Selasa, 05 Oktober 2010

Kisah Kyai Kampung Lawan Santri Liberal

Inilah kisah kiai kampung. Kebetulan kiai kampung ini menjadi imam musholla dan sekaligus pengurus ranting NU di desanya. Suatu ketika didatangi seorang tamu, mengaku santri liberal, karena lulusan pesantren modern dan pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Tamu itu begitu PD (Percaya Diri), karena merasa mendapat legitimasi akademik, plus telah belajar Islam di tempat asalnya. Sedang yang dihadapi hanya kiai kampung, yang lulusan pesantren salaf.

Tentu saja, tujuan utama tamu itu mendatangi kiai untuk mengajak debat dan berdiskusi seputar persoalan keagamaan kiai. Santri liberal ini langsung menyerang sang kiai: “Sudahlah Kiai tinggalkan kitab-kitab kuning (turats) itu, karena itu hanya karangan ulama kok. Kembali saja kepada al-Qur’an dan hadits,” ujar santri itu dengan nada menantang. Belum sempat menjawab, kiai kampung itu dicecar dengan pertanyaan berikutnya. “Mengapa kiai kalau dzikir kok dengan suara keras dan pakai menggoyangkan kepala ke kiri dan ke kanan segala. Kan itu semua tidak pernah terjadi pada jaman nabi dan berarti itu perbuatan bid’ah,” kilahnya dengan nada yakin dan semangat.

Mendapat ceceran pertanyaan, kiai kampung tak langsung reaksioner. Malah sang kiai mendengarkan dengan penuh perhatian dan tak langsung menanggapi. Malah kiai itu menyuruh anaknya mengambil termos dan gelas.

Kiai tersebut kemudian mempersilahkan minum, tamu tersebut kemudian menuangkan air ke dalam gelas. Lalu kiai bertanya: “Kok tidak langsung diminum dari termos saja. Mengapa dituang ke gelas dulu?,” tanya kiai santai. Kemudian tamu itu menjawab: Ya ini agar lebih mudah minumnya kiai,” jawab santri liberal ini. Kiai pun memberi penjelasan: “Itulah jawabannya mengapa kami tidak langsung mengambil dari al-Qur’an dan hadits. Kami menggunakan kitab-kitab kuning yang mu’tabar, karena kami mengetahui bahwa kitab-kitab mu’tabarah adalah diambil dari al-Qur’an dan hadits, sehingga kami yang awam ini lebih gampang mengamalkan wahyu, sebagaimana apa yang engkau lakukan menggunakan gelas agar lebih mudah minumnya, bukankah begitu?”. Tamu tersebut terdiam tak berkutik.

Kemudian kiai balik bertanya: “Apakah adik hafal al-Qur’an dan sejauhmana pemahaman adik tentang al-Qur’an? Berapa ribu adik hafal hadits? Kalau dibandingkan dengan ‘Imam Syafi’iy siapa yang lebih alim?” Santri liberal ini menjawab: Ya tentu ‘Imam Syafi’iy kiai sebab beliau sejak kecil telah hafal al-Qur’an, beliau juga banyak mengerti dan hafal ribuan hadits, bahkan umur 17 beliau telah menjadi guru besar dan mufti,” jawab santri liberal. Kiai menimpali: “Itulah sebabnya mengapa saya harus bermadzhab pada ‘Imam Syafi’iy, karena saya percaya pemahaman Imam Syafi’iy tentang al-Qur’an dan hadits jauh lebih mendalam dibanding kita, bukankah begitu?,” tanya kiai. “Ya kiai,” jawab santri liberal.

Kiai kemudian bertanya kepada tamunya tersebut: “Terus selama ini orang-orang awam tatacara ibadahnya mengikuti siapa jika menolak madzhab, sedangkan mereka banyak yang tidak bisa membaca al-Qur’an apalagi memahami?,” tanya kiai. Sang santri liberal menjawab: “Kan ada lembaga majelis yang memberi fatwa yang mengeluarkan hukum-hukum dan masyarakat awam mengikuti keputusan tersebut,” jelas santri liberal.

Kemudian kiai bertanya balik: “Kira-kira menurut adik lebih alim mana anggota majelis fatwa tersebut dengan Imam Syafi’iy ya?.”. Jawab santri: “Ya tentu alim Imam Syafi’iy kiai,” jawabnya singkat. Kiai kembali menjawab: “Itulah sebabnya kami bermadzhab ‘Imam Syafi’iy dan tidak langsung mengambil dari al-Qur’an dan hadits,”.” Oh begitu masuk akal juga ya kiai!!,” jawab santri liberal ini.

Tamu yang lulusan Timur Tengah itu setelah tidak berkutik dengan kiai kampung, akhirnya minta ijin untuk pulang dan kiai itu mengantarkan sampai pintu pagar.

(Mukhlas Syarkun)
Sumber : Majalah Risalah NU no.3,
http://www.facebook.com/group.php?gid=316498805206

Kamis, 16 September 2010

10 Filosofi Hidup Orang Jawa

Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang mempunyai banyak filosofi untuk menjalani kehidupan agar seimbang dan berjalan dengan baik, berikut ini adalah 10 Filosofi Hidup orang Jawa yang bisa kita jadikan pelajaran dan pegangan :
Urip Iku Urup
(Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik)

Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara
(Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).

Sura Dira Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
(segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar)

Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha
(Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan,kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan)

Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
(Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).

Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman
(Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah ngambeg, jangan manja).

Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman
(Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi).

Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka
(Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah;Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka).

Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
(Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat).

Aja Adigang, Adigung, Adiguna
(Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti)

Moga bisa bermanfaat dan bisa jadi pegangan bagi kita semua untuk menjalani hidup dengan lebih baik.

Source : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5299403

Kamis, 09 September 2010

A. Mustofa Bisri: Perenungan di Akhir Ramadan

HARI-hari Ramadan telah kita lalui dengan berbagai kegiatan dan aktivitas yang galibnya lain dari hari-hari lain pada bulan-bulan lain. Mulai dini hari, kaum muslimin biasanya bersama-sama keluarga melakukan ''ritual'' santap sahur dan sore ngabuburit, ''membunuh waktu'' menunggu saat berbuka.

Lalu, ''ritual'' santap buka, kemudian beramai-ramai melaksanakan salat Tarawih dan tadarusan, sampai acara-acara seremonial buka bersama, tarling (Tarawih keliling), dan ceramah-ceramah keagamaan.

Kegiatan-kegiatan lain biasanya juga diupayakan dapat bernuansa ibadah, setidaknya dilabeli dengan label yang mengesankan keislaman. Misalnya, road show safari Ramadan, gelar takjil, konser seni dan dakwah, dan takbir akbar.

Yang mungkin agak tidak populer adalah kegiatan Ramadan model zaman kanjeng Nabi Muhammad SAW: iktikaf. Berdiam diri tafakur di rumah Tuhan. Bahkan, agaknya memang ''berdiam diri'' itu sudah merupakan sesuatu yang mewah pada zaman gaduh dan sibuk sekarang ini. Berdiam diri melakukan kontemplasi mungkin malah dianggap bukan kegiatan sama sekali.

Padahal, bulan suci Ramadan merupakan satu-satunya saat paling kondusif untuk melakukan perenungan. Bulan yang citra, gaya, dan nuansanya sama sekali berbeda dari sebelas bulan yang lain. Kalau bulan-bulan lain lebih terasa duniawi, bulan yang satu ini terasa benar ''ukhrawi''-nya, keakhiratannya. Bahkan, pengusaha-pengusaha pun dalam mencari keuntungan duniawi menemukan celah dalam kegiatan peribadatan bulan ini.

Boleh jadi, karena minimnya perenungan, kita sering terkecoh oleh diri kita sendiri. Kita sering keliru dalam merasa, salah dalam anggapan, hanya karena kegiatan-kegiatan rutin yang tidak sempat kita renungkan. Sikap atau kegiatan yang sudah berlangsung lama, karena tidak pernah sempat kita renungkan, umumnya kita anggap sudah benar dan karena itu kita langsungkan terus.

Padahal, bila kita mau menyempatkan diri merenung, kekeliruannya akan terbukti. Kita ambil contoh kecil: kegemaran kita bermain pengeras suara di masjid-masjid dan musala-musala. Tidak hanya azan yang kita lantunkan, tapi segala macam hal yang kita anggap syiar dan Islami kita kumandangkan ke seantero penjuru.

Agaknya, kita jarang merenungkan: apakah hal seperti itu wajib, sunah, mubah, makruh, atau haram? Karena sudah berlangsung lama dan MUI tidak pernah berfatwa makruh atau haram, kita pun tidak perlu bersusah payah merenungkannya. Kita merasa sudah benar.

Karena sudah berlangsung lama dan tidak ada yang protes, kita pun tidak merasa perlu merenungkan apakah suara-suara itu mengganggu orang lain atau tidak. Apakah mereka yang tidak protes, meski terganggu, itu karena rela atau takut?

Imbauan untuk menghormati Ramadan bahkan sering disertai amar penutupan warung-warung. Misalnya lagi, karena sudah berlangsung setiap Ramadan, kita menganggapnya wajar. Padahal, dengan sedikit perenungan, kita segera tahu kejanggalannya. Contoh-contoh lain masih banyak tentang keliru merasa dan salah anggapan karena tiadanya perenungan ini.

Salah merasa dan beranggapan itu bisa berakibat fatal bila Allah tidak merahmati kita dengan mengilhamkan perlunya perenungan. Kita bisa merasa berbuat ibadah, padahal bukan. Kita merasa beramar makruf nahi mungkar, padahal sedang berbuat anarki. Sebaliknya, kita bisa menganggap sesuatu perbuatan sebagai amal duniawi semata, padahal sangat ukhrawi.

Wakil-wakil rakyat yang ngotot membangun gedung kantornya sedemikian megah dengan biaya dari rakyat sedemikian besar pastilah tidak sempat merenung tentang, misalnya, memadaikah kegunaan gedung dan relevansinya dengan tugas-tugas mereka serta besarnya biaya? Apalagi berpikir tentang betapa tersakitinya hati rakyat yang mereka wakili yang selama ini belum pernah merasakan nasibnya membaik karena mereka perjuangkan.

Kelompok yang dengan angkuh merasa paling benar dan paling mulia di sisi Allah hanya karena berpakaian mirip Rasulullah SAW dan imamnya fasih melafalkan satu-dua ayat, pastilah mereka tidak sempat sedikit merenung. Misalnya, bahwa wajah Rasulullah SAW yang pakaiannya mereka tiru itu senantiasa tersenyum dan sama sekali tidak sangar seperti mereka.

