisa mengalahkan Firaun. Penguasa yang mengaku dirinya sebagai Tuhan itu pun tenggelam bersama ribuan tentara yang dikerahkan untuk membasmi Bani Israil. Allah menyelamatkan jasadnya untuk dijadikan pelajaran bagi umat yang hidup kemudian.

''Maka, pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Firaun) supaya menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami'' (QS 10: 92).

Jenazah Firaun ditemukan beberapa hari kemudian oleh masyarakat di tepi pantai dan lantas diserahkan kepada pihak kerajaan. Keganasan Firaun Merneptah pun runtuh dalam sepuluh tahun kekuasaannya. Jasadnya dimumifikasi dan dikubur di Lembah Raja, di makam keluarga KV-5. Kini, muminya bisa disaksikan di Museum Mesir, Kairo, yang dibaringkan berdekatan dengan mumi ayahnya, Ramses II.

Tapi, menariknya, warna kulit mumi Merneptah berbeda dari mumi-mumi lainnya. Mumi Firaun yang satu ini berwarna pucat keputih-putihan. Diduga, itu terjadi karena jenazahnya terendam air laut selama beberapa hari saat tenggelam di Laut Merah. (bersambung/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 4 SEPTEMBER 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=showpage&kat=1&subkat=53

Jumat, 03 September 2010

Bergerak setelah 3.127 Tahun Jadi Mumi

SEJAK kemarin (2/9), kami menyimpang dari jalur Sungai Nil menuju Gurun Sinai untuk napak tilas kisah Nabi Musa. Dialah musuh besar Firaun yang diceritakan oleh agama-agama Ibrahim di dalam kitab Taurat, Injil, dan Alquran. Utusan Allah yang terlahir di zaman Ramses II ini sangat banyak diceritakan di dalam kitab suci sebagai ''petarung tangguh'' yang diutus Tuhan untuk menghentikan keganasan Firaun.

Sejak dari Abu Simbel di perbatasan Sudan sampai Kairo, sebenarnya tim ekspedisi sudah menempuh sekitar 85 persen panjang Sungai Nil. Tidak jauh lagi kami akan sampai di Alexandria sebagai muara sungai terpanjang di dunia itu. Jaraknya hanya tinggal 250 km. Tetapi, selama beberapa hari ke depan, kami sengaja tidak melanjutkan perjalanan menyusuri sungai ke arah muara, melainkan menyimpang ke timur menyeberang Teluk Suez terlebih dahulu.

Ada beberapa agenda yang ingin kami telusuri terkait dengan kisah eksodus Bani Israil dari Mesir. Itu berhubungan erat dengan berbagai situs Mesir kuno yang bercerita tentang Firaun di sepanjang Sungai Nil. Dengan mengembangkan penelusuran ini, saya berharap pembaca akan memperoleh gambaran lebih utuh tentang kisah Firaun v Nabi Musa.

Di manakah Musa dilahirkan? Di mana dia dibesarkan? Di mana pula dia melakukan penyeberangan saat dikejar oleh Firaun? Siapakah Firaun yang tenggelam di Laut Merah: Ramses II ataukah Firaun yang lain? Dan seterusnya, termasuk saya akan mendaki Gunung Sinai untuk merasakan suasana saat Nabi Musa menerima wahyu Taurat di Jabbal Musa.

Kami akan mengakhiri napak tilas kisah Musa ini di Kota Sharm El Sheikh, tempat Musa bertemu dengan manusia misterius, Khidr, yang sempat menjadi guru spiritualnya. Perjalanan menyusuri kawasan Sinai menempuh jarak lebih dari 1.000 km, sampai balik lagi ke lembah Sungai Nil di dekat delta untuk melanjutkan ekpedisi ke muaranya di laut Mediterania.

Tidak seperti biasanya yang bercerita secara deskriptif, setidak-tidaknya dalam dua tulisan ini (hari ini dan besok), saya akan memberikan sedikit analisis untuk menyambungkan cerita secara utuh tentang kisah Musa v Firaun. Selebihnya, saya akan menuangkan cerita perjalanan spiritual ini dalam bentuk buku yang insya Allah akan saya terbitkan bulan depan.

Saya sempat menyinggung keberadaan Musa dan Firaun ketika bercerita tentang Kota Fayoum. Kawasan subur itu pernah menjadi permukiman orang Yahudi alias Bani Israil sejak zaman Nabi Yusuf. Di sanalah istana Qarun berada. Di sekitar kawasan itu pula Nabi Musa dilahirkan.

Kalau kita lihat dalam peta Sungai Nil, kota tersebut ada sebelum Kota Memphis, yang kala itu sudah tidak menjadi ibu kota Kerajaan Mesir lagi. Ibu kota di zaman Ramses II sudah berpindah ke Luxor. Tetapi, Memphis masih menjadi kota metropolitan sampai ribuan tahun kemudian. Karena itu, wajar para raja memiliki istana musim panas di kawasan dekat delta Sungai Nil tersebut. Tak terkecuali Raja Ramses II. Tidak heran pula bila di Museum Memphis terdapat patung Ramses II dalam ukuran raksasa.

Saat Musa dilahirkan, Ramses II sudah berusia di atas 54 tahun. Dia sudah mengangkat dirinya sebagai Tuhan. Kalau kita telusuri sejarahnya, Ramses II diangkat sebagai Firaun pada usia 24 tahun. Dia sudah sepenuhnya mengendalikan Mesir dalam waktu dua puluh tahun pertama. Saat mengangkat dirinya sebagai Tuhan, kekuasaannya sudah berlangsung 30 tahun.

Setelah waktu itulah, Musa lahir dari rahim seorang wanita Bani Israil sebagai keturunan keempat dari Nabi Yakub. Musa sezaman dengan Qarun, familinya, yang bekerja pada Ramses II sebagai penjilat. Kelahiran Musa menggusarkan Firaun. Sebab, para penasihat spiritualnya mengatakan bahwa akan lahir bayi laki-laki dari kalangan Bani Israil yang kelak mengalahkan kekuasaan Firaun. Dia pun memerintahkan pembunuhan setiap bayi laki-laki dari Bani Israil (QS. 2: 49).

Tetapi, bayi Musa diselamatkan oleh Allah dengan cara yang sangat istimewa. Ibu Musa memperoleh ilham dari Allah untuk menghanyutkan bayinya di aliran Sungai Nil. Atas kehendak-Nya, bayi yang diletakkan di keranjang bayi itu akhirnya ''berlabuh'' di istana Firaun di Memphis. Saat itu, sangat mungkin Nefertari, istri yang paling dicintai Firaun, sedang berada di taman pinggir Sungai Nil. Dia melihat bayi lucu itu dan langsung jatuh hati kepadanya.

Maka, dia lalu mengambil bayi tersebut dari keranjangnya dan meminta Firaun tidak membunuhnya. Bahkan, justru memelihara bayi laki-laki berkulit putih yang jelas-jelas bukan dari kaum Firaun tersebut (QS. 28:9). Ramses II tidak mampu menolak permintaan sang istri tercinta. Apalagi Nefertari pernah kehilangan anak laki-laki, Amunherkhepseshef, yang meninggal saat masih remaja. Anak laki-laki itu semula digadang-gadang menjadi pangeran yang akan menduduki takhta kekuasaan Ramses II.

Selama tinggal di kerajaan Firaun, Musa terus mendapat perlindungan Allah. Bayi itu tidak mau disusui siapa pun. Dia hanya mau menyusu kepada ibu kandungnya yang berwajah Bani Israil. Maka, untuk memenuhi permintaan istri tercinta, Ramses menyelenggarakan sayembara mencari perempuan yang mampu mengasuh dan menyusui bayi itu. Akhirnya terpilihlah ibu Musa sebagai pengasuh yang menyusui dan memelihara Musa sampai masa kanak-kanaknya berakhir (QS. 28: 12).

Singkat cerita, Nabi Musa yang musuh besar Firaun itu sejak bayi dipelihara dan dibesarkan di dalam istana Firaun sendiri. Sampai suatu ketika, setelah menjadi pemuda, dia membunuh orang Qibthi (orang Mesir asli) yang sedang berkelahi dengan seorang pemuda Bani Israil. Firaun pun tidak mampu menahan diri untuk menghukum Musa. Dia geram kepada Musa, pemuda Bani Israil yang sudah dipeliharanya bertahun-tahun tetapi tetap menunjukkan pembelaannya kepada Bani Israil yang dia benci.

Musa lari, meninggalkan Kota Memphis menuju negeri Madyan, di timur Mesir. Di sana, Musa diambil menantu oleh Nabi Syuaib sekaligus belajar agama kepadanya selama sepuluh tahun atau lebih (QS.28: 27). Menjelang usia empat puluh tahun, Musa bersama keluarganya meninggalkan negeri Madyan menuju Mesir. Di tengah perjalanan, di sekitar Gunung Sinai, Musa melihat api di sebuah bukit. Dia pun mendaki bukit itu. Ternyata, di bukit itulah dia menerima perintah dari Allah untuk menghentikan kesewenang-wenangan Firaun serta mendakwahkan agama Tauhid. Allah pun membekali Musa dengan beberapa mukjizat.

Sebelum kedatangannya kembali ke Mesir itulah, Firaun Ramses II meninggal dunia. Beberapa tahun sebelum kematiannya, Ramses II menderita sakit komplikasi yang menyiksanya. Kekuasaannya tidak lagi efektif sehingga kemudian diserahkan ke anaknya, Merneptah, yang sekaligus panglima perangnya. Ramses II meninggal dunia dalam usia 97 tahun dan dimakamkan di Lembah Raja. Sayang, makamnya dibobol pencuri harta Firaun. Keberadaan muminya sempat tidak jelas. Baru pada 1881, mumi Ramses II ditemukan para arkeolog di sekitar Lembah Raja untuk dipindahkan ke Museum Mesir di Kairo.

