Selasa, 31 Agustus 2010

Masjid Berdampingan dengan Gereja dan Sinagoge

ADA sebuah kawasan di Kairo yang menjadi saksi bisu masuknya Islam ke Mesir. Yakni, kawasan Kairo lama. Di kawasan itu dulu terdapat Kota Fustat sebagai pusat pemerintahan Provinsi Mesir. Saat itu Mesir dipimpin Gubernur Amru bin Ash yang ditunjuk langsung oleh khalifah Umar bin Khathab yang berkedudukan di Madinah, setelah menundukkan kekuasaan Romawi di Mesir.

Memasuki kawasan Kairo lama, kita memang tidak bisa merasakan lagi kemegahannya. Khususnya, jika dibandingkan dengan kawasan Kairo modern yang penuh gedung bertingkat. Tetapi, sungguh sangat menarik jika kita melakukan penelusuran lebih jauh di Kairo lama. Terutama, memasuki lorong-lorong bawah tanah yang menjadi bagian kawasan asli waktu itu. Di sanalah saya menemukan gereja Kristen dan Sinagog Yahudi yang sampai sekarang masih aktif digunakan. Kedua tempat ibadah itu berada tidak jauh dari masjid besar Amru bin Ash yang menjadi pusat kegiatan pemerintahan Mesir.

Beberapa kali saya sempat salat di masjid tua yang sudah berusia sekitar 1.500 tahun itu. Termasuk salat Tarawih. Saat itu imam salatnya menyenangkan. Bacaan Qurannya sangat bagus, suaranya merdu dan berwibawa. Salat di masjid itu terasa mantap dan khusyuk meski surat yang dibaca imam panjang-panjang. Setiap salat -dua rakaat, satu salam- rata-rata memakan waktu 15 menit. Maka, bagi yang menjalankan Tarawih 8 rakaat (plus tiga rakaat Witir), salatnya bisa memakan waktu sekitar satu jam. Sedangkan bagi yang menjalankan salat tarawih 20 rakaat (plus tiga rakaat salat witir), butuh waktu sekitar 2,5 jam.

Menjelang musim dingin seperti sekarang ini, waktu salat di Mesir dimajukan satu jam. Salat Isya yang biasanya pukul 21.30 menjadi pukul 20.30. Maka, salat Tarawih dengan 20 rakaat baru selesai sekitar pukul 23.30. Itu pun masih ada jamaah yang melanjutkan dengan salat Tasbih dan salat Tahajud, sepanjang malam.

Yang juga menarik, karena surat yang dibaca imam cukup panjang, banyak makmum yang menyimak sambil membaca kitab suci Alquran di tangan. Jadi, sambil berdiri salat, sebagian makmum membuka-buka Quran, sesuai dengan ayat yang dibaca imam. Pemandangan seperti itu jarang ada di Indonesia. Tetapi, di Mesir dan negara-negara Arab lainnya, salat seperti itu termasuk biasa. Bahkan, ada pula yang salat sambil membaca Alquran digital di handphone-nya. Yang tidak mengerti, mengira orang itu salat sambil SMS-an.

***

Amru bin Ash adalah panglima perang yang tangguh, sekaligus politikus ulung. Dia yang masuk Islam menjelang ditaklukkannya Kota Makkah, menjadi ujung tombak syiar Islam yang hebat di zaman Khulafaurrasyidin. Dia menjadi salah satu kekuatan inti sejak zaman Khalifah Abu Bakar. Prestasi terbesarnya pada zaman Umar bin Khathab, ketika dia bisa menundukkan kekuasaan Romawi yang waktu itu menjadi salah satu negara super power dunia bersama Kerajaan Persia.

Pasukan Amru bin Ash yang hanya 4.000 orang berhasil mengalahkan pasukan garis depan Romawi yang berada di kawasan sekitar Gaza sekarang. Setelah memperoleh bantuan pasukan 5.000 orang di bawah pimpinan Zubair, Amru bin Ash menyerang jantung pertahanan penguasa Romawi di benteng Babylon, Kairo. Dalam waktu sekitar tujuh bulan, kekuasaan Romawi yang dikawal pasukan yang berjumlah dua kali lipat itu pun runtuh.

Amru bin Ash membangun masjid di dekat kawasan benteng Romawi itu. Dia menamai kawasan ini sebagai Kota Al Fustat, yang kemudian menjadi pusat pemerintahan Islam pertama di Mesir. Pada 642 M itulah dia mulai membangun Mesir sebagai sebuah provinsi yang besar dan menyiarkan agama Islam dengan damai kepada masyarakat Mesir yang sebelumnya dijajah bangsa Romawi. Dia pun memindahkan ibu kota Mesir dari Alexandria ke Fustat, yang tiga abad kemudian menjadi Kota Kairo.

Di dekat Masjid Amru bin Ash berdiri beberapa gereja Kristen dan Sinagog milik orang Yahudi. Amru bin Ash tidak mengutak-atiknya. Dia memberikan keleluasaan beribadah kepada masing-masing penganut agama Samawi itu. Di antaranya Gereja St Sergius yang berdiri pada abad ke-3 M. Gereja itu dibangun di sebuah gua yang dulu pernah menjadi tempat singgah Nabi Isa dan Bunda Maryam dalam pelariannya ke Mesir saat dikejar-kejar Raja Herodes, penguasa Romawi di Palestina.

Di bekas benteng Romawi juga didirikan Gereja Babylon yang menjadi pusat perkembangan Kristen Koptik di Mesir. Gereja gantung tersebut dibangun di bagian atas tembok-tembok benteng pada abad ke-7 M. Saya sempat masuk ke dalamnya dan menikmati desain bangunannya. Arsitekturalnya perpaduan antara Romawi dan Arab. Banyak tulisan kaligrafi di dinding maupun di atas pintu-pintunya.

Menelusuri lorong-lorong bawah tanah di kawasan Kairo lama, kami juga menemukan sebuah sinagog. Sayang, ketika kami hendak masuk ke tempat ibadah orang Yahudi itu, pintu gerbangnya baru saja ditutup. Pada hari biasa, sinagog bisa dikunjungi masyarakat sampai pukul 4 sore. Tetapi, selama Ramadan, jam kunjung sinagog hanya sampai pukul 3 sore.

Sinagog ini dibangun pada abad ke-9 M dan kemudian direnovasi oleh seorang Rabbi Yahudi dari Yerusalem pada abad ke-12. Tempat peribadatan tersebut kemudian dinamai Ben Ezra Synagogue sesuai dengan nama sang Rabbi. Amru bin Ash memelihara semua itu sebagai bagian dari wilayah kekuasaan yang dipimpinnya.