Bahwa pribadi Rasulullah SAW yang agamanya hendak mereka bela adalah pribadi agung yang sangat santun, beradab baik di hadapan Allah maupun di hadapan hamba-hamba-Nya. Pribadi yang tidak pernah melaknat dan menyakiti sesama. Bahkan, beliau bersabda dalam hadis sahih: ''Al-muslimu man salimal muslimuun min lisaanihi wayadihi''. Muslim sejati adalah orang yang selalu menjaga agar lisan dan tangannya tidak melukai sesamanya.

Nah, apabila iktikaf dan tafakur kita kemarin-kemarin terasa kurang, kita masih punya waktu setidaknya untuk merenungkan Ramadan kita dan puasa kita bagi kepentingan memulai kehidupan -terutama kehidupan keberagamaan kita- yang baru, yang lebih islami, yang lebih samawi, yang lebih manusiawi, dan yang lebih beradab.

Akhirnya, saya sampaikan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431. Kullu 'aamin wa Antum bikhair. Mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan dan kekhilafan saya. (*)

JAWA POS, 9 SEPTEMBER 2010
Source : http://jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=154582

Lebaran di Kairo, Didaulat Khotbah Idul Fitri

ALHAMDULILLAHI rabbilalamin. Akhirnya, selesailah ekspedisi spiritual Jawa Pos Jelajah Sungai Nil. Dari tachometer mobil yang kami gunakan selama sebulan, kami tahu bahwa ekspedisi ini telah menyusuri jarak 4.798 km, saat sampai di Alexandria. Jarak itu kami tempuh sejak berangkat dari Kairo ke Abu Simbel, lantas menyusuri Sungai Nil, menuju muara, dan meneruskan perjalanan ke Gurun Sinai. Maka, sesampai di Kairo nanti, perjalanan kami telah menempuh jarak lebih dari 5.000 km.

Kami serasa baru keluar dari mimpi panjang berburu hikmah ke masa silam sambil beriktikaf Ramadan sepanjang bulan. Kini kami bersiap menerapkan segala hikmah itu untuk menghadapi realitas kehidupan. Tepatnya, setelah belajar dari berbagai peristiwa di sekitar, sebagaimana disitir Alquran: Banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka lewati, sayang mereka tidak menghiraukannya (QS 12:105).

Lega rasanya bisa menuntaskan tafakur panjang ini. Berpuluh hikmah kami dapat selama bulan suci yang memang penuh hikmah ini. Ramadan benar-benar bulan membaca dan bertafakur bagi umat Islam. Meskipun, tidak sedikit yang justru menjadikan Ramadan sebagai bulan menurunnya produktivitas. Padahal, mestinya Ramadan jadi ajang untuk berlatih meningkatkan produktivitas.

Ada sebuah pemahaman yang perlu dikaji ulang tentang latar belakang turunnya perintah berpuasa Ramadan. Kebanyakan di antara kita berpendapat bahwa perintah berpuasa Ramadan turun karena dua alasan. Yakni, supaya menjadi sehat dan lebih bertakwa. Saya rasa, itu kurang tepat.

Sesungguhnya, kalau kita lihat redaksinya, dua hal tersebut bukan penyebab turunnya perintah berpuasa, melainkan akibat. Yakni, agar sehat dan bertakwa. Kata "agar" tentu saja menunjukkan dua hal tersebut sebagai akibat puasa. Barang siapa berpuasa dengan baik, akibatnya dia memperoleh kualitas hidup yang lebih sehat dan berperilaku lebih terkendali -bertakwa.

Penyebab turunnya perintah puasa Ramadan ternyata dikaitkan oleh Allah dengan satu peristiwa penting dalam bulan suci itu. Penjelasannya ada dalam QS 2:185. Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia... Karena itu, barang siapa di antara kalian berada di bulan itu, hendaklah dia berpuasa di dalamnya...

Jadi, perintah berpuasa kala Ramadan sebenarnya disebabkan turunnya Alquran sebagai petunjuk kehidupan. Maka, umat Islam diperintahkan berpuasa. Untuk apa? Supaya umat Islam mempelajari banyak hal dalam kitab penuh hikmah itu sambil menyucikan diri, kemudian memperoleh petunjuk. Sebab, kandungan Alquran memang hanya bisa dipahami dengan baik oleh orang-orang yang berproses menyucikan diri. Di antaranya, para pelaku puasa dalam arti yang sesungguhnya.

Maka, sungguh salah besar orang yang berpuasa tanpa mengkaji ayat-ayat Alquran serta hanya bertahan untuk sekadar tidak makan dan minum atau mencegah diri dari hal-hal yang membatalkannya sampai matahari tenggelam. Ramadan adalah bulan produktif yang disediakan oleh Allah untuk belajar dan berkarya. Dengan begitu, diharapkan kita memperoleh hikmah dari ilmu-ilmu Allah yang dihamparkan di sekitar kita.

Hasilnya, keluar dari Ramadan, kita menjadi orang yang lebih bertakwa: terkendali dan bijaksana. Itulah alasan di akhir Ramadan Allah menurunkan Lailatul Qadar. Kaitannya menjadi sangat jelas. Perintah puasa disebabkan turunnya Alquran. Karena itu, orang-orang yang berpuasa dengan baik akan memperoleh hikmah Alquran pada akhir puasa. Tepatnya, pada suatu malam yang mulia dan penuh hikmah.