Yang menarik, kata para arkeolog, ketika kain kafan mumi itu dibuka, tangan kiri Ramses II bergerak terangkat dari posisi silang di depan dadanya. Dia lalu menunjukkan ekspresi terakhirnya saat meregang nyawa. Entah apa yang mengakibatkan tangan mumi itu bisa bergerak meski sudah lewat 3.127 tahun dari saat kematiannya. (bersambung/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 3 SEPTEMBER 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=153462

Kubah Timah Putihnya Berpendar di Langit Kairo

Ada satu ikon Kota Kairo yang selalu menghiasi buku-buku panduan wisata bagi para turis. Yaitu, Masjid Muhammad Ali Pasha. Masjid dalam Benteng Shalahuddin itu sungguh indah. Kubahnya yang berlapis timah putih berpendar di langit Kairo, terlihat dari berbagai penjuru kota. Apalagi, benteng tersebut memang berada di Bukit Muqattam yang tinggi.

Masjid yang didirikan pada 1830, zaman Sultan Ali Pasha, itu kini sudah berusia 180 tahun. Masjid tersebut dibangun Yusuf Bushnak, arsitek dari Turki kelahiran Bosnia. Desainnya mengadaptasi bangunan-bangunan Romawi dan Eropa modern. Tempat ibadah itu berlokasi di bagian tertinggi Benteng Shalahuddin sehingga harus menghancurkan dua bangunan bekas istana Mamluk, yang pernah berkuasa di Mesir.

Saya sengaja datang Jumat. Sebab, pada hari itu masjid agung tersebut tidak digunakan untuk salat lima waktu. Ruang masjidnya luas dengan desain akustik yang memukau. Tata suara dalam masjid didesain sedemikian rupa. Karena itu, suara muazin yang mengumandangkan azan tanpa pengeras suara pun tetap terdengar cukup jelas. Apalagi menggunakan mikrofon, suara khatib yang berkhotbah bergema dengan megah.

Desain konstruksinya juga hebat. Kubahnya yang setinggi 52 meter hanya disangga empat tiang dengan bentangan lebih dari 25 meter. Apalagi, bagian dalam kubah tersebut masih dibebani lampu gantung khas Eropa yang berbobot lebih dari 2 ton. Sedangkan di bagian luar, menjulang menara-menara setinggi 82 meter. Saya dan teman saya yang berpendidikan teknik sipil berdecak kagum kala mengamati bangunan itu.

Kubah tersebut tidak hanya indah dari luar. Dari dalam masjid pun, eloknya bukan main. Selain ornamen, kubah utamanya disanggah empat kubah berbentuk setengah lingkaran yang berukuran lebih kecil. Di situlah kecerdikan sang arsitek. Dia bisa memadukan kebutuhan artistik dan kekuatan konstruksi.

Di pojok-pojok pertemuan antarkubah utama dan pendukung terdapat kaligrafi nama-nama khalifah pada zaman Khulafaur Rasyidin. Yakni, Abu Bakar, Umar bin Khathab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Sedangkan bagian atas mihrab bertulisan Allah dan Muhammad Rasulullah.

Warna hijau dan emas mendominasi dekorasi interior masjid. Berpadu dengan batu onyx dan marmer putih bergurat-gurat cokelat. Sedangkan karpet merah menyala tergelar di lantainya. Sungguh kombinasi yang benar-benar indah. Masjid dengan desain modern itu menunjukkan cita rasa Sultan Ali Pasha yang tinggi. Dia ingin menampilkan Islam Mesir dalam wajah modern.

Padahal, Ali Pasha bukan orang Mesir asli. Dia orang Albania asal Kavalla yang datang ke Mesir sebagai panglima pasukan Turki utusan Dinasti Usmani. Ali dikirim untuk membantu rakyat Mesir melawan pasukan Prancis di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte yang menjajah Mesir.

Keberhasilan memukul mundur tentara Napoleon mengantarkan Ali menduduki jabatan gubernur Mesir. Dia mendapatkan dukungan rakyat dan memperoleh restu ulama-ulama Al Azhar. Maka, sejak itulah dia merintis Dinasti Muhammad Ali Pasha yang menjadi kerajaan terakhir di Mesir. Ali berkuasa di Mesir selama 44 tahun (1805-1849).

Pemerintahannya bergaya militer. Untuk menstabilkan situasi dalam negeri, Ali perlu menumpas petinggi-petinggi Mamluk yang menguasai Mesir pada generasi sebelumnya. Ratusan petinggi Mamluk diundang makan di istana, kemudian dihabisi tanpa ada yang tersisa. Konon, jumlahnya tak kurang dari 500 orang.

Sultan yang kontroversial itu mengembangkan Mesir modern dengan dibantu anaknya, Ibrahim Pasha. Di bawah kendali bapak-anak tersebut, kekuasaan Mesir meluas sampai Syria, Palestina, Yaman, Saudi Arabia, bahkan Oman, Iraq, dan Bahrain. Ali bercita-cita membuat imperium Islam baru untuk menyaingi Dinasti Usmani, Turki, yang mengutusnya. Tetapi, pada akhirnya kekuasaan Ali bisa ditekan Turki yang bersekutu dengan Inggris dan Prancis. Sejak itulah intervensi dunia Barat masuk ke Mesir hingga kini.

Pada zaman Dinasti Ali Pasha itulah Mesir berkembang menjadi negara yang berorientasi ke Barat, khususnya Eropa. Lebih khusus lagi, ke Prancis. Ali mengirim banyak pelajar untuk bersekolah di Eropa. Dia juga melakukan berbagai kerja sama ekonomi dan perdagangan serta mengembangkan sistem administrasi pemerintahan, arsitektur, seni budaya, dan konstruksi bangunan.

Pada zaman Muhammad Ali pula, Mesir membangun bendungan-bendungan baru, memperbaiki kanal-kanal pengairan Sungai Nil, dan menumbuhkan sektor pertanian. Dia memberikan perhatian lebih kepada komoditas kapas dan tebu. Dia juga memperkuat armada militer sehingga sangat disegani di kawasan Timur Tengah.

Dinasti Ali Pasha runtuh pada zaman Raja Farouq, tepatnya 1952. Raja yang terkenal hidup mewah itu dikudeta rakyat Mesir di bawah pimpinan Jenderal Muhammad Najib dan Gamal Abdul Nasser, yang kemudian mereformasi pemerintahan Mesir menjadi republik pada 1953. Sistem pemerintahan itu bertahan hingga sekarang. Sedangkan Raja Farouq diasingkan ke Monaco sampai meninggal. Raja berbobot 140 kg tersebut wafat di atas meja makan saat jamuan di Roma, Italia, dalam usia 45 tahun.

Setelah Ali wafat, keturunannya meneruskan kebijakan membawa Mesir ke Western-minded. Pada era Said Pasha, Mesir membangun Terusan Suez bekerja sama dengan Inggris dan Ferdinand de Lesseps dari Prancis. Kanal strategis itu menjadi salah satu sumber pemasukan yang signifikan, yang kelak menjadi rebutan tiga negara pengelola (Mesir, Inggris, dan Prancis). Sampai kini, Terusan Suez menjadi jalur kapal-kapal besar berlalu lalang antara Laut Mediterania dan Laut Merah.

***

Begitu banyak kisah yang dihamparkan Allah di sekitar kita. Ada yang baik. Ada juga yang buruk. Semua mengandung hikmah bagi kita agar menjadi orang yang lebih baik pada masa depan.

Sedangkan orang sukses adalah orang yang bisa mengendalikan diri untuk selalu berbuat baik. Itulah yang dalam Alquran disebut sebagai orang bertakwa. Sementara itu, orang zalim adalah pihak yang tak mampu mengendalikan dorongan hawa nafsu sehingga mencelakakan diri sendiri di dunia maupun akhirat.

"Maka, pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhan? Allah membiarkannya tersesat berdasar ilmu-Nya. Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka, siapakah yang akan memberinya petunjuk selain Allah? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS 45: 23)." (bersambung/c11/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 02 SEPTEMBER 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=153272

Rabu, 01 September 2010

Benteng Megah yang Tak Pernah Dipakai Perang

SHALAHUDDIN al Ayyubi adalah legenda yang masih hidup sampai sekarang. Namanya tercatat dalam buku-buku sejarah dunia dan salah satu peninggalannya masih berdiri megah di Kota Kairo. Yakni, Benteng Shalahuddin. Penguasa Mesir abad ke-12 kelahiran Tikrit, Iraq, itu dikenal sebagai pahlawan Islam dalam cerita Perang Sabil.

Benteng tersebut sangat megah, berdiri di kawasan Jabbal Muqattam. Kawasan itu termasuk perbukitan paling tinggi di Kairo. Shalahuddin memilih perbukitan tersebut untuk membangun benteng pertahanan dengan pertimbangan posisinya yang sangat strategis untuk mengontrol kawasan-kawasan penting dari serangan musuh.

Selain itu, udaranya cukup segar. Untuk mengetes kesegaran udara itu di perbukitan tersebut, Shalahuddin dikabarkan memerintah stafnya untuk menyebarkan daging di berbagai kawasan Kairo. Ternyata, daging di kawasan Jabbal Muqattam bertahan lebih lama dibanding di kawasan lain.

Kawasan itu juga sangat indah saat malam. Tak jauh dari benteng tersebut, saya sempat duduk-duduk dengan orang-orang yang sedang menikmati teh atau kopi sambil menyaksikan kerlap-kerlip Kota Kairo waktu malam.

Untuk memasuki benteng itu, kendaraan pribadi harus parkir agak jauh, di bawah bukit. Tidak ada kendaraan untuk naik, kecuali harus berjalan kaki.

Namun, dari jauh, keindahan benteng tersebut memang sudah sangat menarik hati, sehingga jarak ratusan meter untuk naik perbukitan tidak menjadi masalah. Ada tiga pintu gerbang yang bisa dimasuki untuk menuju benteng tersebut. Yaitu, dari arah barat, utara, dan selatan. Tapi, yang kini diaktifkan hanya pintu bagian selatan yang berhalaman luas yang sebagian untuk parkir bus-bus wisatawan.