Keberadaan masjid yang berdampingan dengan gereja dan sinagog itu menunjukkan hidup berdampingan dalam tatanan yang saling menghormati dalam kedamaian. Saling menolong dan melindungi kepentingan bersama dari ancaman luar yang menghancurkan. Sahabat Rasul itu tahu persis bahwa Islam memberikan kebebasan dalam beragama. Apalagi, ketiga agama samawi itu adalah agama yang dibawa oleh keluarga Nabi Ibrahim alaihissalam...

* * *

Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau mendirikan sebuah cikal bakal negara di sana. Selain mendirikan masjid sebagai pusat dakwah dan perekat umat Islam, sang Nabi membuat perjanjian dengan masyarakat setempat yang sudah mapan lebih dulu. Perjanjian itu lantas dikenal sebagai Piagam Madinah.

Salah satu isi Piagam Madinah adalah memberikan jaminan keamanan bagi seluruh warga yang berbeda suku dan agama untuk menjalankan segala tradisi kebiasaannya. Termasuk kebebasan menjalankan agama masing-masing selama mereka ingin hidup berdampingan secara damai dalam negara yang sama. Konsep Piagam Madinah inilah yang kemudian menjadi tonggak sejarah bagi berdirinya negara-negara modern dalam semangat pluralisme yang saling menghormati.

''Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau (setidak-tidaknya) balaslah (serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu'' (QS. 4: 86). ''Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku'' (QS. 109: 6). (bersambung/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 31 AUGUST 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=152931

Ziarah ke Gua Persembunyian Isa dan Maryam

Akhirnya, kami benar-benar meninggalkan Kota Luxor yang bertaburan situs penting dalam sejarah Mesir kuno. Kami berangkat pagi untuk menuju Kota Asyut yang berjarak sekitar 300 km dengan mengendarai mobil.

Menyusuri jalan sebelah timur Sungai Nil lebih baik jika dibandingkan dengan sebelah barat. Jalanan tepi barat adalah kawasan yang dikenal dengan nama zira'i alias jalanan pedesaan dan area pertanian. Sedangkan kawasan timur dikenal sebagai sakhrawi alias jalanan padang pasir. Lewat zira'i, perjalanan tidak akan lancar karena sering bertemu dengan perkampungan, pasar, dan iring-iringan kambing atau sapi. Sedangkan lewat sakhrawi jauh lebih lancar. Bahkan, rasanya seperti lewat tol meskipun harus melalui kawasan padang pasir nan tandus.

Sekitar empat jam perjalanan, sampailah kami di Kota Asyut. Sebuah kota yang bersih dan tenteram. Aliran Sungai Nil yang tenang menambah ketenteraman kota kecil itu. Tidak banyak situs Mesir kuno di kawasan tersebut. Tetapi, ada situs yang sangat menarik dari zaman Masehi. Yakni, tempat singgah Nabi Isa dan ibunya, Siti Maryam.

Sebelum pergi ke penginapan, saya memutuskan langsung berkunjung ke perbukitan Jabbal Asyut, tempat nabi Bani Israil itu singgah bersama ibunya. Daerahnya agak masuk dari jalan utama, sekitar 10 km. Kemudian, berbelok, naik ke perbukitan. Dari kejauhan, lokasi situs sudah kelihatan. Situs tersebut berupa sebuah gua besar yang kini sudah berubah menjadi sekelompok bangunan gereja: Deir Durunka. Di situlah terdapat salah satu pusat pengaderan biarawan Kristen Koptik untuk mengembangkan agamanya.

Untung, kami datang pada Agustus, saat perayaan datangnya Isa dan Maryam ke tempat tersebut dihelat. Jadi, jamaah yang berziarah sedang ramai-ramainya. Menurut panitia perayaan, jumlah jamaah yang datang bisa mencapai 1 juta orang dalam waktu 15 hari. Yaitu, mulai 7-22 Agustus.

Memasuki halaman Biara Durunka, saya mendengar suara puji-pujian dalam bahasa Arab, mirip orang Islam kala mengaji, yang disiarkan lewat pengeras suara. Ingin tahu isinya, saya membeli buku pujian itu. Bunyinya, antara lain:

Ummuna yaa 'adrak, yaa ummal masih.

Yalli fiiki daaiman biyikhlu almadiih.

Quluubna bitikhibbik khubb

ma lausy matsil.

A'idzin nufadhdhol janbik wa

naquulu taraatil.

(Ibunda kami sang perawan suci, wahai ibunda Almasih.

Yang ada pada dirimu selamanya pantas mendapatkan puji-puji.

Kami mencintaimu dengan sepenuh hati, cinta yang tak tertandingi.

Kami ingin selalu berada di sampingmu dan menghaturkan puji-puji.)

Memasuki kawasan gua suci, kami didampingi seorang biarawan bernama Abram. Dia menemani kami melihat-lihat sampai dalam gua yang ternyata cukup besar, seluas ratusan meter persegi. Di tempat itulah dulu perawan suci Maryam dan putranya, Nabi Isa, bersembuyi dari kejaran Raja Herodes yang hendak membunuh mereka.

Gua di Jabbal Asyut itu menjadi persinggahan terakhir ibu dan anak tersebut dalam menempuh perjalanan sekitar 1.000 km. Mereka berkelana sekitar tiga tahun, dimulai dari Palestina, menyeberang ke Mesir lewat Gaza dan Rafah, kemudian menyusur ke arah hulu Sungai Nil, tepatnya ke selatan. Waktu itu Nabi Isa masih berumur beberapa bulan. Dengan naik keledai dan didampingi Yusuf, paman Maryam, mereka singgah di berbagai kota di sepanjang Sungai Nil. Di antaranya, Tal Basta, Sakha, Wadi El Natrun, Bahnassa, Smalot, Dairut, Jabbal Kuskam, dan terakhir Jabbal Asyut.

Bersama biarawan Abram, saya melihat-lihat isi gua yang kini menjadi tempat peribadatan umat Kristen Koptik itu. Saya mengamati dua ruang yang pernah menjadi tempat tidur Maryam dan Isa. Yaitu, pojok kanan dan kiri bagian paling dalam gua. Di sana, banyak jamaah yang berkerumun untuk berdoa dan memohon berkah. Mereka berdoa sambil menghadap ke dalam ruang yang diberi pintu terali, yang di dalamnya terdapat foto Bunda Maryam dan Nabi Isa dalam ukuran besar. Foto ibu dan anak tersebut setiap perayaan tahunan seperti sekarang selalu diarak keliling Kota Asyut dengan dinaikkan ke kendaraan semacam kereta. Dalam waktu bersamaan, umat Kristen Koptik di sekitar Jabbal Asyut menggelar pasar malam dengan acara-acara meriah. Juga ada acara pembaptisan bayi dan anak-anak.

Peribadatan penganut Kristen Koptik memiliki sejumlah perbedaan dengan umat Kristen pada umumnya. Mereka mengaku memperoleh syiar agama lewat orang-orang suci pada zaman-zaman awal. Saya melihat foto Saint Markus dalam ukuran besar dipajang di dalam ruang gereja mereka. Orang suci itulah yang dimuliakan sebagai pembawa ajaran ke Mesir.