Allah menganugerahkan al hikmah (kepahaman yang mendalam) kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa yang dianugerahi al hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Hanya orang-orang berakal yang dapat mengambil pelajaran (QS 2:269).

Kami bersyukur, dalam Ramadan ini kami bisa belajar banyak dari berbagai peristiwa yang terekam di sepanjang Sungai Nil. Sebuah drama panjang selama ribuan tahun yang Allah abadikan dalam berbagai artefak sejarah yang sangat berharga. Juga, dalam kitab-kitab suci. Semua itu dihamparkan untuk menjadi pelajaran dan bahan kajian agar generasi kemudian menjadi lebih baik.

Sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah dan jauhilah yang selain Dia." Maka, di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya yang telah pasti kesesatan baginya. Maka, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang tidak mempercayai (QS 16:36).

Itu di antara berita-berita penting tentang yang gaib, yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka, bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik ada bagi orang-orang yang bertakwa (QS 11:49).

Akhirnya, saya mengucapkan rasa syukur yang mendalam kepada Allah, Sang Maha Berilmu, atas segala karunia dan rahmat-Nya. Mudah-mudahan Ramadan kali ini adalah Ramadan yang bertabur hikmah, yang bisa meningkatkan amal ibadah kita dalam mendekatkan diri kepada-Nya.

Saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Jawa Pos yang telah memberikan ruang untuk kajian Ramadan bagi umat yang haus hikmah. Juga, anggota tim Ekspedisi Sungai Nil. Terima kasih atas kerja keras dan ketulusannya menggali hikmah bersama. Saya tidak tahu, apakah Ramadan tahun depan kita bisa bertemu lagi untuk belajar hikmah seperti ini. Allahu a'lam...

Besok saya merayakan Idul Fitri bersama masyarakat Indonesia di Kairo. Ribuan orang Indonesia dijadwalkan beramah tamah di Masjid As Salam, Hay el Ashir, atas undangan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo. Sebelum itu, masyarakat Indonesia dan duta besar RI beserta seluruh staf menghelat salat Id. Saya didaulat menjadi khatib.

Mudah-mudahan Allah tetap memberikan ilmu-ilmu yang bermanfaat kepada kita semua. Keluar dari Ramadan, semoga kita menjadi orang yang lebih bertakwa.

Selamat Idul Fitri 1431 H. Kami mohon maaf lahir dan batin. (habis/c11/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 9 SEPTEMBER 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=showpage&kat=1&subkat=53

Rabu, 08 September 2010

Mencegat Lailatul Qadar di Tepi Laut Mediterania

SHARM El Sheikh adalah kota terakhir di Gurun Sinai yang kami kunjungi. Dari kota di tepi Laut Merah itu, kami melanjutkan perjalanan menyusuri pantai Teluk Suez yang mengarah ke terowongan penyeberangan kembali. Jaraknya sekitar 500 km. Memasuki benua Afrika, kami mengarah ke delta Sungai Nil, dan menyusurinya sampai ke muara di Kota Alexandria.

Sebenarnya, di bagian delta, Sungai Nil terpecah menjadi beberapa cabang yang menuju ke muara. Salah satunya mengarah ke Alexandria. Sedangkan muara utamanya berada di Kota Dumyat dan Kota Rashid. Semua berakhir di Laut Mediterania.

Karena keterbatasan waktu yang ada, kami hanya memilih salah satu cabang, yakni ke kota yang paling besar dan paling banyak menyimpan sejarah: Alexandria. Inilah kota yang pernah menjadi ibu kota Mesir selama 1.000 tahun di zaman Yunani-Romawi.

Alasan lain mengapa kami memilih Alexandria sebagai terminal terakhir, karena kota ini memiliki kadar spiritual yang cukup tinggi bagi para pencari ''Kebenaran Tunggal''. Di antaranya, di sana terdapat masjid seorang guru sufi yang sangat terkenal, yaitu Abul Abbas al Mursyi. Masjid, yang kemudian menjadi makamnya itu, adalah kompleks makam 12 wali yang juga murid-muridnya. Kompleks itu menjadi salah satu tujuan utama para wisatawan yang datang ke Alexandria.

Di Alexandria juga terdapat makam ''orang biasa'' yang namanya disebut-sebut di dalam Alquran. Dialah Luqman el Hakim. Orang bijak yang tidak disebut sebagai nabi itu nasihat-nasihatnya menyentuh sanubari dan sangat mendalam secara spiritual. Bahkan, namanya lantas diabadikan sebagai nama surat ke-31 dalam Alquran: Surat Luqman. Sayang, ketika kami menziarahinya, kompleks makamnya sedang direnovasi dan ditutup untuk sementara.

Kami ingin menghabiskan sisa hari ekspedisi spiritual Jawa Pos Jelajah Sungai Nil ini di Alexandrea. Berada di sebuah tempat bersejarah yang mengandung nilai-nilai spiritual bagi para pencari Tuhan. Tidak berada di samping makam para pelaku sufisme itu, melainkan bertafakur di muara Sungai Nil yang menjadi saksi bisu atas berjalannya sejarah masa lalu dengan segala hikmahnya.