Begitu masuk kompleks benteng, kita disambut pintu gerbang yang megah, dengan menara yang kukuh menjulang ke langit. Tinggi dinding benteng itu sekitar 10 meter dengan ketebalan 3 meter. Menara itu dibangun pada jarak setiap seratus meter sebagai konsentrasi pertahanan dari serangan musuh.

Di menara tersebut terlihat banyak lubang jendela untuk pasukan pemanah membidik sasaran musuh. Bagian paling atas adalah dek terbuka untuk menempatkan senjata meriam.

Benteng yang didirikan pada 1176 itu dibangun dengan arsitektur Kastil termaju di zamannya. Pertahanannya berlapis tiga. Yang pertama, pertahanan jarak jauh menggunakan meriam dan senjata panah. Itu dilakukan lewat menara-menara di sekeliling benteng.

Jika pasukan musuh berhasil masuk ke benteng, mereka akan disambut ruang terbuka di dalam benteng yang dikelilingi tembok-tembok tinggi. Dengan demikian, pasukan musuh akan menjadi sasaran empuk pasukan Shalahuddin yang bersiap di atas benteng.

Seandainya musuh berhasil melewati daerah itu, mereka akan disambut lorong-lorong bercabang yang panjangnya 2.100 meter. Di situlah pasukan musuh akan dibantai satu per satu.

Shalahuddin al Ayyubi datang ke Mesir pada usia 30 tahun bersama pamannya, Assaduddin Shirkuh, gubernur Homs di Syria, untuk melakukan ekspedisi militer. Mereka dikirim oleh penguasa Dinasti Abbasiyah, Sultan Nuruddin, untuk membantu Dinasti Fatimiyah yang berkuasa di Mesir mengatasi pergolakan politik yang membahayakan posisi Sultan Al 'Adid.

Misi itu sukses, sehingga Shirkuh diangkat menjadi penasihat Sultan 'Adid sampai wafat. Sepeninggal Shirkuh, Sultan 'Adid mengangkat Shalahuddin sebagai penasihat Kerajaan Mesir. Shalahuddin yang terlahir dari keluarga Islam Sunni mazab Syafii itu memang memiliki latar belakang militer yang kuat. Sebab, ayahnya, Najmuddin Ayyub, adalah salah seorang panglima perang yang tangguh dalam Dinasti Abbasiyah.

Selama menjadi penasihat sultan itulah, Shalahuddin belajar banyak yang kemudian menjadi batu loncatan bagi karirnya untuk menduduki takhta kekuasaan Mesir. Pada 1171, Sultan al 'Adid wafat. Shalahuddin pun menjadi penguasa penuh Kerajaan Mesir. Dia mengangkat dirinya sebagai sultan dan menjadi pendiri Dinasti al Ayyubi di Mesir. Kemudian, dia memisahkan diri dari Dinasti Abbasiyah yang berkuasa di Damaskus pada 1174, ketika Sultan Nuruddin wafat.

Dua tahun setelah berkuasa penuh itulah Shalahuddin membangun bentengnya di Kairo. Kekuasaannya meluas sampai ke Syria, Yaman, Maroko, Palestina, Iraq, serta sebagian Jazirah Arabiyah, termasuk kota suci Makkah.

Karena itu, tidak sedikit yang menyejajarkan kehebatan Sultan Shalahuddin dengan Umar bin Khathab, Umar bin Abdul Aziz, ataupun Harun Al Rasyid yang juga legendaris.

Shalahuddin memberikan warna yang berbeda kepada masyarakat Mesir, dengan mengubah orientasi keislaman mereka. Pada zaman Bani Fatimiyah, mazhab Islamnya adalah Syiah. Tapi, pada zaman Shalahuddin berangsur-angsur berubah menjadi Sunni bermazhab Syafii yang kental. Itu pun berlangsung sampai sekarang. Meski masyarakat Mesir sangat terbuka untuk berbagai aliran dan mazhab, Sunni lebih dominan.

Setelah merasa kuat dan bisa mengatasi situasi dalam negeri Mesir, Shalahuddin memulai Perang Sabil pada 1187 untuk merebut Al Quds di Palestina dari tangan orang-orang Kristen. Ada pula yang menyebut perang itu sebagai Perang Salib. Dalam waktu empat bulan, dia berhasil menguasai Tiberias dan Hittin.

Raja Yerusalem saat itu, Guy De Lugsinan, pun berhasil ditawan. Maka, itu menjadi pembuka jalan bagi dirinya untuk masuk ke Al Quds. Shalahuddin lantas membuat perjanjian damai dengan orang-orang Kristen untuk boleh memasuki Yerusalem. Sampai akhirnya, dia meninggal di Syria pada 1193 dan dimakamkan di sana.

***

Yang menarik, Benteng Shalahuddin yang megah itu ternyata tidak pernah digunakan untuk berperang selama masa berdirinya. Kini sudah berusia 834 tahun. Selama itu, benteng tersebut berganti-ganti tangan dari satu penguasa ke penguasa yang lain. Namun, hanya dipakai sebagai istana tempat tinggal raja dan sultan sampai abad ke-19. Sultan Ali Pasha adalah pendiri dinasti terakhir Kerajaan Mesir itu.

Orang besar meninggalkan karya besar dan namanya akan dikenang sepanjang sejarah kehidupan manusia. Shalahuddin al Ayyubi adalah salah seorang di antaranya. Dia seorang panglima perang yang hebat, politikus yang ulung, negarawan yang tangguh, sekaligus seorang ulama yang memberikan keteladanan lewat akhlaknya yang mulia.

Bukan hanya umat Islam yang mengakui kehebatannya, tapi juga para orientalis Barat. Di antaranya diceritakan dalam buku Talisman karya Walter Scott dan Nathan der Weise karya Lessing.

''Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan banyak mengerjakan amal kebajikan adalah sebaik-baiknya makhluk (QS 98: 7)''

''... maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala atas amal-amal mereka itu...'' (QS 3: 5). (bersambung/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 1 SEPTEMBER 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=showpage&kat=1&subkat=53

Selasa, 31 Agustus 2010

Masjid Berdampingan dengan Gereja dan Sinagoge

ADA sebuah kawasan di Kairo yang menjadi saksi bisu masuknya Islam ke Mesir. Yakni, kawasan Kairo lama. Di kawasan itu dulu terdapat Kota Fustat sebagai pusat pemerintahan Provinsi Mesir. Saat itu Mesir dipimpin Gubernur Amru bin Ash yang ditunjuk langsung oleh khalifah Umar bin Khathab yang berkedudukan di Madinah, setelah menundukkan kekuasaan Romawi di Mesir.

Memasuki kawasan Kairo lama, kita memang tidak bisa merasakan lagi kemegahannya. Khususnya, jika dibandingkan dengan kawasan Kairo modern yang penuh gedung bertingkat. Tetapi, sungguh sangat menarik jika kita melakukan penelusuran lebih jauh di Kairo lama. Terutama, memasuki lorong-lorong bawah tanah yang menjadi bagian kawasan asli waktu itu. Di sanalah saya menemukan gereja Kristen dan Sinagog Yahudi yang sampai sekarang masih aktif digunakan. Kedua tempat ibadah itu berada tidak jauh dari masjid besar Amru bin Ash yang menjadi pusat kegiatan pemerintahan Mesir.

Beberapa kali saya sempat salat di masjid tua yang sudah berusia sekitar 1.500 tahun itu. Termasuk salat Tarawih. Saat itu imam salatnya menyenangkan. Bacaan Qurannya sangat bagus, suaranya merdu dan berwibawa. Salat di masjid itu terasa mantap dan khusyuk meski surat yang dibaca imam panjang-panjang. Setiap salat -dua rakaat, satu salam- rata-rata memakan waktu 15 menit. Maka, bagi yang menjalankan Tarawih 8 rakaat (plus tiga rakaat Witir), salatnya bisa memakan waktu sekitar satu jam. Sedangkan bagi yang menjalankan salat tarawih 20 rakaat (plus tiga rakaat salat witir), butuh waktu sekitar 2,5 jam.

Menjelang musim dingin seperti sekarang ini, waktu salat di Mesir dimajukan satu jam. Salat Isya yang biasanya pukul 21.30 menjadi pukul 20.30. Maka, salat Tarawih dengan 20 rakaat baru selesai sekitar pukul 23.30. Itu pun masih ada jamaah yang melanjutkan dengan salat Tasbih dan salat Tahajud, sepanjang malam.

Yang juga menarik, karena surat yang dibaca imam cukup panjang, banyak makmum yang menyimak sambil membaca kitab suci Alquran di tangan. Jadi, sambil berdiri salat, sebagian makmum membuka-buka Quran, sesuai dengan ayat yang dibaca imam. Pemandangan seperti itu jarang ada di Indonesia. Tetapi, di Mesir dan negara-negara Arab lainnya, salat seperti itu termasuk biasa. Bahkan, ada pula yang salat sambil membaca Alquran digital di handphone-nya. Yang tidak mengerti, mengira orang itu salat sambil SMS-an.

***

Amru bin Ash adalah panglima perang yang tangguh, sekaligus politikus ulung. Dia yang masuk Islam menjelang ditaklukkannya Kota Makkah, menjadi ujung tombak syiar Islam yang hebat di zaman Khulafaurrasyidin. Dia menjadi salah satu kekuatan inti sejak zaman Khalifah Abu Bakar. Prestasi terbesarnya pada zaman Umar bin Khathab, ketika dia bisa menundukkan kekuasaan Romawi yang waktu itu menjadi salah satu negara super power dunia bersama Kerajaan Persia.

Pasukan Amru bin Ash yang hanya 4.000 orang berhasil mengalahkan pasukan garis depan Romawi yang berada di kawasan sekitar Gaza sekarang. Setelah memperoleh bantuan pasukan 5.000 orang di bawah pimpinan Zubair, Amru bin Ash menyerang jantung pertahanan penguasa Romawi di benteng Babylon, Kairo. Dalam waktu sekitar tujuh bulan, kekuasaan Romawi yang dikawal pasukan yang berjumlah dua kali lipat itu pun runtuh.