Salah satu di antara perbedaan tersebut adalah sembahyang tujuh kali dalam sehari yang mereka sebut sebagai as sab'u shalawat (salat tujuh waktu). Ibadah lima waktu di antaranya mirip dengan yang dijalankan oleh umat Islam, yakni pukul 06.00, 12.00, 15.00, 18.00, dan menjelang tidur. Sedangkan dua ibadah lain dilaksanakan pukul 09.00, yang mirip dengan salat Duha, dan tengah malam, yang mereka sebut sebagai nisyfu al lail, yang mirip dengan salat Tahajud. Mereka juga berpuasa 40 hari menjelang perayaan Paskah. Lalu, puncak perbedaan mereka dengan umat Kristen pada umumnya terdapat pada perayaan Natal. Mereka tidak memperingati Natal setiap 25 Desember, melainkan setiap 7 Januari.

***

Siti Maryam dan Nabi Isa adalah dua manusia yang sangat dimuliakan dalam Alquran. Mereka menjalani penderitaan dengan penuh kesabaran sebagai pengabdian yang tulus kepada Allah, sang Ilahi Rabbi yang mengutus mereka. Pada zaman Raja Herodes yang beragama pagan, seperti para firaun, ibu dan anak itu diancam dibunuh karena dikhawatirkan melahirkan masalah bagi Kerajaan Romawi.

Atas perintah Allah, mereka menjauh untuk sementara. Kemudian, mereka kembali kepada Bani Israil, menyiarkan agama tauhid untuk menentang agama-agama pagan yang dianut kebanyakan bangsa Romawi waktu itu. "Telah Kami jadikan putra Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami). Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar, yang memiliki banyak padang rumput dan sumber air bersih yang mengalir (QS. 23: 50)." (bersambung/c11/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 22 AUGUST 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=151669

Mencari Akhetaten, Kota yang Hilang

DI KOTA Asyut, kami hanya menginap semalam. Esok harinya, kami meneruskan perjalanan menuju kota berikutnya, Minya, yang berjarak sekitar 150 km dari Kota Asyut. Kami menempuhnya dalam waktu sekitar tiga jam di bawah pengawalan polisi Asyut sampai luar kota.

Perlu pengawalan polisi? Ternyata, kawasan Asyut terkenal dengan kelompok radikalnya. Polisi tidak berani mengambil risiko dengan membiarkan para turis berjalan tanpa pengawalan. Apalagi, turis asing yang tidak menguasai kondisi jalan sekitar Kota Asyut. Pengawalan secara estafet itu mengantar kami sampai benar-benar keluar dari Kota Asyut. Kami lalu disarankan menggunakan jalan zira'i alias jalan pertanian saja. Dengan begitu, kalau ada apa-apa terhadap kami di jalan, banyak orang yang bisa menolong.

Sebelum masuk ke Kota Minya yang sepi, kami memutuskan mencari situs yang jarang dikunjungi turis, yaitu sebuah kota yang hilang. Kota itu bernama Akhetaten. Itulah kota yang dulu menjadi pusat kerajaan Mesir kuno selama 16 tahun (1352-1336 SM) setelah Luxor. Rajanya bernama Ikhnaton, ayah Tutankhamun yang muminya menghebohkan karena berhias 120 kg emas.

Ada cerita menarik di sekitar Firaun Ikhnaton sehingga dirinya memindahkan ibu kota Luxor ke kota yang sama sekali baru, yang dinamai Akhetaten. Ternyata, firaun kesepuluh dalam dinasti ke-18 itu berpindah agama, dari agama pagan yang menyembah matahari ke agama tauhid yang menyembah Tuhan Yang Esa.

Ikhnaton terlahir dengan nama Amenhotep IV. Dia adalah anak Amenhotep III yang menyembah dewa matahari. Karena itu, namanya mengandung kata amun atau amen yang terkait dengan Amun Ra, sang dewa matahari. Dalam perjalanan spiritual, Amenhotep IV kemudian mengubah keyakinan. Dia membelot dan berganti nama menjadi Ikhnaton atau Akhenaten, yang bermakna pelayan Tuhan Yang Esa. Tuhannya bukan lagi Amun, melainkan Aton, sang pencipta matahari. Menurut beberapa kalangan, Amenhotep berpindah agama karena dipengaruhi ibunya, Quinty, yang konon keturunan Nabi Yusuf.

Dia lantas memindahkan ibu kota Kerajaan Mesir dari Luxor ke Akhetaten, kota yang dibangun dari nol. Sebuah kota di pinggiran Sungai Nil yang indah. Di situlah Ikhnaton mengembangkan agama tauhid selama 15 tahun masa pemerintahannya, didampingi istrinya yang terkenal cantik dan baik hati, Ratu Nefertiti.

Di bawah kepemimpinan Ikhnaton dan Nefertiti, Mesir mengalami masa transisi, termasuk revolusi dalam beragama. Ciri kuil-kuil yang dia bangun di sekitar Akhetaten berbeda dengan Kuil Karnak dan Luxor yang cenderung gelap karena tertutup atap dan pilar-pilar raksasa. Kuil Ikhnaton bernuansa terang dengan filosofi membiarkan matahari menyinari ruang-ruang di dalamnya.

Tetapi, pemindahan ibu kota kerajaan tersebut membuat para pendeta pagan yang menguasai Kuil Karnak dan Luxor geram. Karena itu, mereka mencari cara untuk menghalangi berkembangnya kekuasaan dan agama Ikhnaton. Momentum besar mereka dapatkan ketika Ikhnaton meninggal. Saat itu, anaknya, Tutankhaton, masih kecil. Dengan cerdik para pendeta pagan memengaruhi pejabat-pejabat kerajaan agar memilih menantu Ikhnaton yang bernama Smenkhkare sebagai pejabat sementara sambil menunggu Tutankhaton cukup umur.

Sekitar dua tahun masa transisi itu, Tutankhaton dilantik sebagai firaun dalam usia yang masih sangat muda, sembilan tahun. Para pendeta pagan yang berada di balik skenario tersebut bisa mengembalikan pengaruh agama pagan ke dalam istana. Maka, nama Tutankhaton diubah menjadi Tutankhamun. Kata Aton yang bermakna Tuhan Yang Esa diganti menjadi Amun yang bermakna dewa matahari. Sejak itu, ibu kota kerajaan dipindah lagi ke Luxor. Tutankhamun tidak bertahan lama dalam kekuasaan tersebut. Dia mati secara misterius dalam usia yang masih sangat muda, 18 tahun. Dia dimakamkan di Lembah Raja, sebagaimana jenazah para firaun.