Ketika berada di Masjid Abbas al Mursyi, saya sempat menyaksikan para pelaku tarekat melakukan ritual ibadah khasnya. Puluhan orang berkerumun dalam tarian sufi. Sambil menari dan bertepuk, mereka melantunkan puji-pujian: ya hu... ya hu... ya hu... (wahai Dia ... wahai Dia... wahai Dia), sambil menggelorakan Asmaaul Husna. Tak kurang dari lima kelompok aliran tarekat yang siang itu berkumpul membentuk halaqah masing-masing di masjid tepi pantai itu.

Malamnya, di masjid berbeda, saya menyaksikan ribuan orang melakukan salat tahajud. Jamaahnya membeludak, menimbulkan kemacetan lalu lintas di depan Masjid Al Qaid Ibrahim, sampai menjelang waktu sahur. Mereka meningkatkan ibadah di sepuluh malam terakhir untuk menyambut datangnya puncak Ramadan: Lailatul Qadar.

Di beberapa masjid lain, saya juga melihat para pelaku iktikaf yang terus-menerus membaca kitab suci Alquran sepanjang hari hingga malam. Saya memilih cara saya tersendiri untuk bertafakur menjelang berakhirnya Ramadan. Bulan suci yang penuh hikmah, bagi siapa yang berniat mencarinya.

Saya merenung di teras kamar lantai empat penginapan kami yang persis menghadap ke Laut Mediterania. Beratap langit bertabur bintang. Menghadap ke kegelapan laut yang mahaluas dengan debur ombak yang terdengar sayup-sayup. Sesekali terdengar teriakan orang di jalan dan suara klakson mobil yang terjebak kemacetan di bawah sana. Sementara itu, di masjid-masjid mengalun suara pujian dan ayat-ayat Alquran yang dilantunkan dalam salat-salat yang panjang.

Saya ingin merenungi Ramadan kali ini dalam realitas kehidupan tanpa harus mengasingkan diri dan menyepi dari hiruk-pikuk duniawi. Sebab, saya merasakan Tuhan tidak hanya hadir di tempat-tempat sepi yang terasing. Tetapi, Dia juga merasuk ke seluruh dinamika kehidupan makhluk-makhluk-Nya, dalam sepi maupun keramaian tiada henti.

Dia berada bersama dengan orang-orang yang sedang salat sendiri maupun berjamaah. Dia juga sedang meliputi mereka yang berbuat maksiat, sendirian maupun bersama-sama. Dia kini mendampingi orang-orang yang bersabar dalam menghadapi segala ujian hidup, sekaligus meliputi orang-orang yang ingkar dalam menghadapi kebenaran.

Ya, Allah adalah Zat yang sedang bersama seluruh makhluk-Nya, di mana pun mereka berada. Langit luas yang bertabur miliaran bintang berada di dalam Kebesaran-Nya yang tiada tara. Lautan lepas yang berselimut kegelapan dan kecipak ombak sedang larut dalam Keperkasaan-Nya. Bahkan, seluruh peristiwa di langit dan di bumi, tak ada yang terjadi tanpa kehadiran-Nya. Sungguh, alam semesta hanyalah sebutir debu yang ''tenggelam'' dalam Samudera Keagungan yang tak berhingga.

''Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi. Dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu'' (QS 4: 126). ''Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang yang kamu lihat (gaya gravitasi). Kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari serta bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang telah ditentukan. Allah mengatur segala urusan, menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan dengan Tuhanmu (QS 13: 2).

Malam-malam akhir Ramadan bagaikan hari-hari di mana Nabi Musa diperintah Allah menyempurnakan puasa sebelum berbicara dengan-Nya. Dengan kemurnian puasanya itu beliau menerima wahyu di Gunung Sinai. Hari-hari ini juga bagaikan saat-saat akhir tahanuts Rasulullah SAW di Gua Hira', yang sesudah itu beliau menerima wahyu Alquran nul Karim, cahaya penerang bagi manusia akhir zaman.

Turunnya hikmah ilmu kehidupan selalu seiring dengan proses penyucian diri yang sempurna. Ketika jiwa dan raga telah larut dalam proses penyerahan diri kepada Zat Yang Mahasuci, itulah saat Lailatul Qadar turun kepada orang-orang yang berpuasa sempurna pada Ramadan. Hikmah itu dibawa oleh Malaikat Jibril yang memang bertugas menyampaikan ilmu-ilmu Allah kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Berjuta malaikat mengiringi sang Jibril di akhir-akhir proses penyucian diri yang istiqamah.

Lailatul Qadar tak akan turun kepada orang-orang yang secara ''dadakan'' mencegat datangnya malam seperti mencegat datangnya keberuntungan dalam sebuah undian. Sebab, sesungguhnya, bukan ''malam'' itu yang menjadi substansinya, melainkan pengetahuan mendalam yang disebut Alquran sebagai Al Hikmah. Betapa naifnya orang-orang yang ''mencegat'' datangnya ''sebuah malam'' di akhir Ramadan secara dadakan, karena malam hari di Indonesia sebenarnya sore hari di Timur Tengah, dan siang hari di Amerika.