Amru bin Ash membangun masjid di dekat kawasan benteng Romawi itu. Dia menamai kawasan ini sebagai Kota Al Fustat, yang kemudian menjadi pusat pemerintahan Islam pertama di Mesir. Pada 642 M itulah dia mulai membangun Mesir sebagai sebuah provinsi yang besar dan menyiarkan agama Islam dengan damai kepada masyarakat Mesir yang sebelumnya dijajah bangsa Romawi. Dia pun memindahkan ibu kota Mesir dari Alexandria ke Fustat, yang tiga abad kemudian menjadi Kota Kairo.

Di dekat Masjid Amru bin Ash berdiri beberapa gereja Kristen dan Sinagog milik orang Yahudi. Amru bin Ash tidak mengutak-atiknya. Dia memberikan keleluasaan beribadah kepada masing-masing penganut agama Samawi itu. Di antaranya Gereja St Sergius yang berdiri pada abad ke-3 M. Gereja itu dibangun di sebuah gua yang dulu pernah menjadi tempat singgah Nabi Isa dan Bunda Maryam dalam pelariannya ke Mesir saat dikejar-kejar Raja Herodes, penguasa Romawi di Palestina.

Di bekas benteng Romawi juga didirikan Gereja Babylon yang menjadi pusat perkembangan Kristen Koptik di Mesir. Gereja gantung tersebut dibangun di bagian atas tembok-tembok benteng pada abad ke-7 M. Saya sempat masuk ke dalamnya dan menikmati desain bangunannya. Arsitekturalnya perpaduan antara Romawi dan Arab. Banyak tulisan kaligrafi di dinding maupun di atas pintu-pintunya.

Menelusuri lorong-lorong bawah tanah di kawasan Kairo lama, kami juga menemukan sebuah sinagog. Sayang, ketika kami hendak masuk ke tempat ibadah orang Yahudi itu, pintu gerbangnya baru saja ditutup. Pada hari biasa, sinagog bisa dikunjungi masyarakat sampai pukul 4 sore. Tetapi, selama Ramadan, jam kunjung sinagog hanya sampai pukul 3 sore.

Sinagog ini dibangun pada abad ke-9 M dan kemudian direnovasi oleh seorang Rabbi Yahudi dari Yerusalem pada abad ke-12. Tempat peribadatan tersebut kemudian dinamai Ben Ezra Synagogue sesuai dengan nama sang Rabbi. Amru bin Ash memelihara semua itu sebagai bagian dari wilayah kekuasaan yang dipimpinnya.

Keberadaan masjid yang berdampingan dengan gereja dan sinagog itu menunjukkan hidup berdampingan dalam tatanan yang saling menghormati dalam kedamaian. Saling menolong dan melindungi kepentingan bersama dari ancaman luar yang menghancurkan. Sahabat Rasul itu tahu persis bahwa Islam memberikan kebebasan dalam beragama. Apalagi, ketiga agama samawi itu adalah agama yang dibawa oleh keluarga Nabi Ibrahim alaihissalam...

* * *

Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau mendirikan sebuah cikal bakal negara di sana. Selain mendirikan masjid sebagai pusat dakwah dan perekat umat Islam, sang Nabi membuat perjanjian dengan masyarakat setempat yang sudah mapan lebih dulu. Perjanjian itu lantas dikenal sebagai Piagam Madinah.

Salah satu isi Piagam Madinah adalah memberikan jaminan keamanan bagi seluruh warga yang berbeda suku dan agama untuk menjalankan segala tradisi kebiasaannya. Termasuk kebebasan menjalankan agama masing-masing selama mereka ingin hidup berdampingan secara damai dalam negara yang sama. Konsep Piagam Madinah inilah yang kemudian menjadi tonggak sejarah bagi berdirinya negara-negara modern dalam semangat pluralisme yang saling menghormati.

''Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau (setidak-tidaknya) balaslah (serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu'' (QS. 4: 86). ''Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku'' (QS. 109: 6). (bersambung/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 31 AUGUST 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=152931

Ziarah ke Gua Persembunyian Isa dan Maryam

Akhirnya, kami benar-benar meninggalkan Kota Luxor yang bertaburan situs penting dalam sejarah Mesir kuno. Kami berangkat pagi untuk menuju Kota Asyut yang berjarak sekitar 300 km dengan mengendarai mobil.

Menyusuri jalan sebelah timur Sungai Nil lebih baik jika dibandingkan dengan sebelah barat. Jalanan tepi barat adalah kawasan yang dikenal dengan nama zira'i alias jalanan pedesaan dan area pertanian. Sedangkan kawasan timur dikenal sebagai sakhrawi alias jalanan padang pasir. Lewat zira'i, perjalanan tidak akan lancar karena sering bertemu dengan perkampungan, pasar, dan iring-iringan kambing atau sapi. Sedangkan lewat sakhrawi jauh lebih lancar. Bahkan, rasanya seperti lewat tol meskipun harus melalui kawasan padang pasir nan tandus.

Sekitar empat jam perjalanan, sampailah kami di Kota Asyut. Sebuah kota yang bersih dan tenteram. Aliran Sungai Nil yang tenang menambah ketenteraman kota kecil itu. Tidak banyak situs Mesir kuno di kawasan tersebut. Tetapi, ada situs yang sangat menarik dari zaman Masehi. Yakni, tempat singgah Nabi Isa dan ibunya, Siti Maryam.

Sebelum pergi ke penginapan, saya memutuskan langsung berkunjung ke perbukitan Jabbal Asyut, tempat nabi Bani Israil itu singgah bersama ibunya. Daerahnya agak masuk dari jalan utama, sekitar 10 km. Kemudian, berbelok, naik ke perbukitan. Dari kejauhan, lokasi situs sudah kelihatan. Situs tersebut berupa sebuah gua besar yang kini sudah berubah menjadi sekelompok bangunan gereja: Deir Durunka. Di situlah terdapat salah satu pusat pengaderan biarawan Kristen Koptik untuk mengembangkan agamanya.

Untung, kami datang pada Agustus, saat perayaan datangnya Isa dan Maryam ke tempat tersebut dihelat. Jadi, jamaah yang berziarah sedang ramai-ramainya. Menurut panitia perayaan, jumlah jamaah yang datang bisa mencapai 1 juta orang dalam waktu 15 hari. Yaitu, mulai 7-22 Agustus.

Memasuki halaman Biara Durunka, saya mendengar suara puji-pujian dalam bahasa Arab, mirip orang Islam kala mengaji, yang disiarkan lewat pengeras suara. Ingin tahu isinya, saya membeli buku pujian itu. Bunyinya, antara lain:

Ummuna yaa 'adrak, yaa ummal masih.

Yalli fiiki daaiman biyikhlu almadiih.

Quluubna bitikhibbik khubb

ma lausy matsil.

A'idzin nufadhdhol janbik wa

naquulu taraatil.

(Ibunda kami sang perawan suci, wahai ibunda Almasih.

Yang ada pada dirimu selamanya pantas mendapatkan puji-puji.

Kami mencintaimu dengan sepenuh hati, cinta yang tak tertandingi.

Kami ingin selalu berada di sampingmu dan menghaturkan puji-puji.)

Memasuki kawasan gua suci, kami didampingi seorang biarawan bernama Abram. Dia menemani kami melihat-lihat sampai dalam gua yang ternyata cukup besar, seluas ratusan meter persegi. Di tempat itulah dulu perawan suci Maryam dan putranya, Nabi Isa, bersembuyi dari kejaran Raja Herodes yang hendak membunuh mereka.

Gua di Jabbal Asyut itu menjadi persinggahan terakhir ibu dan anak tersebut dalam menempuh perjalanan sekitar 1.000 km. Mereka berkelana sekitar tiga tahun, dimulai dari Palestina, menyeberang ke Mesir lewat Gaza dan Rafah, kemudian menyusur ke arah hulu Sungai Nil, tepatnya ke selatan. Waktu itu Nabi Isa masih berumur beberapa bulan. Dengan naik keledai dan didampingi Yusuf, paman Maryam, mereka singgah di berbagai kota di sepanjang Sungai Nil. Di antaranya, Tal Basta, Sakha, Wadi El Natrun, Bahnassa, Smalot, Dairut, Jabbal Kuskam, dan terakhir Jabbal Asyut.

Bersama biarawan Abram, saya melihat-lihat isi gua yang kini menjadi tempat peribadatan umat Kristen Koptik itu. Saya mengamati dua ruang yang pernah menjadi tempat tidur Maryam dan Isa. Yaitu, pojok kanan dan kiri bagian paling dalam gua. Di sana, banyak jamaah yang berkerumun untuk berdoa dan memohon berkah. Mereka berdoa sambil menghadap ke dalam ruang yang diberi pintu terali, yang di dalamnya terdapat foto Bunda Maryam dan Nabi Isa dalam ukuran besar. Foto ibu dan anak tersebut setiap perayaan tahunan seperti sekarang selalu diarak keliling Kota Asyut dengan dinaikkan ke kendaraan semacam kereta. Dalam waktu bersamaan, umat Kristen Koptik di sekitar Jabbal Asyut menggelar pasar malam dengan acara-acara meriah. Juga ada acara pembaptisan bayi dan anak-anak.

Peribadatan penganut Kristen Koptik memiliki sejumlah perbedaan dengan umat Kristen pada umumnya. Mereka mengaku memperoleh syiar agama lewat orang-orang suci pada zaman-zaman awal. Saya melihat foto Saint Markus dalam ukuran besar dipajang di dalam ruang gereja mereka. Orang suci itulah yang dimuliakan sebagai pembawa ajaran ke Mesir.

Salah satu di antara perbedaan tersebut adalah sembahyang tujuh kali dalam sehari yang mereka sebut sebagai as sab'u shalawat (salat tujuh waktu). Ibadah lima waktu di antaranya mirip dengan yang dijalankan oleh umat Islam, yakni pukul 06.00, 12.00, 15.00, 18.00, dan menjelang tidur. Sedangkan dua ibadah lain dilaksanakan pukul 09.00, yang mirip dengan salat Duha, dan tengah malam, yang mereka sebut sebagai nisyfu al lail, yang mirip dengan salat Tahajud. Mereka juga berpuasa 40 hari menjelang perayaan Paskah. Lalu, puncak perbedaan mereka dengan umat Kristen pada umumnya terdapat pada perayaan Natal. Mereka tidak memperingati Natal setiap 25 Desember, melainkan setiap 7 Januari.