Sedangkan Kota Akhetaten dibumihanguskan oleh para pendeta pagan, sehancur-hancurnya. Kota indah di tepi Sungai Nil itu kini hilang dari peta dan berganti nama menjadi Tell Al Amarna. Bisa sampai di situs reruntuhannya tidaklah mudah. Kami harus menyeberangi Sungai Nil bersama mobil kami dengan menggunakan feri. Setelah itu, kami melewati perkampungan padat untuk menuju kawasan perbukitan di kejauhan. Ketika kami sampai di sana, ternyata banyak warga setempat yang tidak mengetahui situs tersebut. Berkali-kali kami bertanya kepada penduduk, jawaban mereka selalu berubah-ubah. Membingungkan.

Ada yang menyebut situs kota yang hilang itu berada di sekitar perbukitan, tetapi ada juga yang menunjukkan arah sebaliknya ataupun lokasi yang berbeda lagi. Saya harus menyewa keledai milik penduduk setempat untuk menuju kawasan yang dimaksud. Sebab, kami tidak mungkin menggunakan mobil. Tetapi, hasilnya nihil. Akhirnya, kami memutuskan melanjutkan perjalanan menuju Kota Minya yang tidak jauh lagi.

Kami menuju dermaga penyeberangan untuk menunggu feri sekitar satu jam kemudian. Saat menunggu kapal itulah kami berbincang-bincang dengan seorang sopir tuk-tuk, kendaraan sejenis bajaj di Indonesia. Si sopir menyatakan tahu tentang reruntuhan situs yang kami maksud. Tetapi, papar dia, kami tidak bisa mencapainya dengan mobil. Kami harus naik tuk-tuk. Maka, kami berempat naik tuk-tuk menuju lokasi reruntuhan Kota Akhetaten.

Alhamdulillah, ternyata benar. Kami bisa melihat reruntuhan Kota Akhetaten zaman Ikhnaton yang sudah berusia lebih dari 3.000 tahun. Istananya benar-benar hancur, tinggal satu tiang besar yang tersisa. Di sekitarnya, tampak fondasi-fondasi bekas rumah kuno dalam radius beberapa kilometer. Secara umum, kawasan tersebut telah berubah menjadi dataran padang pasir yang tandus dengan batu-batu berserakan.

Dari kisah kota yang hilang itu, kita bisa memperoleh pelajaran bahwa perjuangan menegakkan kebajikan atas kebatilan tidak selalu mudah. Dibutuhkan pengorbanan yang besar dan kesabaran yang kuat sampai Allah memutuskan memberikan yang terbaik kepada hamba-hamba-Nya yang sabar dan istiqomah.

Kekuasaan boleh hilang, harta benda boleh lenyap, bahkan jiwa boleh melayang untuk memperjuangkan kebajikan. Tetapi, kebajikan tetap saja kebajikan dan kebatilan tetap saja kebatilan. Akan datang suatu masa kala kebajikan bersinar terang benderang, ketika umat memperoleh manfaat yang besar dari sebuah perjuangan.

"Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang baik, dan mencegah dari yang buruk. Merekalah orang-orang yang beruntung (QS 3: 104)." (bersambung/c11/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 23 AUGUST 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=151773

Kincir Nabi Yusuf di Kota Subur Fayoum

DARI Tell Al Amarna, kami meneruskan perjalanan ke Kota Fayoum. Ini adalah kota paling subur di Mesir. Jaraknya sekitar 170 km dari Kota Minya, tempat kami bermalam. Lepas dari Minya, kami menelusuri jalan zira'i, melewati desa-desa di sepanjang pinggir Sungai Nil. Sungguh menyenangkan melewati kawasan hijau penuh pepohonan setelah berhari-hari berada di jalan sakhrawi dengan pemandangan padang pasir nan tandus.

Berbelok ke arah barat, kami menyusuri sebuah kanal besar yang bersumber dari Sungai Nil sebagai aliran utamanya. Kanal itu dikenal sebagai Bahr Yusuf alias Sungai Nabi Yusuf. Sebenarnya, bukan hanya kanal itu yang mengairi kawasan Fayoum. Melainkan, ada lagi dua kanal yang mengapit tepi-tepi Kota Fayoum, yang bersumber dari Sungai Nil. Konon, kanal-kanal tersebut adalah peninggalan Nabi Yusuf yang hidup pada Zaman Pertengahan, Kerajaan Mesir kuno, sekitar abad ke-17 SM.

Ketika itu, sebagian besar kawasan Timur Tengah sedang dilanda musim kering berkepanjangan. Maka, Nabi Yusuf memperoleh kepercayaan dari raja yang berkuasa untuk mengatasi musim kering yang melanda selama tujuh tahun berturut-turut. Nabi Yusuf lantas membangun Kota Fayoum untuk dijadikan lumbung makanan bagi negeri Mesir dan sekitarnya.

Selama tujuh tahun menjelang datangnya musim paceklik itu, Nabi Yusuf berhasil menumpuk makanan sebanyak-banyaknya dari hasil pertanian di Kota Fayoum. Hasil kerja selama tujuh tahun berhasil mengatasi musim paceklik selama tujuh tahun berikutnya. Begitulah yang dijelaskan panjang lebar dalam Alquran, Surat Yusuf.

Bukan hanya orang-orang Mesir yang menerima berkah dari Kota Fayoum. Penduduk negeri-negeri di sekitar Mesir juga mendapatkannya. Di antaranya, Bani Israil yang tinggal di kawasan Palestina. Digambarkan dalam Alquran, saudara-saudara Yusuf berdatangan ke Mesir untuk meminta bantuan makanan untuk dibawa pulang ke Palestina yang berjarak ratusan kilometer dari Fayoum.

Setelah mereka tahu bahwa Yusuf yang menjadi pembesar di ibu kota Mesir itu adalah saudara mereka, serombongan besar keluarga Nabi Ya'kub pun hijrah untuk menetap di Mesir. Itu terbukti dalam penelitian arkeologi modern, kawasan Fayoum ternyata pernah menjadi permukiman bangsa Yahudi.

Orang-orang Yahudi saat itu bisa memperoleh izin tinggal di sana karena yang berkuasa di Mesir waktu itu adalah bangsa Hyksos yang berasal dari kawasan dekat Palestina. Pada masa-masa itu, Kerajaan Mesir kuno memang mengalami kemunduran dan dijajah bangsa-bangsa lain.

Secara garis besar, Kerajaan Mesir kuno terbagi dalam empat era. Yakni, Old Kingdom (abad 30-21 SM), Middle Kingdom (abad 21-16 SM), New Kingdom (abad 16-7 SM), dan yang terakhir adalah era Late Period (7-1 SM).

Pada era Old Kingdom dan New Kingdom itulah Mesir dikuasai para Firaun. Sedangkan pada era Middle Kingdom dan Late Period, Kerajaan Mesir terpecah-belah menjadi kekuasaan-kekuasaan kecil dan dijajah sejumlah bangsa asing. Sampai akhirnya jatuh ke tangan Yunani-Romawi pada akhir pergantian abad Masehi dan sesudahnya.