''Sesungguhnya Kami telah menurunkan Alquran pada saat Lailatul Qadar... Turun para malaikat dan Jibril di malam itu dengan izin Tuhannya, untuk mengatur segala urusan (yang penuh hikmah)...'' (QS 97: 1&4). (bersambung/ari)


JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 8 SEPTEMBER 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=154277

Menyusuri Laut Merah ke Tempat Nabi Khidr

TURUN dari Jabbal Musa yang kami naiki waktu sahur, kami sampai di penginapan pukul 10 pagi. Untuk menghilangkan lelah setelah mendaki Gunung Sinai semalaman, saya langsung beristirahat. Apalagi, setelah duhur kami harus checkout untuk melanjutkan perjalanan ke Sharm el Sheikh, sebuah kota di tepi Laut Merah yang masih berjarak sekitar 270 km ke arah selatan.

Menuju Sharm el Sheikh, kami tidak melewati rute yang kami lewati saat datang, melainkan mengambil rute selanjutnya. Kalau awalnya datang dari arah Teluk Suez di sebelah timur, kami melanjutkan perjalanan ke arah barat sehingga bertemu pantai Teluk Aqabah yang berseberangan dengan Jazirah Arab. Setelah itu, berbelok ke kanan melewati Kota Dahab, menuju ke ujung paling selatan dataran Sinai.

Kurang lebih empat jam kami menyusuri pegunungan batu dan padang pasir. Separo perjalanan terakhir menyusuri pantai Teluk Aqabah yang berseberangan dengan negara Arab Saudi. Pemandangan di kawasan ini tak kalah indah dengan pantai timur di Teluk Suez. Kami menyusuri pantai itu sejauh lebih dari 100 km. Di sebelah kanan, bukit dan padang pasir. Sedangkan di sebelah kiri, laut yang indah membiru.

Keindahan itu berujung di Sharm el Sheikh, kota paling selatan dari dataran Sinai. Ia terletak di tepi pantai Laut Merah yang luar biasa. Di sinilah Selat Aqabah bertemu dengan Selat Suez. Di sebelah kanan kami adalah laut yang menjorok ke Teluk Suez, sedangkan di sebelah kiri kami adalah laut yang menjorok ke Teluk Aqabah. Kami persis berada di persimpangan dua teluk itu.

Memasuki pintu gerbang kota, sudah terlihat pantai yang ramai dengan kapal-kapal pesiar. Di sepanjang pantainya berdiri gedung-gedung megah, hotel, apartemen maupun vila bergaya Eropa. Kota yang memanjang searah pantai itu terbagi dalam tiga wilayah. Yakni, wilayah permukiman lama yang disebut Old Town. Kedua, kawasan tepi pantai yang disebut Sharm el Moya. Di kawasan ini terdapat hotel-hotel mewah, tempat-tempat hiburan malam, spa, pusat perbelanjaan, dan segala macam permainan yang disesaki turis-turis Barat.

Kawasan ketiga adalah El Hadaba, kawasan yang dipenuhi permukiman warga asing untuk berlibur, seperti vila, kondominium, dan apartemen. Berada di kawasan ini seperti berada di kawasan Eropa. Apalagi, banyak bule yang berlalu lalang di jalan-jalan.

Kota Sharm el Sheikh sudah jauh berubah bila dibandingkan pada 1980-an. Dulu daerah ini merupakan desa nelayan yang kecil. Kawasan ini sempat menjadi rebutan antara Mesir dan Israel. Bahkan, pernah diduduki Israel pada 1956 dan 1967. Tetapi, kemudian dikembalikan ke Mesir pada 1982 atas tekanan PBB dan dunia internasional. Sekarang kawasan yang sangat strategis itu menjadi pantai wisata nomor wahid di Mesir, bahkan di Timur Tengah.

Presiden Hosni Mubarak sangat suka dengan tempat ini, sehingga sering menerima tamu-tamu negara atau menyelenggarakan pertemuan internasional di sini. Bahkan, hampir setiap tahun, selama libur Idul Fitri, Mubarak dan keluarga memilih berada di Sharm el Sheik untuk berlibur. Sampai-sampai ada yang menyebut kota ini sebagai kota Mubarak. Meskipun pernah dibom oleh kalangan radikal Mesir pada 2005, kota ini mendapat julukan City of Peace.

Memasuki kota, kami berusaha mencari lokasi yang disebut dalam Alquran sebagai tempat bertemunya dua laut itu. Dari peta kami tahu bahwa itu adalah kawasan yang kini bernama Ras Muhammad. Kawasan itu benar-benar berada di paling ujung dataran Sinai. Bentuknya tanjung yang menjorok ke laut.

Kawasan sepi itu kini menjadi cagar alam kehidupan biota laut yang sangat digandrungi wisatawan dunia. Mereka senang menyelam di lepas pantai karena di dasar lautnya ada ribuan jenis ikan dan terumbu karang yang langka. Bahkan, ada kawasan yang memiliki gugusan karang berusia dua juta tahun, yang memberikan banyak informasi tentang kondisi alam masa silam. Tak kurang dari 50 ribu penyelam setiap tahun datang ke Ras Muhammad. Daratannya memang sepi, karena kebanyakan turis langsung membawa kapal dari dermaga menuju ke lepas pantai agar bisa langsung menyelam.

***

Kemarin sore (6/9) menjelang matahari tenggelam, saya berada di pantai tempat bertemunya dua laut itu. Lokasinya seperti yang digambarkan dalam Alquran. Benar-benar surprise dan terasa seperti dalam mimpi. Di sinilah, ribuan tahun silam, dua hamba Allah bertemu untuk mempelajari salah satu rahasia ilmu Allah yang luar biasa tinggi, yaitu tentang kesabaran. Mereka adalah Nabi Musa, sang Kalimullah, dan Khidr, seorang misterius ''penunggu pantai'' yang tidak dikenal.