***

Siti Maryam dan Nabi Isa adalah dua manusia yang sangat dimuliakan dalam Alquran. Mereka menjalani penderitaan dengan penuh kesabaran sebagai pengabdian yang tulus kepada Allah, sang Ilahi Rabbi yang mengutus mereka. Pada zaman Raja Herodes yang beragama pagan, seperti para firaun, ibu dan anak itu diancam dibunuh karena dikhawatirkan melahirkan masalah bagi Kerajaan Romawi.

Atas perintah Allah, mereka menjauh untuk sementara. Kemudian, mereka kembali kepada Bani Israil, menyiarkan agama tauhid untuk menentang agama-agama pagan yang dianut kebanyakan bangsa Romawi waktu itu. "Telah Kami jadikan putra Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami). Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar, yang memiliki banyak padang rumput dan sumber air bersih yang mengalir (QS. 23: 50)." (bersambung/c11/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 22 AUGUST 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=151669

Mencari Akhetaten, Kota yang Hilang

DI KOTA Asyut, kami hanya menginap semalam. Esok harinya, kami meneruskan perjalanan menuju kota berikutnya, Minya, yang berjarak sekitar 150 km dari Kota Asyut. Kami menempuhnya dalam waktu sekitar tiga jam di bawah pengawalan polisi Asyut sampai luar kota.

Perlu pengawalan polisi? Ternyata, kawasan Asyut terkenal dengan kelompok radikalnya. Polisi tidak berani mengambil risiko dengan membiarkan para turis berjalan tanpa pengawalan. Apalagi, turis asing yang tidak menguasai kondisi jalan sekitar Kota Asyut. Pengawalan secara estafet itu mengantar kami sampai benar-benar keluar dari Kota Asyut. Kami lalu disarankan menggunakan jalan zira'i alias jalan pertanian saja. Dengan begitu, kalau ada apa-apa terhadap kami di jalan, banyak orang yang bisa menolong.

Sebelum masuk ke Kota Minya yang sepi, kami memutuskan mencari situs yang jarang dikunjungi turis, yaitu sebuah kota yang hilang. Kota itu bernama Akhetaten. Itulah kota yang dulu menjadi pusat kerajaan Mesir kuno selama 16 tahun (1352-1336 SM) setelah Luxor. Rajanya bernama Ikhnaton, ayah Tutankhamun yang muminya menghebohkan karena berhias 120 kg emas.

Ada cerita menarik di sekitar Firaun Ikhnaton sehingga dirinya memindahkan ibu kota Luxor ke kota yang sama sekali baru, yang dinamai Akhetaten. Ternyata, firaun kesepuluh dalam dinasti ke-18 itu berpindah agama, dari agama pagan yang menyembah matahari ke agama tauhid yang menyembah Tuhan Yang Esa.

Ikhnaton terlahir dengan nama Amenhotep IV. Dia adalah anak Amenhotep III yang menyembah dewa matahari. Karena itu, namanya mengandung kata amun atau amen yang terkait dengan Amun Ra, sang dewa matahari. Dalam perjalanan spiritual, Amenhotep IV kemudian mengubah keyakinan. Dia membelot dan berganti nama menjadi Ikhnaton atau Akhenaten, yang bermakna pelayan Tuhan Yang Esa. Tuhannya bukan lagi Amun, melainkan Aton, sang pencipta matahari. Menurut beberapa kalangan, Amenhotep berpindah agama karena dipengaruhi ibunya, Quinty, yang konon keturunan Nabi Yusuf.

Dia lantas memindahkan ibu kota Kerajaan Mesir dari Luxor ke Akhetaten, kota yang dibangun dari nol. Sebuah kota di pinggiran Sungai Nil yang indah. Di situlah Ikhnaton mengembangkan agama tauhid selama 15 tahun masa pemerintahannya, didampingi istrinya yang terkenal cantik dan baik hati, Ratu Nefertiti.

Di bawah kepemimpinan Ikhnaton dan Nefertiti, Mesir mengalami masa transisi, termasuk revolusi dalam beragama. Ciri kuil-kuil yang dia bangun di sekitar Akhetaten berbeda dengan Kuil Karnak dan Luxor yang cenderung gelap karena tertutup atap dan pilar-pilar raksasa. Kuil Ikhnaton bernuansa terang dengan filosofi membiarkan matahari menyinari ruang-ruang di dalamnya.

Tetapi, pemindahan ibu kota kerajaan tersebut membuat para pendeta pagan yang menguasai Kuil Karnak dan Luxor geram. Karena itu, mereka mencari cara untuk menghalangi berkembangnya kekuasaan dan agama Ikhnaton. Momentum besar mereka dapatkan ketika Ikhnaton meninggal. Saat itu, anaknya, Tutankhaton, masih kecil. Dengan cerdik para pendeta pagan memengaruhi pejabat-pejabat kerajaan agar memilih menantu Ikhnaton yang bernama Smenkhkare sebagai pejabat sementara sambil menunggu Tutankhaton cukup umur.

Sekitar dua tahun masa transisi itu, Tutankhaton dilantik sebagai firaun dalam usia yang masih sangat muda, sembilan tahun. Para pendeta pagan yang berada di balik skenario tersebut bisa mengembalikan pengaruh agama pagan ke dalam istana. Maka, nama Tutankhaton diubah menjadi Tutankhamun. Kata Aton yang bermakna Tuhan Yang Esa diganti menjadi Amun yang bermakna dewa matahari. Sejak itu, ibu kota kerajaan dipindah lagi ke Luxor. Tutankhamun tidak bertahan lama dalam kekuasaan tersebut. Dia mati secara misterius dalam usia yang masih sangat muda, 18 tahun. Dia dimakamkan di Lembah Raja, sebagaimana jenazah para firaun.

Sedangkan Kota Akhetaten dibumihanguskan oleh para pendeta pagan, sehancur-hancurnya. Kota indah di tepi Sungai Nil itu kini hilang dari peta dan berganti nama menjadi Tell Al Amarna. Bisa sampai di situs reruntuhannya tidaklah mudah. Kami harus menyeberangi Sungai Nil bersama mobil kami dengan menggunakan feri. Setelah itu, kami melewati perkampungan padat untuk menuju kawasan perbukitan di kejauhan. Ketika kami sampai di sana, ternyata banyak warga setempat yang tidak mengetahui situs tersebut. Berkali-kali kami bertanya kepada penduduk, jawaban mereka selalu berubah-ubah. Membingungkan.

Ada yang menyebut situs kota yang hilang itu berada di sekitar perbukitan, tetapi ada juga yang menunjukkan arah sebaliknya ataupun lokasi yang berbeda lagi. Saya harus menyewa keledai milik penduduk setempat untuk menuju kawasan yang dimaksud. Sebab, kami tidak mungkin menggunakan mobil. Tetapi, hasilnya nihil. Akhirnya, kami memutuskan melanjutkan perjalanan menuju Kota Minya yang tidak jauh lagi.

Kami menuju dermaga penyeberangan untuk menunggu feri sekitar satu jam kemudian. Saat menunggu kapal itulah kami berbincang-bincang dengan seorang sopir tuk-tuk, kendaraan sejenis bajaj di Indonesia. Si sopir menyatakan tahu tentang reruntuhan situs yang kami maksud. Tetapi, papar dia, kami tidak bisa mencapainya dengan mobil. Kami harus naik tuk-tuk. Maka, kami berempat naik tuk-tuk menuju lokasi reruntuhan Kota Akhetaten.

Alhamdulillah, ternyata benar. Kami bisa melihat reruntuhan Kota Akhetaten zaman Ikhnaton yang sudah berusia lebih dari 3.000 tahun. Istananya benar-benar hancur, tinggal satu tiang besar yang tersisa. Di sekitarnya, tampak fondasi-fondasi bekas rumah kuno dalam radius beberapa kilometer. Secara umum, kawasan tersebut telah berubah menjadi dataran padang pasir yang tandus dengan batu-batu berserakan.

Dari kisah kota yang hilang itu, kita bisa memperoleh pelajaran bahwa perjuangan menegakkan kebajikan atas kebatilan tidak selalu mudah. Dibutuhkan pengorbanan yang besar dan kesabaran yang kuat sampai Allah memutuskan memberikan yang terbaik kepada hamba-hamba-Nya yang sabar dan istiqomah.

Kekuasaan boleh hilang, harta benda boleh lenyap, bahkan jiwa boleh melayang untuk memperjuangkan kebajikan. Tetapi, kebajikan tetap saja kebajikan dan kebatilan tetap saja kebatilan. Akan datang suatu masa kala kebajikan bersinar terang benderang, ketika umat memperoleh manfaat yang besar dari sebuah perjuangan.

"Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang baik, dan mencegah dari yang buruk. Merekalah orang-orang yang beruntung (QS 3: 104)." (bersambung/c11/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 23 AUGUST 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=151773

Kincir Nabi Yusuf di Kota Subur Fayoum

DARI Tell Al Amarna, kami meneruskan perjalanan ke Kota Fayoum. Ini adalah kota paling subur di Mesir. Jaraknya sekitar 170 km dari Kota Minya, tempat kami bermalam. Lepas dari Minya, kami menelusuri jalan zira'i, melewati desa-desa di sepanjang pinggir Sungai Nil. Sungguh menyenangkan melewati kawasan hijau penuh pepohonan setelah berhari-hari berada di jalan sakhrawi dengan pemandangan padang pasir nan tandus.