Nama ''Fayoum'' berasal dari bahasa Koptik. Yaitu, bahasa Mesir kuno yang sudah bercampur dengan bahasa Yunani: Phiom atau Pa-youm yang bermakna danau atau laut. Di kawasan itu memang terdapat danau cukup besar yang terbentuk sejak berabad silam. Danau tersebut memiliki ketinggian 45 meter di bawah laut, sehingga sulit menggunakan air danau untuk mengairi kawasan yang lebih tinggi di sekitarnya.

Karena itu, di sinilah kecerdikan Nabi Yusuf. Beliau mengalirkan air dari Sungai Nil yang berjarak sekitar 100 km ke danau tersebut. Ada beberapa kanal yang dilewatkan ke daerah pertanian seluas 340.000 hektare di Kota Fayoum.

Untuk meratakan distribusi irigasinya, Nabi Yusuf menggunakan teknik kincir air. Ada ratusan kincir air yang dipakai penduduk hingga sekarang. Salah satunya kincir raksasa yang diabadikan di tengah-tengah Kota Fayoum, dekat kanal utama yang dikenal sebagai Bahr Yusuf alias Kanal Nabi Yusuf.

Kini, Kota Fayoum menjadi lumbung padi bagi negeri Mesir. Berbagai macam hasil pertanian dikirim dari kota tua yang subur tersebut. Karena itu, banyak ungkapan yang bersifat pujian terhadap makanan yang lezat dikaitkan dengan Kota Fayoum. Misalnya, ayam Fayoumi atau ayam yang berasa lezat.

Memang benar adanya. Sebab, saya sempat berbuka puasa di kota itu dengan menu ayam Fayoumi. Demikian pula buah-buahan, sayuran, dan hasil pertanian yang baik-baik disebut sebagai Fayoumi...!

***

Nabi Yusuf adalah nabi keturunan Israil, atau sering disebut Bani Israil. Sebab, Israil adalah nama lain Nabi Ya'kub. Anak-anaknya berjumlah 12 orang, yang kelak menjadi 12 suku dalam Bani Israil pada zaman Nabi Musa.

Yusuf kecil dijahati oleh saudara-saudaranya dan dibuang ke sebuah sumur di kawasan Sinai. Yusuf ditemukan oleh seorang pedagang karavan dari negeri Madyan yang sedang lewat di daerah itu untuk mengambil air di sumur. Yusuf lantas dibawa pedagang tersebut untuk dijual di Mesir. Kawasan tempat menjual Yusuf itu adalah Fayoum. Kawasan tersebut memang menjadi tempat pemberhentian para pedagang karavan dari berbagai negara di sekitar Mesir.

Di Fayoum itulah Yusuf dibeli oleh seorang pembesar bernama Potiphar, orang Hyksos yang dekat dengan kalangan istana. Sayang, istri Potiphar mengakibatkan Yusuf dipenjara dengan tuduhan hendak memerkosanya. Padahal, yang terjadi sebenarnya adalah sebaliknya.

Wanita yang di dalam Alquran dikenal dengan nama Zulaikha itulah yang sebenarnya membujuk Yusuf untuk berlaku serong dan Yusuf berlari keluar ruangan. Celakanya, di depan pintu, ada suami Zulaikha yang lebih percaya kepada istrinya daripada Yusuf. Karena itu, Yusuf pun masuk penjara tanpa proses pengadilan.

Yusuf dipenjara selama tujuh tahun. Tapi, di sanalah dia justru memperoleh ilmu hikmah untuk menakwilkan mimpi yang kelak mengantarkan dirinya menjadi seorang kepercayaan raja. Sang raja bermimpi ada tujuh ekor sapi kurus yang memakan tujuh tangkai padi yang gemuk. Para pendeta pagan di sekelilingnya tidak ada yang bisa menakwili.

Tapi, Yusuf memberikan makna yang tepat tentang mimpi sang raja itu. Yakni, Mesir akan mengalami masa paceklik selama tujuh tahun setelah masa panen raya selama tujuh tahun. ''Yusuf berkata kepada raja: Jadikanlah aku seorang yang berkuasa untuk mengelola (hasil) bumi (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan'' (QS 12: 55).

Maka, atas bimbingan Allah, Yusuf membangun Kota Fayoum menjadi kota yang subur dan membekas hingga sekarang. Karya orang-orang yang berilmu, yang diniatkan ikhlas karena Allah semata, adalah karya abadi yang akan membawa manfaat buat umat manusia. (bersambung/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 24 AUGUST 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=151922

Memphis dan Necropolis Pertama di Dunia

KELUAR dari Kota Fayoum membawa kami ke pemandangan padang pasir kembali. Kawasan hijau yang begitu subur berganti dengan pemandangan cokelat tanah dan bebatuan yang tandus. Tak jauh dari Fayoum, sekitar 80 km, kami memasuki kota tua yang sangat terkenal dalam sejarah Mesir kuno, yaitu Kota Memphis. Inilah ibu kota Mesir di zaman Old Kingdom selama lebih dari 1.000 tahun.

Bila dibandingkan dengan Luxor yang menjadi ibu kota New Kingdom, Memphis memainkan peran lebih lama. Bahkan, ketika ibu kota kerajaan Mesir kuno sudah dipindahkan ke Luxor, Kota Memphis masih berperan sebagai kota besar yang ramai. Luxor hanya berperan sekitar 500 tahun, sedangkan Memphis bertahan sampai lebih dari 3.000 tahun, hingga zaman Romawi berkuasa di Mesir.

Setelah itu, peran Memphis mengalami kemunduran seiring dengan datangnya kekuasaan Islam yang beribu kota di Kairo. Kini Memphis hanya berupa sebuah desa kecil. Ketika memasuki kawasan ini, kami disambut sebuah papan penunjuk bertulisan Village Memphis. Dan, memang benar, kami hanya menemukan sebuah museum tak seberapa besar di antara kawasan pedesaan yang tak lagi megah. Di museum itulah sejumlah peninggalan Kerajaan Mesir kuno menampakkan kejayaan masa lalunya.

Untuk melihat kemegahan Kota Memphis kita bisa menyaksikan langsung reruntuhan kotanya di kawasan yang sangat luas. Maka, kami pun hanya sebentar berada di dalam museum. Kami langsung menjelajahi ''bekas kota'' yang didirikan dinasti pertama kerajaan Mesir kuno. Kami pun bisa leluasa menyaksikan reruntuhan kota yang kini digali kembali oleh para arkeolog itu.

Adalah Firaun Menes atau yang lebih dikenal dengan nama Narmer yang mula-mula membangun Kota Memphis. Dia adalah raja pertama Old Kingdom yang berkuasa di abad 32 SM. Dialah Firaun yang pertama berhasil menyatukan Kerajaan Mesir Utara dan Selatan. Atau, di dalam sejarah dikenal sebagai Lower Egypt dan Upper Egypt.