Allah menceritakan kisah itu dalam Alquran al Karim, ketika memerintahkan Musa untuk bertemu guru spiritual yang tak disebutkan namanya itu. ''Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun'' (QS 18: 60).

''Lalu mereka bertemu dengan seseorang di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami'' (QS 18: 65).

Mengapa Musa yang hebat itu -memiliki sembilan mukjizat dan bisa berbicara langsung dengan Allah di puncak Sinai- masih diperintah Allah untuk berguru kepada Khidr? Ternyata, Musa dianggap Allah belum memiliki kualitas kesabaran yang seharusnya. Apalagi, menghadapi umatnya -Bani Israil- yang terkenal sangat cerewet dalam beragama.

Musa berkata kepada Khidr, ''Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?'' (QS 18: 66). Dia menjawab, ''Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?'' (QS 18: 67-68).

Mendalam sekali dialog dua hamba Allah itu. Musa yang sedemikian hebat diprediksi Khidr tidak akan bisa bersabar mengikutinya karena ilmunya ''belum cukup''. Kesabaran ternyata hanya bisa dilakukan jika seseorang memiliki ilmunya. Jika tidak, ia hanya bisa ''menyabar-nyabarkan'' diri belaka. Terpaksa sabar. Belum benar-benar bersabar. Dan terbukti, selama mengikuti Khidr, Musa sering protes kepadanya ketika Khidr melakukan sesuatu yang dianggapnya tidak masuk akal.

Sesuatu dikatakan masuk akal atau tidak bergantung pada seberapa tinggi ilmu yang telah dimiliki seseorang. Karena itu, Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu dan mengedepankan akal sehat dalam menjalankannya. Hanya orang-orang yang berilmu dan berakal sajalah yang bisa menjalankan agama ini dengan baik, sehingga tercapai tatanan masyarakat yang rahmatan lil alamin yang sebenar-benarnya. (bersambung/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 7 SEPTEMBER 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=154106

Senin, 06 September 2010

Mendaki Gunung Sinai pada Waktu Sahur

MENJELANG magrib, kami sampai di Kota St Katherine. Itulah sebuah kota kecil di kaki Gunung Sinai, yang penduduknya hanya beberapa ribu keluarga. Kotanya tenang, jauh dari hiruk pikuk kendaraan bermotor. Kawasan lembah tersebut berada di cekungan perbukitan batu yang tandus dan tebing-tebing tinggi. Bila matahari hampir tenggelam, sekitar pukul tujuh malam, pemandangannya seperti bayang-bayang raksasa yang berkerumun.

Kami langsung mencari penginapan agar bisa beristirahat sejenak setelah berkendara enam jam melintasi gurun pasir. Sejumlah hotel strategis yang kami datangi fully booked. Tak ada kamar kosong. Kami lantas mencari tempat singgah yang agak ke ujung jalan. Alhamdulillah, masih ada kamar kosong. Ternyata, sejumlah hotel itu dipesan rombongan turis dari Eropa. Beberapa bus berderet-deret di depan hotel mereka.

Pukul dua dini hari, setelah salat malam dan sahur, kami telah berada di kaki Gunung Sinai. Terminalnya penuh dengan bus dan kendaraan para peziarah. Kebanyakan di antara mereka datang dari Eropa dan beragama Kristen. Sebagian lagi merupakan orang-orang Yahudi. Sedikit di antara mereka yang beragama Islam. Bagi orang Kristen dan Yahudi, berziarah ke Gunung Sinai setara dengan umrah ke tanah suci Makkah bagi umat Islam.

Mereka membawa perbekalan yang cukup untuk mendaki gunung setinggi 2.285 meter dari permukaan laut tersebut. Tetapi, pendakian dari kaki Gunung Sinai sebenarnya tinggal sekitar 1.000 meter. Jalan setapaknya hanya bisa dilewati unta dan manusia. Saya lihat, kebanyakan peziarah membawa ransel kecil berisi makanan dan minuman sambil memegang tongkat.

Yang paling penting adalah minuman atau air mineral. Sebab, berdasar pengalaman para peziarah sebelumnya, pendakian itu memakan waktu empat jam untuk naik dan tiga jam untuk turun. Jadi, total waktu yang diperlukan sekitar tujuh jam. Karena itu, tentu para pendaki harus mengganti tenaga yang hilang dengan makanan dan minuman. Sayang, kami tidak akan bisa melakukan itu karena berpuasa. Tetapi, tekad kami sudah bulat. Kami harus sampai di atas. Terutama saya, agar bisa bercerita kepada pembaca.

Pada waktu sahur itulah kami mulai mendaki dengan berjalan kaki. Suasana gelap malam mengharuskan peziarah membawa senter. Tapi, setelah beberapa saat berjalan dalam kegelapan, kami memilih tidak menggunakan senter lagi. Mata kami sudah beradaptasi dengan kegelapan malam. Apalagi, bulan sepotong di langit sangat membantu menerangi jalan setapak yang kami lewati.