Berbelok ke arah barat, kami menyusuri sebuah kanal besar yang bersumber dari Sungai Nil sebagai aliran utamanya. Kanal itu dikenal sebagai Bahr Yusuf alias Sungai Nabi Yusuf. Sebenarnya, bukan hanya kanal itu yang mengairi kawasan Fayoum. Melainkan, ada lagi dua kanal yang mengapit tepi-tepi Kota Fayoum, yang bersumber dari Sungai Nil. Konon, kanal-kanal tersebut adalah peninggalan Nabi Yusuf yang hidup pada Zaman Pertengahan, Kerajaan Mesir kuno, sekitar abad ke-17 SM.

Ketika itu, sebagian besar kawasan Timur Tengah sedang dilanda musim kering berkepanjangan. Maka, Nabi Yusuf memperoleh kepercayaan dari raja yang berkuasa untuk mengatasi musim kering yang melanda selama tujuh tahun berturut-turut. Nabi Yusuf lantas membangun Kota Fayoum untuk dijadikan lumbung makanan bagi negeri Mesir dan sekitarnya.

Selama tujuh tahun menjelang datangnya musim paceklik itu, Nabi Yusuf berhasil menumpuk makanan sebanyak-banyaknya dari hasil pertanian di Kota Fayoum. Hasil kerja selama tujuh tahun berhasil mengatasi musim paceklik selama tujuh tahun berikutnya. Begitulah yang dijelaskan panjang lebar dalam Alquran, Surat Yusuf.

Bukan hanya orang-orang Mesir yang menerima berkah dari Kota Fayoum. Penduduk negeri-negeri di sekitar Mesir juga mendapatkannya. Di antaranya, Bani Israil yang tinggal di kawasan Palestina. Digambarkan dalam Alquran, saudara-saudara Yusuf berdatangan ke Mesir untuk meminta bantuan makanan untuk dibawa pulang ke Palestina yang berjarak ratusan kilometer dari Fayoum.

Setelah mereka tahu bahwa Yusuf yang menjadi pembesar di ibu kota Mesir itu adalah saudara mereka, serombongan besar keluarga Nabi Ya'kub pun hijrah untuk menetap di Mesir. Itu terbukti dalam penelitian arkeologi modern, kawasan Fayoum ternyata pernah menjadi permukiman bangsa Yahudi.

Orang-orang Yahudi saat itu bisa memperoleh izin tinggal di sana karena yang berkuasa di Mesir waktu itu adalah bangsa Hyksos yang berasal dari kawasan dekat Palestina. Pada masa-masa itu, Kerajaan Mesir kuno memang mengalami kemunduran dan dijajah bangsa-bangsa lain.

Secara garis besar, Kerajaan Mesir kuno terbagi dalam empat era. Yakni, Old Kingdom (abad 30-21 SM), Middle Kingdom (abad 21-16 SM), New Kingdom (abad 16-7 SM), dan yang terakhir adalah era Late Period (7-1 SM).

Pada era Old Kingdom dan New Kingdom itulah Mesir dikuasai para Firaun. Sedangkan pada era Middle Kingdom dan Late Period, Kerajaan Mesir terpecah-belah menjadi kekuasaan-kekuasaan kecil dan dijajah sejumlah bangsa asing. Sampai akhirnya jatuh ke tangan Yunani-Romawi pada akhir pergantian abad Masehi dan sesudahnya.

Nama ''Fayoum'' berasal dari bahasa Koptik. Yaitu, bahasa Mesir kuno yang sudah bercampur dengan bahasa Yunani: Phiom atau Pa-youm yang bermakna danau atau laut. Di kawasan itu memang terdapat danau cukup besar yang terbentuk sejak berabad silam. Danau tersebut memiliki ketinggian 45 meter di bawah laut, sehingga sulit menggunakan air danau untuk mengairi kawasan yang lebih tinggi di sekitarnya.

Karena itu, di sinilah kecerdikan Nabi Yusuf. Beliau mengalirkan air dari Sungai Nil yang berjarak sekitar 100 km ke danau tersebut. Ada beberapa kanal yang dilewatkan ke daerah pertanian seluas 340.000 hektare di Kota Fayoum.

Untuk meratakan distribusi irigasinya, Nabi Yusuf menggunakan teknik kincir air. Ada ratusan kincir air yang dipakai penduduk hingga sekarang. Salah satunya kincir raksasa yang diabadikan di tengah-tengah Kota Fayoum, dekat kanal utama yang dikenal sebagai Bahr Yusuf alias Kanal Nabi Yusuf.

Kini, Kota Fayoum menjadi lumbung padi bagi negeri Mesir. Berbagai macam hasil pertanian dikirim dari kota tua yang subur tersebut. Karena itu, banyak ungkapan yang bersifat pujian terhadap makanan yang lezat dikaitkan dengan Kota Fayoum. Misalnya, ayam Fayoumi atau ayam yang berasa lezat.

Memang benar adanya. Sebab, saya sempat berbuka puasa di kota itu dengan menu ayam Fayoumi. Demikian pula buah-buahan, sayuran, dan hasil pertanian yang baik-baik disebut sebagai Fayoumi...!

***

Nabi Yusuf adalah nabi keturunan Israil, atau sering disebut Bani Israil. Sebab, Israil adalah nama lain Nabi Ya'kub. Anak-anaknya berjumlah 12 orang, yang kelak menjadi 12 suku dalam Bani Israil pada zaman Nabi Musa.

Yusuf kecil dijahati oleh saudara-saudaranya dan dibuang ke sebuah sumur di kawasan Sinai. Yusuf ditemukan oleh seorang pedagang karavan dari negeri Madyan yang sedang lewat di daerah itu untuk mengambil air di sumur. Yusuf lantas dibawa pedagang tersebut untuk dijual di Mesir. Kawasan tempat menjual Yusuf itu adalah Fayoum. Kawasan tersebut memang menjadi tempat pemberhentian para pedagang karavan dari berbagai negara di sekitar Mesir.

Di Fayoum itulah Yusuf dibeli oleh seorang pembesar bernama Potiphar, orang Hyksos yang dekat dengan kalangan istana. Sayang, istri Potiphar mengakibatkan Yusuf dipenjara dengan tuduhan hendak memerkosanya. Padahal, yang terjadi sebenarnya adalah sebaliknya.

Wanita yang di dalam Alquran dikenal dengan nama Zulaikha itulah yang sebenarnya membujuk Yusuf untuk berlaku serong dan Yusuf berlari keluar ruangan. Celakanya, di depan pintu, ada suami Zulaikha yang lebih percaya kepada istrinya daripada Yusuf. Karena itu, Yusuf pun masuk penjara tanpa proses pengadilan.

Yusuf dipenjara selama tujuh tahun. Tapi, di sanalah dia justru memperoleh ilmu hikmah untuk menakwilkan mimpi yang kelak mengantarkan dirinya menjadi seorang kepercayaan raja. Sang raja bermimpi ada tujuh ekor sapi kurus yang memakan tujuh tangkai padi yang gemuk. Para pendeta pagan di sekelilingnya tidak ada yang bisa menakwili.

Tapi, Yusuf memberikan makna yang tepat tentang mimpi sang raja itu. Yakni, Mesir akan mengalami masa paceklik selama tujuh tahun setelah masa panen raya selama tujuh tahun. ''Yusuf berkata kepada raja: Jadikanlah aku seorang yang berkuasa untuk mengelola (hasil) bumi (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan'' (QS 12: 55).

Maka, atas bimbingan Allah, Yusuf membangun Kota Fayoum menjadi kota yang subur dan membekas hingga sekarang. Karya orang-orang yang berilmu, yang diniatkan ikhlas karena Allah semata, adalah karya abadi yang akan membawa manfaat buat umat manusia. (bersambung/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 24 AUGUST 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=151922

Memphis dan Necropolis Pertama di Dunia

KELUAR dari Kota Fayoum membawa kami ke pemandangan padang pasir kembali. Kawasan hijau yang begitu subur berganti dengan pemandangan cokelat tanah dan bebatuan yang tandus. Tak jauh dari Fayoum, sekitar 80 km, kami memasuki kota tua yang sangat terkenal dalam sejarah Mesir kuno, yaitu Kota Memphis. Inilah ibu kota Mesir di zaman Old Kingdom selama lebih dari 1.000 tahun.

Bila dibandingkan dengan Luxor yang menjadi ibu kota New Kingdom, Memphis memainkan peran lebih lama. Bahkan, ketika ibu kota kerajaan Mesir kuno sudah dipindahkan ke Luxor, Kota Memphis masih berperan sebagai kota besar yang ramai. Luxor hanya berperan sekitar 500 tahun, sedangkan Memphis bertahan sampai lebih dari 3.000 tahun, hingga zaman Romawi berkuasa di Mesir.

Setelah itu, peran Memphis mengalami kemunduran seiring dengan datangnya kekuasaan Islam yang beribu kota di Kairo. Kini Memphis hanya berupa sebuah desa kecil. Ketika memasuki kawasan ini, kami disambut sebuah papan penunjuk bertulisan Village Memphis. Dan, memang benar, kami hanya menemukan sebuah museum tak seberapa besar di antara kawasan pedesaan yang tak lagi megah. Di museum itulah sejumlah peninggalan Kerajaan Mesir kuno menampakkan kejayaan masa lalunya.

Untuk melihat kemegahan Kota Memphis kita bisa menyaksikan langsung reruntuhan kotanya di kawasan yang sangat luas. Maka, kami pun hanya sebentar berada di dalam museum. Kami langsung menjelajahi ''bekas kota'' yang didirikan dinasti pertama kerajaan Mesir kuno. Kami pun bisa leluasa menyaksikan reruntuhan kota yang kini digali kembali oleh para arkeolog itu.

Adalah Firaun Menes atau yang lebih dikenal dengan nama Narmer yang mula-mula membangun Kota Memphis. Dia adalah raja pertama Old Kingdom yang berkuasa di abad 32 SM. Dialah Firaun yang pertama berhasil menyatukan Kerajaan Mesir Utara dan Selatan. Atau, di dalam sejarah dikenal sebagai Lower Egypt dan Upper Egypt.