Maka, sejak Narmer, Firaun Mesir menggunakan mahkota bertumpuk dua, yang dikenal sebagai double crown, sebagai simbol penyatuan kerajaan utara dan selatan. Kemudian dilanjutkan penyatuan lambang bunga lotus dan pohon papirus yang menjadi simbol kesejahteraan kedua kerajaan. Pemilihan Kota Memphis di lembah Sungai Nil, yang berada di perbatasan wilayah kerajaan utara dan selatan, itu juga sebagai lambang penyatuan.

Kota yang berada di ''pintu'' Delta Sungai Nil yang subur tersebut dikelilingi tembok yang melindunginya dari luapan Sungai Nil saat banjir tahunan. Kota itu diberi nama Ineb-Hedj, yang dalam bahasa Mesir kuno bermakna ''Tembok Putih'', menunjuk pada tembok yang mengelilingi kota. Sedangkan nama Memphis baru muncul kemudian, yang dalam bahasa Yunani bermakna ''Kota Indah yang Tertata Rapi'', karena di dalamnya banyak ditemukan taman yang indah dengan air mancur, kuil-kuil, dan istana-istana yang megah.

Bukti-bukti kemegahannya kini sedang direkonstruksi para arkeolog. Salah satunya, sebuah kota pemakaman yang dikenal sebagai Necropolis. Kawasannya membentang sepanjang 40 km. Di dalamnya terdapat lebih dari seratus piramida yang menakjubkan, serta ratusan makam para kerabat Firaun, pendeta, dan pejabat-pejabatnya. Areanya lebih luas daripada kawasan Lembah Raja yang sudah kami kunjungi di Luxor.

Sayang, karena usianya sudah lebih dari 5.000 tahun, penggalian kawasan ini membutuhkan keahlian dan kehati-hatian yang ekstra. Benda-benda bersejarahnya sudah banyak yang hancur dimakan usia, atau hilang dicuri para perampok kuburan Firaun. Tetapi, fisik kota secara kesuluruhan kini diupayakan direkonstruksi untuk dimunculkan kembali. Setidaknya, untuk kawasan Kota Makam yang disebut Necropolis itu.

Jika jenazah Firaun di Lembah Raja dimasukkan ke perut bukit berbentuk piramida, di Necropolis jenazah Firaun dimasukkan ke dalam perut ''bukit buatan'', yakni sebuah bangunan berbentuk piramida yang menjulang tinggi puluhan meter ke angkasa. Tentu, ini jauh lebih dahsyat karena membutuhkan keahlian dan waktu bertahun-tahun untuk merekonstruksinya.

Ide pembuatan Kota Makam datang dari seorang arsitek multitalenta yang terkenal zaman itu: Imhotep. Awalnya, makam-makam raja Mesir hanya berbentuk mastaba. Yaitu, sebuah ruangan yang dibentuk dari tumpukan batu yang di dalamnya terdapat peti mumi Firaun. Imhotep mengembangkannya menjadi sebuah bangunan piramida yang monumental. Karena jasa dan ide-idenya yang brilian itulah, di kawasan Necropolis kini didirikan Museum Imhotep. Di dalamnya, pengunjung bisa menyaksikan bagaimana Imhotep membangun sebuah piramida.

Piramida tertua adalah Piramida Sakkara. Bentuknya unik dan berbeda daripada piramida-piramida umumnya. Piramida yang menjadi makam Firaun Djoser dari abad ke-3 di zaman Old Kingdom itu berbentuk bangunan bertingkat yang mengecil di bagian puncaknya. Piramida ini sering juga disebut Piramida Djoser, nama Firaun yang berkuasa pada 2667-2648 SM itu.

Tinggi piramida tersebut sekitar 60 meter, bertingkat enam dan terbuat dari balok-balok batu kapur yang ditumpuk secara berjenjang. Ketika saya datang ke kompleks Sakkara, piramida tersebut sedang dalam renovasi. Kawasan makam ini memang masih terus diekskavasi untuk menemukan piramida-piramida lain. Para arkeolog sudah menemukan sebelas piramida. Di antaranya Piramida Userkaf, Unas, Pepi, Djoser, dan Sekhemket. Saat ini para arkelog menggali sebuah piramida lagi yang baru ditemukan.

* * *

Mesir benar-benar menjadi sumber artefak sejarah masa lampau. Bukti adanya peradaban yang tidak kalah dengan zaman sekarang. Tentu, dalam bentuk yang berbeda. Allah, sang Pencipta peradaban, memerintahkan kepada kita untuk melakukan perjalanan menyusuri peninggalan-peninggalan sejarah itu agar bisa mengambil pelajaran. Bahwa peradaban setinggi apa pun kelak akan runtuh dimakan waktu. Tak ada yang mampu mengalahkan sang Penguasa alam semesta.

''Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lantas memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka? Padahal, orang-orang zaman dulu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekasnya di muka bumi, maka apa yang mereka usahakan (untuk mempertahankan kekuasaan) itu tidak dapat menolong mereka (dari kehancuran)'' (QS. 40: 82). (bersambung/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 26 AUGUST 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=152244

Mencari Tempat Tenggelamnya Istana Qarun

KETIKA berada di Kota Fayoum kami penasaran dengan nama Danau Qarun. Apalagi, setelah saya telusuri, tidak jauh dari danau itu ada perkampungan yang juga bernama Desa Qarun. Apakah ini ada kaitannya dengan tokoh Qarun di zaman Nabi Musa, yang harta benda beserta istananya ditenggelamkan Allah, karena kesombongannya? Ternyata benar. Di sekitar danau itulah Qarun dan istananya ditenggelamkan.

Qarun adalah bangsa Israil sebagaimana Nabi Musa. Sejumlah penafsir Alquran mengatakan, Qarun adalah sepupu Nabi Musa. Sebagian yang lain menyebut paman Nabi Musa. Tetapi, di dalam Alquran memang hanya disebut sebagai ''kaum Musa''. Tidak begitu jelas apakah dia paman atau sepupu Nabi Musa.

Qarun hidup di zaman Firaun Ramses II sebagaimana juga Musa. Meskipun Qarun mengaku mengikuti agama Musa, dia justru sangat dekat dengan Ramses II yang memusuhi Rasul Allah itu. Bahkan, dia memperoleh penghasilan besar dari posisinya yang mendua. Ramses memanfaatkan Qarun untuk menjadi mata-mata dan pengendali Bani Israil agar tidak berbuat macam-macam yang bisa membahayakan kedudukan Firaun.

Sebagaimana kita ketahui, Bani Israil adalah bangsa pendatang di Mesir. Mereka datang ke negeri Firaun itu pada zaman Nabi Yusuf, sekitar abad 17 SM. Mereka memperoleh izin tinggal di Mesir karena penguasa saat itu adalah bangsa Hyksos yang secara emosional dekat dengan penduduk Palestina, Bani Israil. Namun, seiring dengan jatuhnya kekuasaan Hyksos ke tangan Firaun lagi di zaman New Kingdom, bangsa Israil menjadi bangsa kelas dua yang sering dianiaya Firaun. Banyak di antara mereka yang dijadikan budak dan ''pekerja paksa'' untuk membangun proyek-proyek Firaun. Sampai kelak dibebaskan oleh Nabi Musa, dengan cara eksodus ke Palestina kembali.

Qarun memainkan peran sebagai orang munafik, yang bekerja untuk kepentingan Ramses II. Karena itu, sebagian besar kaumnya sangat membenci dia. Tetapi, Qarun memiliki harta berlimpah ruah karenanya. Kekayaan Qarun digambarkan sangat fantastis. Dia sering pamer kekayaan kepada kaumnya yang miskin. Dia juga memiliki sejumlah pengikut, para penjilat penguasa.

Musa tak bosan-bosannya mengingatkan Qarun agar membagikan sebagian kekayaan kepada kaumnya dalam bentuk zakat. Bukan malah pamer kekayaan. Tetapi, kesombongan Qarun justru semakin menjadi. Dia kumpulkan seluruh harta bendanya untuk diarak keliling Kota Fayoum. Dia kerahkan puluhan kuda dan unta serta ratusan laki-laki dan perempuan semata-mata untuk pamer kekayaan.

Maka, Allah pun memberikan pelajaran dengan menghancurkan kekayaan Qarun di depan penduduk Fayoum. Istananya ditenggelamkan ke dalam perut bumi beserta segala isinya. Tanpa bekas, kecuali nama perkampungan Qarun, Danau Qarun, dan Qasr Qarun atau Istana Qarun.

Mengenai Istana Qarun terjadi pro dan kontra. Kami penasaran untuk menelusurinya. Kami sempat mendatangi sebuah reruntuhan bangunan yang disebut-sebut sebagai Istana Qarun. Lokasinya di dekat permukiman penduduk Desa Qarun. Kini sedang digali kembali oleh pemerintah bekerja sama dengan sejumlah arkeolog mancanegara. Tetapi, sejauh yang saya telusuri, bangunan bergaya Romawi itu bukan Istana Qarun, melainkan kuil peribadatan zaman Yunani-Romawi. Kuil itu dipersembahkan kepada Dewa Sobek alias Dewa Buaya yang menghuni Danau Qarun. Karena itu, di dalamnya ada patung manusia berkepala buaya sebagai ikon utama.

Kawasan Danau Qarun dan Fayoum yang subur memang pernah menjadi lumbung pangan bagi bangsa Romawi ketika menduduki Mesir. Mereka membangun markas tentara, permukiman, dan kuil-kuil di sana. Bahkan, juga vila-vila di pinggir danau. Tetapi, seiring dengan runtuhnya kekuasaan Romawi di Mesir, kawasan itu runtuh juga. Sebagian masih tertinggal jejaknya dalam bentuk reruntuhan, termasuk kuil Dewa Sobek yang dikira sebagai Istana Qarun.

Sedangkan Istana Qarun yang sesungguhnya berada di tepi danau, tapi kini tidak terlihat bekasnya lagi, karena ditenggelamkan oleh Allah, sebagaimana diceritakan dalam Alquran. ''Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (diri)'' (QS.28: 81).

***

Benarkah Istana Qarun dibenamkan Allah di sekitar Danau Qarun? Penelusuran geologis menunjukkan adanya kemungkinan besar di situ. Sebab, kawasan ini ternyata kawasan labil berupa patahan lempeng bumi yang pernah mengalami penurunan. Dan, itu terjadi sejak jutaan tahun lalu.

Karena itu, posisi Danau Qarun lebih rendah daripada permukaan air laut, sejauh 45 meter. Air danau itu agak asin karena mengalami penguapan terus-menerus, tanpa bisa mengalir untuk berganti air. Di zaman Nabi Yusuf, Kota Fayoum menjadi kawasan pertanian yang subur dengan cara mengalirkan air Sungai Nil yang berjarak sekitar 100 km di timur danau. Tetapi, aliran airnya justru mengarah ke barat, masuk ke Danau Qarun. Ini karena posisi danau itu memang lebih rendah daripada Sungai Nil.

Di zaman Qarun, kawasan ini mengalami gempa karena pergerakan patahan lempeng bumi. Akibatnya, Istana Qarun yang berada di tepi danau pun runtuh karenanya. Istana itu tenggelam beserta isinya ke dalam perut bumi. Sejak itu kawasan Danau Qarun menjadi lebih besar daripada sebelumnya. Kini, danau tersebut memiliki panjang sekitar 40 km membentang dari timur ke barat, dengan lebar sekitar 10 km.

Bagian utara-barat danau adalah perbukitan Jabbal Qatrani dengan ketinggian 350 meter. Sedangkan bagian selatan-timur adalah dataran rendah, puluhan meter di bawah permukaan laut. Di bagian yang runtuh inilah terbentuk danau dan menjadi tandon air bagi daerah sekitarnya.

Pada zaman Ramses II, Qarun memperoleh hadiah rumah di kawasan tepi danau. Bahkan, sebagian sumber mengatakan kawasan ini memang dihadiahkan kepada Qarun, sehingga danau dan desa yang ada di situ dinamai nama Qarun.

Allah memberikan pelajaran dengan banyak cara dan peristiwa. Pada dasarnya Allah ingin mengingatkan manusia agar memahami hukum alam yang sudah digelar-Nya; bahwa kebaikan akan berbalas kebaikan dan kejahatan akan berbalas kejahatan.

''Maka masing-masing Kami azab disebabkan oleh dosanya sendiri. Di antaranya ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu, dan di antaranya ada yang ditimpa suara menggelegar, dan di antaranya ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antaranya ada yang Kami tenggelamkan. Dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri'' (QS. 29: 40). (bersambung/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 25 AUGUST 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=152078

Dahshur, Piramida Bengkok yang Gagal

DARI kawasan Sakkara kami melanjutkan perjalanan ke Dahshur, yang sebenarnya lebih dekat dari Kota Fayoum. Tapi, kami sengaja mengunjunginya setelah dari Sakkara, karena Sakkara adalah piramida yang paling awal dibangun di zaman Mesir kuno. Piramida Dahshur dibangun setelahnya. Saya ingin merasakan proses yang berlangsung di zaman itu.

Kawasan Dahshur lebih sepi dibanding Sakkara. Demikian pula turis yang berkunjung ke kompleks piramida. Salah satu sebabnya, kawasan ini tidak sekaya Sakkara dalam hal peninggalan sejarah. Selain itu, Dahshur adalah kawasan militer, sehingga terkesan lebih angker dan tidak boleh sembarangan memasukinya. Tidak ada pedagang yang berani berjualan di sini. Di kawasan ini juga tidak ada persewaan kuda dan unta sebagai alat transportasi.

Namun beruntung, saya bisa ''menyewa'' unta milik polisi yang menjaga kompleks piramida ini untuk berkeliling kawasan. Saya harus naik unta karena cuaca di kompleks Dahsyur sangat terik, bermedan padang pasir yang luas. Bila melakukan eksplorasi dengan jalan kaki dalam keadaan puasa seperti sekarang ini, alangkah beratnya. Kami mungkin tidak tahan panasnya.

Sebenarnya, di Dahshur ada sebelas piramida yang dibangun pada zaman dinasti ke-4 sampai ke-12. Tetapi, yang utuh tinggal dua buah, yaitu Piramida Snefru Bent dan Red Piramid. Selebihnya sudah runtuh menjadi gundukan pasir dan bebatuan lapuk. Ini menunjukkan betapa tidak mudah membangun sebuah piramida yang bisa bertahan ribuan tahun.

Kompleks Dahshur memang lebih kecil dibandingkan dengan Sakkara. Areanya hanya membentang sepanjang 4 km. Bandingkan dengan Sakkara yang 7 km. Tetapi, yang menarik dari kawasan Dahshur adalah nilai sejarah pembuatan piramidanya. Inilah piramida kedua yang dibangun setelah piramida berjenjang di Sakkara. Maka, ada yang menyebut Piramida Dahshur sebagai piramida pertama yang berbentuk benar-benar piramida. Sebab, yang di Sakkara tidak berbentuk piramida murni, melainkan seperti sebuah bangunan bertingkat yang bertumpuk mengerucut.

Berdasar pengalaman Piramida Sakkara yang dibangun dinasti sebelumnya itulah, Raja Snefru (2613-2589 SM) membangun bentuk piramida yang lebih sempurna. Maka, dia memerintahkan para arsitek terbaiknya untuk merancang sebentuk piramida yang utuh. Sayang, kemiringan piramida itu terlalu terjal, yaitu 54 derajat. Dengan demikian, saat dibangun, para pekerja kesulitan merealisasikan bagian atas bangunan. Para arsitek kemudian mengubah sudut kemiringannya menjadi 43 derajat.

Namun, setelah jadi, ternyata piramida itu terlihat jelek. Bangunan piramida terlihat bengkok di bagian atasnya. Karena itu, sampai sekarang banyak yang menyebut Piramida Dahshur yang memiliki tinggi 105 meter sebagai Piramida Bengkok. Atau, ada juga yang menyebutnya Piramida Snefru-Bent.

Tentu saja, Raja Snefru tidak puas melihat hasilnya seperti itu. Dia kemudian memerintahkan untuk membangun kembali sebuah piramida yang lebih sempurna. Padahal, sebelum membangun Piramida Bengkok itu Snefru sudah bereksperimen dengan Piramida Maydum, yang terletak di kawasan lebih selatan dari kompleks Dahshur. Itulah piramida yang dibangun ayahnya, Firaun Sanakhit, di generasi sebelumnya. Dia bersama tim arsiteknya mengotak-atik Piramida Maydum sehingga mengalami kerusakan di sana-sini. Tetapi, Piramida Maydum memang masih mirip dengan Sakkara yang bentuknya berjenjang seperti anak tangga.

Akhirnya, Snefru tidak mau menggunakan Piramida Bengkok itu sebagai bakal makamnya. Dia bahkan membiarkan serta mengosongkan tanpa pernah memanfaatkan piramida itu. Dia lantas memerintahkan para arsitek membuat piramida lagi di kawasan yang sama, hanya berjarak sekitar 2 km dari Piramida Bengkok. Jadilah piramida yang kedua lebih sempurna. Namanya Red Pyramid yang dibuat dari bebatuan berwarna agak kemerahan. Di dalam ruang piramida itu terdapat grafiti menggunakan cat merah.

Selain desain konstruksi yang benar, pemilihan jenis batu sebagai bahan pembuatan piramida juga membawa pengaruh yang besar bagi ketahanannya dalam jangka panjang.

Bersamaan dengan pembuatan piramida kedua itu, Snefru membangun piramida yang lebih kecil untuk istrinya. Posisinya di sebelah Piramida Merah. Tetapi, kini kondisi piramida itu sudah banyak yang rusak.

Yang juga menarik, Raja Snefru ternyata adalah bapak dari Cheops yang membangun piramida paling terkenal di dunia, sehingga masuk sebagai salah satu bangunan keajaiban dunia, yaitu piramida di kawasan Giza. Snefru juga kakek dari Chepren yang membangun piramida selanjutnya di kompleks Giza yang terkenal itu. Di sana ada tiga piramida yang dibangun oleh keturunan Snefru.

Pengalaman Snefru menjadi pelajaran berharga bagi anak-cucunya untuk membangun kompleks Piramida Giza. Bukan hanya bentuknya yang sempurna, melainkan juga bebatuan yang menjadi bahan bakunya lebih kuat. Bila Piramida Snefru memiliki ketinggian 105 meter, yang dibangun anaknya di Giza lebih tinggi lagi, yakni 146 meter. Piramida anaknya juga bisa bertahan sampai kini meski sudah berumur lebih dari 5.000 tahun. Sayang, benda-benda berharga di dalamnya sudah lenyap. Termasuk muminya. Lagi-lagi karena ulah para pencuri kuburan Firaun!

* * *

Bekerja keras pantang putus asa dan mengambil pelajaran dari peristiwa sebelumnya adalah kunci sebuah keberhasilan. Tidak peduli apakah ia hanya mengejar kesuksesan duniawi ataupun ukhrawi. Bahkan, juga untuk sebuah kejahatan ataukah kebaikan.

Allah adalah Zat yang Maha Pemurah kepada siapa saja yang mau bekerja keras dan bekerja cerdas untuk mencapai tujuannya. Dia memberikan ''bantuan''-Nya berdasar sifat Maha Pemurahnya. Sebagaimana diceritakan-Nya dalam QS. 17: 18-21: Bahwa siapa saja bekerja sungguh-sungguh pasti akan mencapai tujuan. Tetapi, sambil mengingatkan bahwa kehidupan akhirat adalah tujuan utama yang harus diperjuangkan dengan sebenar-benarnya, karena akhirat adalah kehidupan yang jauh lebih berkualitas dibandingkan kehidupan dunia yang hanya sebentar.

''Untuk mencapai kesuksesan seperti ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja'' (QS. 37: 61).

''Maka apabila kamu telah selesai (mengerjakan suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (akan hasilnya) (QS. 94: 7-8). (bersambung/c2/ari)

JELAJAH SUNGAI NIL by AGUS MUSTOFA
JAWA POS, 27 AUGUST 2010
Source : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=152403