Tak berapa lama berjalan, kami bertemu dengan gereja besar di kaki Gunung Sinai, Gereja St Katherine. Gereja itu cukup legendaris bagi masyarakat kota tersebut. Di depannya ada pos penjagaan polisi. Kami ditanyai, apakah sudah membawa pemandu untuk berziarah. Sebab, yang tidak kenal rute bisa tersesat dan tidak diizinkan meneruskan perjalanan. Kecuali, kami "menyewa" salah seorang polisi itu sebagai guide. Kami berusaha menawar agar bisa mendaki sendiri. Sebab, salah seorang anggota tim ekspedisi, Dadan S. Junaedy, pernah mendakinya.

Mereka bersikukuh melarang kami naik. Kecuali, kami mau menyewa unta dan penggembalanya yang orang Badui. Akhirnya, kami memutuskan menyewa unta saja, empat ekor, sekalian berhemat tenaga karena puasa. Maka, menjelang subuh itu, kami mengendarai unta menuju puncak Sinai.

Ternyata, naik unta dalam waktu lama tidak senyaman yang kita duga. Perut dan pinggang serasa dikocok-kocok, sakit semua. Apalagi, kala jalan menanjak dan unta kadang tidak dijaga sepenuhnya oleh para penggembala. Lebih nikmat berjalan kaki.

Setiap dua ekor unta dijaga seorang Badui. Maka, satu jam naik unta, istri saya menyerah. Dia ketakutan karena unta yang ditunggangi lepas kendali. Dia akhirnya minta turun di pos peristirahatan pertama. Dia tidak mau melanjutkan pendakian lagi. Dia ketakutan naik unta di jalan terjal, apalagi badan terasa pegal-pegal.

Saya memutuskan melanjutkan perjalanan berdua dengan Dadan. Sementara itu, anggota tim lain, Yovi, saya minta menemani istri saya di pos. Perjalanan yang tersisa masih sekitar 2,5 jam dengan rute yang semakin menanjak. Saya salat Subuh di atas unta. Sebab, tidak ada musala atau tempat yang layak untuk salat di daratan.

Dua jam kemudian, punggung dan perut saya benar-benar sakit. Hampir-hampir tak tahan rasanya. Untung, di depan saya sudah terlihat tempat pemberhentian terakhir, yaitu pos ketujuh. Sisa rutenya sudah tidak bisa ditempuh dengan naik unta lagi. Kami harus berjalan kaki. Lalu, masya Allah, sisa rute tersebut ternyata berupa tebing terjal menuju puncak Jabbal Musa. Di depan saya membentang anak tangga dari bebatuan dengan kemiringan 45-60 derajat.

Anak tangga itu berjumlah sekitar 800 buah. Ketinggian setiap terapnya sekitar 30 cm. Jadi, tebing yang masih harus didaki sekitar 250 meter lagi. Itulah perjuangan terakhir sebelum para peziarah menikmati matahari terbit di puncak Sinai dan merasakan suasana Nabi Musa saat berada di sana. Dengan memompa semangat, saya mendaki tebing curam tersebut dengan sangat berhati-hati. Hari menjelang pagi.

Ketinggian yang hanya 250 meter itu serasa berkilo-kilometer. Setiap belasan anak tangga, napas saya terengah-engah. Maklum, sudah lebih dari 20 tahun saya tidak mendaki gunung lagi. Tenggorokan juga semakin kering, tapi tidak bisa dialiri air minum karena berpuasa.

Meski medan superberat, semangat saya tak surut sedikit pun. Terbayang betapa Nabi Musa naik ke bukit itu sendirian untuk bermunajat kepada Allah. Sekitar setengah jam kemudian, perjuangan kami finis. Jantung serasa hampir copot. Napas memburu dalam dinginnya hawa pegunungan yang berkadar oksigen rendah.

Namun, sungguh luar biasa pemandangan di puncak Jabbal Musa. Di ufuk timur, matahari beranjak memperlihatkan diri. Warna langit yang kuning kemerahan menjadi latar belakang puncak-puncak gunung di sekitarnya, di antara lembah dan ngarai yang tiada tara. Subhanallah...!

Di puncak itulah para peziarah mengucap syukur kepada Sang Pencipta dalam bahasa agama masing-masing. Saya melihat, ada dua tempat ibadah tak seberapa besar yang bertengger di puncak Sinai, yaitu sebuah musala dan gereja. Sebagian peziarah memanfaatkannya untuk berdoa. Sebagian lagi memilih berdoa di tempat terbuka sambil menikmati matahari terbit.

Saya memilih berdoa dan bersyukur di atas sebuah batu besar, yang dari tempat itu saya bisa melihat lembah sekeliling puncak Jabbal Musa. Saya membayangkan, di situlah dulu utusan Allah tersebut bermunajat kepada-Nya, berdialog langsung dengan-Nya. Ketika beliau meminta kepada Allah untuk bisa melihat Zat-Nya, bukit di sekitar puncak Jabbal Musa bergetar hebat, lantas runtuh sehingga membuat Nabi Musa pingsan.

Kini saya menyaksikan bukit-bukit batu itu. Memang berbeda dengan bukit-bukit yang lebih jauh di sekelilingnya. Banyak batu di sekitar puncak Jabbal Musa yang terbelah berantakan, seperti pernah terkena gempa.

Saya menjadi ingat firman-Nya dalam Alquran: ... Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung, gunung itu pun hancur dan Musa jatuh pingsan. Setelah tersadar, Musa berkata, "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada-Mu dan aku orang yang pertama-tama beriman (QS. 7: 143)." (bersambung/c11/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 6 SEPTEMBER 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=showpage&kat=1&subkat=53