Maka, sejak Narmer, Firaun Mesir menggunakan mahkota bertumpuk dua, yang dikenal sebagai double crown, sebagai simbol penyatuan kerajaan utara dan selatan. Kemudian dilanjutkan penyatuan lambang bunga lotus dan pohon papirus yang menjadi simbol kesejahteraan kedua kerajaan. Pemilihan Kota Memphis di lembah Sungai Nil, yang berada di perbatasan wilayah kerajaan utara dan selatan, itu juga sebagai lambang penyatuan.

Kota yang berada di ''pintu'' Delta Sungai Nil yang subur tersebut dikelilingi tembok yang melindunginya dari luapan Sungai Nil saat banjir tahunan. Kota itu diberi nama Ineb-Hedj, yang dalam bahasa Mesir kuno bermakna ''Tembok Putih'', menunjuk pada tembok yang mengelilingi kota. Sedangkan nama Memphis baru muncul kemudian, yang dalam bahasa Yunani bermakna ''Kota Indah yang Tertata Rapi'', karena di dalamnya banyak ditemukan taman yang indah dengan air mancur, kuil-kuil, dan istana-istana yang megah.

Bukti-bukti kemegahannya kini sedang direkonstruksi para arkeolog. Salah satunya, sebuah kota pemakaman yang dikenal sebagai Necropolis. Kawasannya membentang sepanjang 40 km. Di dalamnya terdapat lebih dari seratus piramida yang menakjubkan, serta ratusan makam para kerabat Firaun, pendeta, dan pejabat-pejabatnya. Areanya lebih luas daripada kawasan Lembah Raja yang sudah kami kunjungi di Luxor.

Sayang, karena usianya sudah lebih dari 5.000 tahun, penggalian kawasan ini membutuhkan keahlian dan kehati-hatian yang ekstra. Benda-benda bersejarahnya sudah banyak yang hancur dimakan usia, atau hilang dicuri para perampok kuburan Firaun. Tetapi, fisik kota secara kesuluruhan kini diupayakan direkonstruksi untuk dimunculkan kembali. Setidaknya, untuk kawasan Kota Makam yang disebut Necropolis itu.

Jika jenazah Firaun di Lembah Raja dimasukkan ke perut bukit berbentuk piramida, di Necropolis jenazah Firaun dimasukkan ke dalam perut ''bukit buatan'', yakni sebuah bangunan berbentuk piramida yang menjulang tinggi puluhan meter ke angkasa. Tentu, ini jauh lebih dahsyat karena membutuhkan keahlian dan waktu bertahun-tahun untuk merekonstruksinya.

Ide pembuatan Kota Makam datang dari seorang arsitek multitalenta yang terkenal zaman itu: Imhotep. Awalnya, makam-makam raja Mesir hanya berbentuk mastaba. Yaitu, sebuah ruangan yang dibentuk dari tumpukan batu yang di dalamnya terdapat peti mumi Firaun. Imhotep mengembangkannya menjadi sebuah bangunan piramida yang monumental. Karena jasa dan ide-idenya yang brilian itulah, di kawasan Necropolis kini didirikan Museum Imhotep. Di dalamnya, pengunjung bisa menyaksikan bagaimana Imhotep membangun sebuah piramida.

Piramida tertua adalah Piramida Sakkara. Bentuknya unik dan berbeda daripada piramida-piramida umumnya. Piramida yang menjadi makam Firaun Djoser dari abad ke-3 di zaman Old Kingdom itu berbentuk bangunan bertingkat yang mengecil di bagian puncaknya. Piramida ini sering juga disebut Piramida Djoser, nama Firaun yang berkuasa pada 2667-2648 SM itu.

Tinggi piramida tersebut sekitar 60 meter, bertingkat enam dan terbuat dari balok-balok batu kapur yang ditumpuk secara berjenjang. Ketika saya datang ke kompleks Sakkara, piramida tersebut sedang dalam renovasi. Kawasan makam ini memang masih terus diekskavasi untuk menemukan piramida-piramida lain. Para arkeolog sudah menemukan sebelas piramida. Di antaranya Piramida Userkaf, Unas, Pepi, Djoser, dan Sekhemket. Saat ini para arkelog menggali sebuah piramida lagi yang baru ditemukan.

* * *

Mesir benar-benar menjadi sumber artefak sejarah masa lampau. Bukti adanya peradaban yang tidak kalah dengan zaman sekarang. Tentu, dalam bentuk yang berbeda. Allah, sang Pencipta peradaban, memerintahkan kepada kita untuk melakukan perjalanan menyusuri peninggalan-peninggalan sejarah itu agar bisa mengambil pelajaran. Bahwa peradaban setinggi apa pun kelak akan runtuh dimakan waktu. Tak ada yang mampu mengalahkan sang Penguasa alam semesta.

''Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lantas memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka? Padahal, orang-orang zaman dulu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekasnya di muka bumi, maka apa yang mereka usahakan (untuk mempertahankan kekuasaan) itu tidak dapat menolong mereka (dari kehancuran)'' (QS. 40: 82). (bersambung/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 26 AUGUST 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=152244

Mencari Tempat Tenggelamnya Istana Qarun

KETIKA berada di Kota Fayoum kami penasaran dengan nama Danau Qarun. Apalagi, setelah saya telusuri, tidak jauh dari danau itu ada perkampungan yang juga bernama Desa Qarun. Apakah ini ada kaitannya dengan tokoh Qarun di zaman Nabi Musa, yang harta benda beserta istananya ditenggelamkan Allah, karena kesombongannya? Ternyata benar. Di sekitar danau itulah Qarun dan istananya ditenggelamkan.

Qarun adalah bangsa Israil sebagaimana Nabi Musa. Sejumlah penafsir Alquran mengatakan, Qarun adalah sepupu Nabi Musa. Sebagian yang lain menyebut paman Nabi Musa. Tetapi, di dalam Alquran memang hanya disebut sebagai ''kaum Musa''. Tidak begitu jelas apakah dia paman atau sepupu Nabi Musa.

Qarun hidup di zaman Firaun Ramses II sebagaimana juga Musa. Meskipun Qarun mengaku mengikuti agama Musa, dia justru sangat dekat dengan Ramses II yang memusuhi Rasul Allah itu. Bahkan, dia memperoleh penghasilan besar dari posisinya yang mendua. Ramses memanfaatkan Qarun untuk menjadi mata-mata dan pengendali Bani Israil agar tidak berbuat macam-macam yang bisa membahayakan kedudukan Firaun.

Sebagaimana kita ketahui, Bani Israil adalah bangsa pendatang di Mesir. Mereka datang ke negeri Firaun itu pada zaman Nabi Yusuf, sekitar abad 17 SM. Mereka memperoleh izin tinggal di Mesir karena penguasa saat itu adalah bangsa Hyksos yang secara emosional dekat dengan penduduk Palestina, Bani Israil. Namun, seiring dengan jatuhnya kekuasaan Hyksos ke tangan Firaun lagi di zaman New Kingdom, bangsa Israil menjadi bangsa kelas dua yang sering dianiaya Firaun. Banyak di antara mereka yang dijadikan budak dan ''pekerja paksa'' untuk membangun proyek-proyek Firaun. Sampai kelak dibebaskan oleh Nabi Musa, dengan cara eksodus ke Palestina kembali.

Qarun memainkan peran sebagai orang munafik, yang bekerja untuk kepentingan Ramses II. Karena itu, sebagian besar kaumnya sangat membenci dia. Tetapi, Qarun memiliki harta berlimpah ruah karenanya. Kekayaan Qarun digambarkan sangat fantastis. Dia sering pamer kekayaan kepada kaumnya yang miskin. Dia juga memiliki sejumlah pengikut, para penjilat penguasa.

Musa tak bosan-bosannya mengingatkan Qarun agar membagikan sebagian kekayaan kepada kaumnya dalam bentuk zakat. Bukan malah pamer kekayaan. Tetapi, kesombongan Qarun justru semakin menjadi. Dia kumpulkan seluruh harta bendanya untuk diarak keliling Kota Fayoum. Dia kerahkan puluhan kuda dan unta serta ratusan laki-laki dan perempuan semata-mata untuk pamer kekayaan.

Maka, Allah pun memberikan pelajaran dengan menghancurkan kekayaan Qarun di depan penduduk Fayoum. Istananya ditenggelamkan ke dalam perut bumi beserta segala isinya. Tanpa bekas, kecuali nama perkampungan Qarun, Danau Qarun, dan Qasr Qarun atau Istana Qarun.

Mengenai Istana Qarun terjadi pro dan kontra. Kami penasaran untuk menelusurinya. Kami sempat mendatangi sebuah reruntuhan bangunan yang disebut-sebut sebagai Istana Qarun. Lokasinya di dekat permukiman penduduk Desa Qarun. Kini sedang digali kembali oleh pemerintah bekerja sama dengan sejumlah arkeolog mancanegara. Tetapi, sejauh yang saya telusuri, bangunan bergaya Romawi itu bukan Istana Qarun, melainkan kuil peribadatan zaman Yunani-Romawi. Kuil itu dipersembahkan kepada Dewa Sobek alias Dewa Buaya yang menghuni Danau Qarun. Karena itu, di dalamnya ada patung manusia berkepala buaya sebagai ikon utama.

Kawasan Danau Qarun dan Fayoum yang subur memang pernah menjadi lumbung pangan bagi bangsa Romawi ketika menduduki Mesir. Mereka membangun markas tentara, permukiman, dan kuil-kuil di sana. Bahkan, juga vila-vila di pinggir danau. Tetapi, seiring dengan runtuhnya kekuasaan Romawi di Mesir, kawasan itu runtuh juga. Sebagian masih tertinggal jejaknya dalam bentuk reruntuhan, termasuk kuil Dewa Sobek yang dikira sebagai Istana Qarun.

Sedangkan Istana Qarun yang sesungguhnya berada di tepi danau, tapi kini tidak terlihat bekasnya lagi, karena ditenggelamkan oleh Allah, sebagaimana diceritakan dalam Alquran. ''Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (diri)'' (QS.28: 81).

***

Benarkah Istana Qarun dibenamkan Allah di sekitar Danau Qarun? Penelusuran geologis menunjukkan adanya kemungkinan besar di situ. Sebab, kawasan ini ternyata kawasan labil berupa patahan lempeng bumi yang pernah mengalami penurunan. Dan, itu terjadi sejak jutaan tahun lalu.

Karena itu, posisi Danau Qarun lebih rendah daripada permukaan air laut, sejauh 45 meter. Air danau itu agak asin karena mengalami penguapan terus-menerus, tanpa bisa mengalir untuk berganti air. Di zaman Nabi Yusuf, Kota Fayoum menjadi kawasan pertanian yang subur dengan cara mengalirkan air Sungai Nil yang berjarak sekitar 100 km di timur danau. Tetapi, aliran airnya justru mengarah ke barat, masuk ke Danau Qarun. Ini karena posisi danau itu memang lebih rendah daripada Sungai Nil.

Di zaman Qarun, kawasan ini mengalami gempa karena pergerakan patahan lempeng bumi. Akibatnya, Istana Qarun yang berada di tepi danau pun runtuh karenanya. Istana itu tenggelam beserta isinya ke dalam perut bumi. Sejak itu kawasan Danau Qarun menjadi lebih besar daripada sebelumnya. Kini, danau tersebut memiliki panjang sekitar 40 km membentang dari timur ke barat, dengan lebar sekitar 10 km.

Bagian utara-barat danau adalah perbukitan Jabbal Qatrani dengan ketinggian 350 meter. Sedangkan bagian selatan-timur adalah dataran rendah, puluhan meter di bawah permukaan laut. Di bagian yang runtuh inilah terbentuk danau dan menjadi tandon air bagi daerah sekitarnya.

Pada zaman Ramses II, Qarun memperoleh hadiah rumah di kawasan tepi danau. Bahkan, sebagian sumber mengatakan kawasan ini memang dihadiahkan kepada Qarun, sehingga danau dan desa yang ada di situ dinamai nama Qarun.

Allah memberikan pelajaran dengan banyak cara dan peristiwa. Pada dasarnya Allah ingin mengingatkan manusia agar memahami hukum alam yang sudah digelar-Nya; bahwa kebaikan akan berbalas kebaikan dan kejahatan akan berbalas kejahatan.

''Maka masing-masing Kami azab disebabkan oleh dosanya sendiri. Di antaranya ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu, dan di antaranya ada yang ditimpa suara menggelegar, dan di antaranya ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antaranya ada yang Kami tenggelamkan. Dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri'' (QS. 29: 40). (bersambung/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 25 AUGUST 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=152078

Dahshur, Piramida Bengkok yang Gagal

DARI kawasan Sakkara kami melanjutkan perjalanan ke Dahshur, yang sebenarnya lebih dekat dari Kota Fayoum. Tapi, kami sengaja mengunjunginya setelah dari Sakkara, karena Sakkara adalah piramida yang paling awal dibangun di zaman Mesir kuno. Piramida Dahshur dibangun setelahnya. Saya ingin merasakan proses yang berlangsung di zaman itu.

Kawasan Dahshur lebih sepi dibanding Sakkara. Demikian pula turis yang berkunjung ke kompleks piramida. Salah satu sebabnya, kawasan ini tidak sekaya Sakkara dalam hal peninggalan sejarah. Selain itu, Dahshur adalah kawasan militer, sehingga terkesan lebih angker dan tidak boleh sembarangan memasukinya. Tidak ada pedagang yang berani berjualan di sini. Di kawasan ini juga tidak ada persewaan kuda dan unta sebagai alat transportasi.

Namun beruntung, saya bisa ''menyewa'' unta milik polisi yang menjaga kompleks piramida ini untuk berkeliling kawasan. Saya harus naik unta karena cuaca di kompleks Dahsyur sangat terik, bermedan padang pasir yang luas. Bila melakukan eksplorasi dengan jalan kaki dalam keadaan puasa seperti sekarang ini, alangkah beratnya. Kami mungkin tidak tahan panasnya.

Sebenarnya, di Dahshur ada sebelas piramida yang dibangun pada zaman dinasti ke-4 sampai ke-12. Tetapi, yang utuh tinggal dua buah, yaitu Piramida Snefru Bent dan Red Piramid. Selebihnya sudah runtuh menjadi gundukan pasir dan bebatuan lapuk. Ini menunjukkan betapa tidak mudah membangun sebuah piramida yang bisa bertahan ribuan tahun.

Kompleks Dahshur memang lebih kecil dibandingkan dengan Sakkara. Areanya hanya membentang sepanjang 4 km. Bandingkan dengan Sakkara yang 7 km. Tetapi, yang menarik dari kawasan Dahshur adalah nilai sejarah pembuatan piramidanya. Inilah piramida kedua yang dibangun setelah piramida berjenjang di Sakkara. Maka, ada yang menyebut Piramida Dahshur sebagai piramida pertama yang berbentuk benar-benar piramida. Sebab, yang di Sakkara tidak berbentuk piramida murni, melainkan seperti sebuah bangunan bertingkat yang bertumpuk mengerucut.

Berdasar pengalaman Piramida Sakkara yang dibangun dinasti sebelumnya itulah, Raja Snefru (2613-2589 SM) membangun bentuk piramida yang lebih sempurna. Maka, dia memerintahkan para arsitek terbaiknya untuk merancang sebentuk piramida yang utuh. Sayang, kemiringan piramida itu terlalu terjal, yaitu 54 derajat. Dengan demikian, saat dibangun, para pekerja kesulitan merealisasikan bagian atas bangunan. Para arsitek kemudian mengubah sudut kemiringannya menjadi 43 derajat.

Namun, setelah jadi, ternyata piramida itu terlihat jelek. Bangunan piramida terlihat bengkok di bagian atasnya. Karena itu, sampai sekarang banyak yang menyebut Piramida Dahshur yang memiliki tinggi 105 meter sebagai Piramida Bengkok. Atau, ada juga yang menyebutnya Piramida Snefru-Bent.

Tentu saja, Raja Snefru tidak puas melihat hasilnya seperti itu. Dia kemudian memerintahkan untuk membangun kembali sebuah piramida yang lebih sempurna. Padahal, sebelum membangun Piramida Bengkok itu Snefru sudah bereksperimen dengan Piramida Maydum, yang terletak di kawasan lebih selatan dari kompleks Dahshur. Itulah piramida yang dibangun ayahnya, Firaun Sanakhit, di generasi sebelumnya. Dia bersama tim arsiteknya mengotak-atik Piramida Maydum sehingga mengalami kerusakan di sana-sini. Tetapi, Piramida Maydum memang masih mirip dengan Sakkara yang bentuknya berjenjang seperti anak tangga.

Akhirnya, Snefru tidak mau menggunakan Piramida Bengkok itu sebagai bakal makamnya. Dia bahkan membiarkan serta mengosongkan tanpa pernah memanfaatkan piramida itu. Dia lantas memerintahkan para arsitek membuat piramida lagi di kawasan yang sama, hanya berjarak sekitar 2 km dari Piramida Bengkok. Jadilah piramida yang kedua lebih sempurna. Namanya Red Pyramid yang dibuat dari bebatuan berwarna agak kemerahan. Di dalam ruang piramida itu terdapat grafiti menggunakan cat merah.

Selain desain konstruksi yang benar, pemilihan jenis batu sebagai bahan pembuatan piramida juga membawa pengaruh yang besar bagi ketahanannya dalam jangka panjang.

Bersamaan dengan pembuatan piramida kedua itu, Snefru membangun piramida yang lebih kecil untuk istrinya. Posisinya di sebelah Piramida Merah. Tetapi, kini kondisi piramida itu sudah banyak yang rusak.

Yang juga menarik, Raja Snefru ternyata adalah bapak dari Cheops yang membangun piramida paling terkenal di dunia, sehingga masuk sebagai salah satu bangunan keajaiban dunia, yaitu piramida di kawasan Giza. Snefru juga kakek dari Chepren yang membangun piramida selanjutnya di kompleks Giza yang terkenal itu. Di sana ada tiga piramida yang dibangun oleh keturunan Snefru.

Pengalaman Snefru menjadi pelajaran berharga bagi anak-cucunya untuk membangun kompleks Piramida Giza. Bukan hanya bentuknya yang sempurna, melainkan juga bebatuan yang menjadi bahan bakunya lebih kuat. Bila Piramida Snefru memiliki ketinggian 105 meter, yang dibangun anaknya di Giza lebih tinggi lagi, yakni 146 meter. Piramida anaknya juga bisa bertahan sampai kini meski sudah berumur lebih dari 5.000 tahun. Sayang, benda-benda berharga di dalamnya sudah lenyap. Termasuk muminya. Lagi-lagi karena ulah para pencuri kuburan Firaun!

* * *

Bekerja keras pantang putus asa dan mengambil pelajaran dari peristiwa sebelumnya adalah kunci sebuah keberhasilan. Tidak peduli apakah ia hanya mengejar kesuksesan duniawi ataupun ukhrawi. Bahkan, juga untuk sebuah kejahatan ataukah kebaikan.

Allah adalah Zat yang Maha Pemurah kepada siapa saja yang mau bekerja keras dan bekerja cerdas untuk mencapai tujuannya. Dia memberikan ''bantuan''-Nya berdasar sifat Maha Pemurahnya. Sebagaimana diceritakan-Nya dalam QS. 17: 18-21: Bahwa siapa saja bekerja sungguh-sungguh pasti akan mencapai tujuan. Tetapi, sambil mengingatkan bahwa kehidupan akhirat adalah tujuan utama yang harus diperjuangkan dengan sebenar-benarnya, karena akhirat adalah kehidupan yang jauh lebih berkualitas dibandingkan kehidupan dunia yang hanya sebentar.

''Untuk mencapai kesuksesan seperti ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja'' (QS. 37: 61).

''Maka apabila kamu telah selesai (mengerjakan suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (akan hasilnya) (QS. 94: 7-8). (bersambung/c2/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 27 AUGUST 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=152403