Selasa, 31 Agustus 2010

Habib Hasan Muhammad Baharun, Ulama Besar Asal Bondowoso Semasa Hidup

Saking Luasnya Pengetahuan Dijuluki Kamus Berjalan

Habib Hasan Muhammad Baharun, 95, salah satu ulama asal Bondowoso, telah meninggal dunia Sabtu malam kemarin (28/8). Habib Baharun termasuk habib tertua di Indonesia. Dia hidup di enam generasi, mulai dari zaman Belanda, Jepang, Kemerdekaan RI, Orla, Orba, hingga era Reformasi. Bagaimana kiprahnya semasa hidup?

Eko Gugah Saputro, Bondowoso

---

RIBUAN warga yang bertakziah, tampak menyemut di sebuah tanah lapang di depan rumah Habib Hasan Muhammad Baharun, 95, di Kampung Arab, Kelurahan Kademangan, Kecamatan Bondowoso, Minggu sore kemarin (29/8).

Habib Baharun, demikian masyarakat luas menyebutnya, telah wafat pada Sabtu malam di Rumah Sakit Daerah (RSD) dr Soebandi Jember. Habib Baharun meninggal dunia setelah mendapat perawatan intensif selama tiga pekan dari para dokter.

Saat prosesi pemakaman, tampak warga berebut mengusung keranda. Selanjutnya, para pentakziyah membawa jasad Habib Baharun ke Masjid Al Awwabin, yang jaraknya sekitar 300 meter dari rumah Habib Baharun untuk disalati. Bahkan, tampak putra sulung Habib Baharun, yaitu Prof Dr Muhammad Bin Hasan Baharun, yang notabene adalah Rektor Unas Bandung, memberikan kata sambutan. Termasuk, Bupati Bondowoso Amin Said Husni memberikan sepatah dua patah kata.

"Kita telah kehilangan ulama besar, yang levelnya bukan saja nasional. Tetapi, levelnya sudah bertaraf internasional," kata Prof Dr Muhammad Bin Hasan Baharun kepada para jamaah yang memadati ruangan Masjid Al Awwabin.

Selanjutnya, Prof Dr Muhammad Bin Hasan Baharun menjelaskan, jika ayahandanya dalam mendidik anak-anaknya tidak pernah emosional. "Abah saya, tidak pernah marah-marah. Beliau sangat sabar sekali," katanya.

Bahkan, kata Prof Dr Muhammad Bin Hasan Baharun, meski dirinya bergelar professor dan doktor, jika dibandingkan dengan kekayaan intelektual ayahandanya, dirinya tidak berarti apa-apa. Ayahandanya juga hidup dalam kesederhanaan. "Tidak punya kekayaan material atau duniawi. Beliau hidup sederhana sekali," katanya. Oleh sebab itu, masyarakat merasakan kehilangan yang sangat besar.

Sementara itu, para murid Habib Hasan Muhammad Baharun, yaitu KH Maksum TR dan KH Muis TR menyatakan sangat kehilangan gurunya itu. "Beliau itu merupakan maha guru para ulama," kata KH Maksum TR kepada RJ. Bahkan, kata KH Maksum TR, ulama besar asal Saudi Arabia, yang juga merupakan gurunya, yaitu (alm) Sayyid Al Maliki menyatakan, bahwa Hasan Muhammad Baharun adalah kamus berjalan. "Sebab, beliau itu memang sangat luas pengetahuan agamanya," katanya.

Selanjutnya, KH Maksum menyatakan, sejak usia 15 tahun, Habib Hasan Muhammad Baharun mengajar di Gresik, Surabaya, kemudian ke Bangil, Banyuwangi, dan Bondowoso. Habib Hasan Muhammad Baharun merupakan pakar bahasa atau sastra Arab, ahli tafsir, dan ushul fiqih.

"Juga, pernah sebagai dosen luar biasa Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI), dan penasehat Rabithah Huffad Indonesia Pusat," katanya. (*)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar